Adek Gue BAD

Adek Gue BAD
74. Laki-Laki itu ....


Lamunannya buyar, sesuatu dalam perutnya mendesak ingin keluar. Gadis itu segera berlari ke kamar mandi, memuntahkan cairan di wastafel. Setelah ia mengeluarkan segala yang ingin dimuntahkan, tangannya menengadah, menampung air dari wastafel, kemudian menggunakannya untuk berkumur. Beberapa kali ia melakukan itu, karena setelah ia membasuh mulutnya, cairan itu mendesak keluar kembali. Pusing seketika menderanya, setelah semua isi perut itu keluar.


Zahra keluar dengan tubuh sempoyongan, kepalanya kembali berdenyut setelah memikirkan penghianat itu. Bertahun-tahun ia berusaha mencari, ternyata sosok yang dicarinya ialah orang yang tak asing baginya. Bagaimana dia melakukan itu? Apa dirinya sudah tak dianggapnya keluarga? Apa dia melupakan dirinya dan telah menemukan keluarga baru di luar sana?


Zahra kembali menyeka kristal bening yang terjatuh, sebelah tangannya berpegangan pada tembok dan satunya memegangi kepalanya. Tubuhnya terasa lemas, sepertinya ia benar-benar memuntahkan semua makanan yang dikonsumsinya kemarin. Terakhir makan berat saat di kampus, makan siang yang hanya satu porsi mie ayam.


Ia berjalan ke meja, mencoba duduk tegak di depan meja riasnya, tubuhnya seperti ingin terjungkal ketika ia melepaskan pegangannya. Tangannya membuka laci, mencari benda pipih yang jarang ia gunakan. Setelah menemukan benda pipih itu, ia menghidupkan dayanya. Layar itu menyala. Ia segera mencari kontak bawahannya, menyuruhnya ke kamar.


"Cepatlah! Rasanya saya mau pingsan."


Zahra kembali meletakkan benda pipih gold itu, ia berdiri, kembali merebahkan diri di ranjang.


Knop pintu berputar, menandakan seseorang yang mencoba masuk. Pemuda dengan jaket kulit itu segera menghampiri gadis yang terbaring lemas di ranjang king size di depannya.


"Nona, maaf tidak sopan. Apa yang nona inginkan?" Ia berdiri di sebelah ranjang, menatap bos kecilnya.


"Bantu saya ke bawah Xav, kepalaku bendenyut nyeri. Dan suruh maid untuk membuatkan sup, rasanya efek alkohol itu masih ada."


Xavier mengangguk, membantu Zahra bangun, kemudian menggendongnya menuruni tangga. Mendudukkan gadis itu di kursi meja makan. "Buatkan nona kalian sup!" perintahnya pada maid yang sedang memasak.


Maid itu menunduk. "Baik, Tuan Xavi."


Xavier duduk di samping Zahra, menemani gadis itu.


"Xav, apa mereka telah mengetahui tempat ini?" Zahra menghadap Xavier, ia belum sanggup menegakkan kepalanya, oleh sebab itu ia menidurkan kepalanya di atas meja.


"Sepertinya belum nona, tapi saya rasa Tuan Deva merahasiakannya dari mereka."


"Hmm, saya tidak mau mereka tau tempat ini. Ini persembunyian saya, jadi berhati-hatilah saat ingin kembali."


"Baik, Nona."


Zahra memejamkan matanya, menunggu makanan sambil mencoba tidur. Ia sangat tidak berharap mata-mata ayahnya mengetahui tempat ini. Apalagi Putra, tidak-tidak. Ia tidak mau. Bisa-bisa laki-laki itu membocorkan tempat rahasianya. Dia saja tidak bisa menepati janjinya.


Lebih baik ia di sini dari pada pulang, pasti mereka datang ke rumahnya. Ia masih malas, lebih tepatnya tidak sudi menemui mereka.


"Seharusnya saya melarang Alfian membawa nona kemarin malam. Alkohol yang nona konsumsi melebihi batas pemakaian normal."


Dengan mata tertutup, Zahra menjawab, "Tidak apa Xav, itu sedikit membantu melupakan kejadian semalam. Jangan menyalahkan Alfian dan dirimu sendiri."


Salah satu maid mendekat, membawakan satu mangkuk sup jamur untuk nonanya. "Silahkan, Nona. Supnya sudah matang."


"Hhh, iya. Terimakasih."


Zahra menegakkan tubuhnya kembali, bersandar pada sandaran kursi. Gadis itu mengisyaratkan Xavier untuk menyuapinya.


Pemuda yang tampak seumuran dengan Rio itu segera meraih mangkuk yang berada di depan nonanya. Menyendoknya, lalu menyuapkan pada nonanya.


Mansion yang kini ditempati Zahra ialah mansion pribadi milik gadis itu. Bayaran pertamanya dari meretas data orang lain. Hanya satu juta saat itu, kemudian ia kumpulkan terus hingga mencapai targetnya. Ia membeli lahan sejumlah dua belas hektare, menyulapnya menjadi mansion megah. Tak kalah megah dari mansion Ario dan mansion Rizki. Lebih megah mansion miliknya. Tetap dengan dua lantai, karena ia tidak suka dengan adanya lantai tiga.


Di mansion inilah anak buah pribadinya tinggal, beserta lima maid yang membersihkan tempat ini.


Suapan terakhir dari Xavier menutup makan paginya. Ternyata ia salah, laki-laki di depannya malah menyuapkan sandwich dan tiga potong risoles. Setelah semua itu berhasil masuk ke mulut Zahra, Xavier menyuruh salah satu maid mengambil obat milik Zahra.


Pagi tadi, sebelum Zahra bangun, Xavier telah memanggil dokter untuk mengecek keadaan nonanya.


Tiga butir obat ada di depannya, ia mengambil satu per satu obat itu dari tangan Xavier, kemudian menelannya dengan bantuan air putih.


Setelah selesai, Xavier membantu Zahra kembali ke kamar. Membaringkan gadis itu lalu menyelimutinya dengan selimut dari bed cover Upin Ipin.


"Xav, urus semuanya dengan Elvin. Saya tidak mau diganggu hari ini dan tetap temukan kalung itu."


"Baik, Nona. Saya permisi."


...***...


Dua orang pria tengah berdiskusi di kamar dengan nuansa dark blue. Salah satunya duduk bersila dengan memangku laptop dan satunya tengah tengkurap di samping pria berkaus hijau.


Rumah yang mereka huni terasa senyap ketika salah satu dari mereka menghilang. Biasanya, kasur king size ini menjadi saksi kebersamaan mereka.


"Ayo bang, putar rekamannya."


Pria berkaus hijau itu mulai menggerakkan kursor ke arah ikon segitiga. Mengekliknya kemudian. Video mulai berputar, terlihat seorang gadis dengan tampilan compang camping tengah memasuki salah satu club ternama di daerah mereka. Gadis itu berhenti di depan pintu masuk, menunjukkan hak masuknya.


Ini adalah CCTV yang terpasang di atas jalanan. Biasanya digunakan untuk menyelidiki penjahat atau orang lain. Sebagai bukti kejahatan.


Video itu terus dipercepat hingga tiga jam, mereka melihat orang yang mereka cari tengah berlarian keluar dengan terus menyeka wajahnya. Seperti dikejar seseorang.


Tak lama dua orang yang mengejarnya muncul, mereka terlibat perdebatan sengit. Rio sepertinya mengenal salah satu dari mereka.


Sosok lain muncul dari dalam club, bergerak mendekati Zahra. Adiknya menghentikan perdebatan, tangannya meraih tangan orang yang baru datang itu, mengajaknya pergi.


Mobil dengan warna hitam mengkilap menghampiri Zahra dan laki-laki itu, keduanya melangkah masuk. Sementara dua orang tadi memukul-mukul kaca mobil, sepertinya meminta penumpangnya untuk kembali turun.


Rio mengarahkan kursor untuk mem-pause video tersebut. Ia menoleh pada laki-laki yang masih menatap laptop yang dipangkuannya. "Menurut lo, ini club daerah mana?"


Rizki mendongak, mengalihkan tatapan dari laptop. Tangan sebelahnya menunjuk. "Itu, kayaknya club yang ada di ujung kompleks deh. Ga mungkin Zahra pergi jauh dengan jalan kaki."


"Lo bener." Rio kembali menggerakkan kursor, kali ini ia membuka video lain yang ada di laptop itu. "Robby kirim dua video, kayaknya ini tujuan mobil yang ditumpangi Zahra tadi."


Rio memainkan video itu, sepertinya ini akhir video. Seorang gadis dengan rambut berantakan tengah dipapah keluar oleh orang yang membawa Zahra tadi. Gadis itu sepertinya mabuk berat, kali ini dia meracau, kemudian menangis tiba-tiba.


Pria lain menghampiri keduanya, pria itu merebut Zahra—membogem wajah pria yang tadi memapah adiknya. Pria dengan jambul itu sepertinya mengancam orang berkaus panjang hitam—orang yang tadi bersama Zahra.


Sementara Zahra terus meracau, tak lama gadis itu berlari. Membungkukkan badan, mengeluarkan isi perut, sementara pria tadi memijat tengkuk Zahra. Setelah selesai, gadis itu kembali menegakkan badan. Tubuhnya terhuyung, orang yang berada di belakangnya dengan cepat menangkap tubuh itu sebelum jatuh tersungkur.


Pria berjambul itu menggendong Zahra brydal style, lalu memasukkannya ke dalam mobil beserta dirinya. Pria yang bersama Zahra tadi juga masuk mobil yang sama, mereka menghilang, berbaur dengan kendaraan lainnya.


"Siapa mereka itu? Kenapa, sepertinya sangat dekat dengan Zahra?"


"Kayaknya, kita minta penjelasan dari Putra dulu sebelum mencari tau tentang mereka dan gue penasaran banget sama cewek yang sama Putra. Kayaknya Zahra benci sama cewek itu." Rizki merubah posisinya, duduk selonjoran dengan tangan menyangga tubuhnya di belakang.


"Lo urus Putra, gue akan suruh Robby buat cari tau dua orang itu dan cari tau tentang mobil yang membawa mereka. Gue udah catat nomor platnya."


Rizki membenahi posisinya. Kedua pria itu mengambil handphone masing-masing.


...***...


Hari kedua pencarian Zahra.


Dua mobil datang bersamaan dan hampir saling menabrak. Kedua pengendara itu keluar dengan pesona masing-masing. Melangkah bersamaan ke dalam rumah yang menjadi tempat tinggal tuan mereka.


Beberapa bodyguard menyingkir, membiarkan keduanya masuk. Setelah sampai di mana mereka sering melakukan pembicaraan, keduanya menemukan sepasang suami istri yang asik dengan kue bolu di depan mereka.


Pemuda dengan kemeja kotak-kotak itu teringat akan gadisnya yang senang sekali memakan bolu.


"Duduklah kalian, jangan menampakkan wajah mupeng itu. Kalau kalian mau, ambil saja di kulkas!" Pria yang tengah disuapi istrinya itu membuka suara, menatap keduanya dengan alis terangkat. "Ada apa kalian ke sini? Aku tidak sedang memanggil kalian."


"Begini om, apa om tau kalau Zahra hilang? Dia sudah dua hari tidak pulang, kami mengkhawatirkannya," ungkap pemuda dengan kaus marun itu.


Pria itu terkekeh ringan, membenarkan posisinya yang kurang baik di depan kedua tamu yang tidak diundang ini. "Bukannya kamu salah satu penyebab dia pergi, untuk apa mengkhawatirkannya? Dia sudah nyaman di tempat barunya, jadi kamu jangan mengacau. Dan siapa wanita yang bersamamu malam itu? Kalian terlihat mesra."


Putra menjadi sedikit salah tingkah, sial, ia ketahuan oleh pria di depannya ini. Sementara Devan hanya menjadi pendengar, ia tidak terlalu mengerti apa yang mereka bicarakan.


Putra menetralkan wajahnya, menghirup napas sebelum akhirnya menjawab, "Dia Raisha Rifandi, anak tiri Om Deva."


Pria itu tersedak salivanya, sang istri langsung menyodorkan segelas air, yang langsung diterimanya dengan senang. "Kamu bercanda, Boy? Anak itu masih hidup?" tanyanya dengan sedikit tak percaya.


"E–iya, Raisha masih hidup. Dia mengganti identitasnya setiba di Jakarta. Tinggal dengan suami-istri miskin di pinggiran Jakarta timur, orangtua angkatnya mewariskan hutang bermiliar-miliar." Putra ragu untuk melanjutkan kalimatnya, tapi sepertinya pria di depannya ini sangat menunggu dirinya melanjutkan cerita. "Untuk memenuhi hutang tersebut, Raisha memutuskan untuk—maaf, menjual dirinya dan memutuskan untuk membuat tempat prostitusi sendiri."


"Putra, jadi selama ini lo tau kalau Raisha itu masih ada? Kenapa lo ga kasih tau Zahra, dia bertahun-tahun nyariin Raisha." Devan tercengang dengan penjelasan yang Putra paparkan.


"Bukan gitu Van, gue juga baru tau kalau Raisha masih hidup. Dia ngakuin ke gue secara terpaksa, dia terlihat putus asa. Lo tau Naysha, mantan gue? Dia itu Raisha."


Devan membulatkan matanya, pemuda itu menjadi terdiam. Sementara pria tadi meraup kasar wajahnya. "Astaga, apa yang kamu lakukan, Nak?" gumamnya lirih.


Deron memeluk pinggang istrinya, anaknya menjadi wanita penghibur? Bagaimana ia nanti meminta maaf pada Johan, karena telah membiarkan gadis itu bersusah payah sendiri. Jatuh dalam lubang kehinaan.


Nama yang dicurigainya sejak lama, nama yang mempunyai kemiripan sendiri dengan sang anak. Harusnya ia menyelidiki gadis itu sejak awal, padahal secara fisik, gadis itu sangat mirip dengan Raisha. Ia mencari kekuatan melalui istrinya, mencium pipinya sekilas.


"Kamu harus membawanya pulang Putra! Bawa ke mansion Ario, biar gadis itu mendapatkan tempat yang layak di keluarga barunya. Kamu tidak bisa terus-terusan menghindar dari putraku, bawalah Raisha bersamamu. Jelaskan semuanya!" Deron berucap tegas. Memangnya pemuda di depannya ini bisa menyembunyikan sesuatu darinya? Heii, sangat kecil kemungkinan itu terjadi.


"Benar kata Mas Deva, kamu harus bawa Raisha ke mansion. Bilang juga untuk tidak menghawatirkan Zahra, anak itu akan kembali jika memang sudah selesai dengan urusannya. Tapi, jika sampai lusa belum kembali—aku ingin kamu, Devan untuk menjemputnya."


Devan terlihat ragu, bagaimana mungkin? Tempat persembunyian Zahra saja ia tidak tahu-menahu, kenapa nyonya besar ini menyuruh dirinya menjemput sesuatu yang tak pasti.


"Tapi tante, saya tidak tau keberadaan Zahra saat ini. Dia hilang begitu saja saat kabut asap membawanya."


Pandangan Deron beralih pada pemuda berkemeja itu. Ia menyunggingkan senyum kecil. "Kalau kamu serius dengan putriku, temukan tempat persembunyiannya. Itu akan mempermudahmu untuk mendapatkan restuku."


Wanita dengan baju kedodoran, yang sepertinya milik suaminya—itu tampak sangat sexy. Bibir pink menempel di pipi suaminya yang sudah tak selicin dulu. "Berbincanglah kalian, aku akan menyiapkan makan siang." Wanita itu beranjak, meninggalkan ketiga orang yang masih berhadapan santai tersebut.


"Jadi Devan, cepat atau lambat, Zahra pasti akan mencurigaimu. Jadi persiapkan dirimu dan bersiaplah. Jangan sampai kamu dicekik oleh putriku, teman di sebelahmu itu sudah berpengalaman. Jadi, lebih baik kamu konsultasi dengan Putra." Deron terkekeh pelan mendapati ekspresi melongo Devan, sedangkan pemuda di sampingnya mendengkus sebal.


"Jika boleh, apa saya bisa membalas perbuatan anak Anda Tuan Deva? Iblis itu terlihat polos dan tak berdosa setelah melakukan kejahatan," tanya Putra dengan alis terangkat. Percayalah! Ia serius ingin membalas cekikan Zahra waktu itu.


Deron menelan bolunya. Sudut bibirnya kembali tertarik ke atas, merasa terhibur oleh ucapan pemuda di depannya. "Lakukan boy, tapi jangan salah kan aku saat kedua putraku menghabisimu. Jangan sampai ada kasus seperti ini, 'Pemuda yang tak terima dicekik oleh mantan kekasihnya saat masih pacaran—saat sudah menjadi mantan, pemuda ini ingin balas mencekik mantan kekasihnya. Yang akhirnya tewas mengenaskan di tangan saudara mantan kekasih.'"


Devan terkekeh pelan. "Astaga, sinetron banget, Om." Ia meninju pelan lengan Putra. "Pasti langsung viral tuh, lo pasti kebanjiran endors habis itu."


"Sialan lo, Van!"


Keduanya tertawa, Putra pura-pura mengabaikan mereka dengan sibuk memainkan salah satu media sosialnya.