
Saat ini, Zahra sedang berjalan mengelilingi area kampus dengan berjalan kaki, lumayan, sekalian olahraga. Kedua temannya sedang ada kelas, jadi untuk menghilangkan kegabutannya, ia memilih jalan-jalan.
Kaki jenjang miliknya menuntun untuk menapaki sebuah ruangan besar yang sering dipakai untuk pertemuan-pertemuan penting jika ada acara di kampus.
Entah kenapa ia ingin memasuki gudang, tempat peralatan sound system tertata rapi di sana.
Ruangan itu kecil, kira-kira berukuran 5×5 meter. Sebagian ruangan itu diisi dengan peralatan sound system, lalu sebagiannya ada dua matras yang berjejer rapi di sana.
Zahra membuka pintu gudang itu perlahan, matanya terkejut ketika mendapati seorang ada di dalam. Seseorang itu memandang kosong jendela dengan earphone yang menancap di telinganya.
Zahra menutup pintu itu perlahan, ia mendekati seseorang yang termenung di sudut matras dan menyentuh bahunya.
Seseorang itu terkesiap lalu berbalik badan. Mata mereka beradu, mereka mengenal satu sama lain.
"Ina ...."
"Ngapain lo di sini?" tanya Ina ketus.
"Menghabiskan waktu, maybe. Lah lo sendiri ngapain di sini, sendirian pula. Kesambet tau rasa lo!"
Ina tersenyum sinis. "Ga ada yang peduli sama gue. Semua orang tau busuknya gue!"
Zahra mengernyit bingung, menggeser tempat duduknya agar lebih dekat dengan Ina. "Lah? Kenapa?"
"Lo pura-pura bego apa gimana, si? Lo mau ngejek gue!" sentak Ina kesal. Apa benar jika gadis yang dibelakangnya itu tidak mengerti berita teratas Merpati Putih hari ini?
"Wait-wait, gue ga paham maksud lo!"
"Hee? Naif lo! Bilang aja mau ngejek gue. Semua orang tau kalau gue jahat, semuanya juga tau kalau gue bukan cewek baik-baik. Bahkan mereka juga tau aib gue. Lo pura-pura bego, apa emang lo pengen gue ngaku dihadapan lo?" Ina berteriak, mengutarakan amarahnya pada Zahra, sekalian saja.
Zahra memang tahu jika anak-anak Merpati Putih tengah membicarakan Ina, tapi gadis itu tidak tahu apa yang mereka bicarakan. Karena menurutnya, gosip itu murahan, tidak penting.
"Gue ga tau apa-apa. Lo mau cerita sama gue?" tawar Zahra, berharap Ina bisa sedikit terbuka dan menceritakan apa yang sebenarnya terjadi.
"Lo bukan siapa-siapa, jadi ga usah sok peduli."
"Gue emang peduli. Kita sahabatan, lo ingat! Sahabat ga akan ninggalin temennya dalam keadaan apa pun, begitu pun gue. Lo selalu ada saat gue butuh lo dulu dan sekarang gantian gue yang ada di posisi lo dulu.
Gue ga menentang kalau yang dikatakan mereka bener apa salah, tapi gue mau denger dari mulut sahabat gue sendiri. Hey, we are bad girl. Kita ga peduli omongan orang. Ini hidup kita, kita yang jalanin. Hidup mereka aja belum tentu bener, jadi apa pantes mereka nyacatin lo?" Zahra memandang punggung Ina sendu, gadis di depannya terdiam cukup lama. Perlahan, Ina berbalik badan—menatap Zahra yang masih setia menunggu.
"Gue terlalu muna sama diri gue sendiri, Ra! Gue terlalu berambisi buat dapetin sesuatu hingga ga sadar kalau langkah yang gue tempuh itu salah. Gue merelakan sesuatu yang berharga buat menuhin ambisi gue. Gue ga sadar kalau harga diri gue udah hilang, gue hina sekarang! Tapi gue ga tau kalau ada orang yang dengan tega ngumbar aib gue, di sosmed lagi."
Perlahan air mata yang sudah Ina tahan jatuh juga, gadis dengan rambut tosca tersebut terisak pelan. Zahra segera menarik sahabatnya ke pelukan. Ia memang kesal dengan perbuatan jahat sahabatnya ini, ia juga pernah dirugikan. Sampai-sampai, ah sudahlah. Biarkan yang itu berlalu.
Tapi dia tidak habis pikir dengan orang yang dengan bangganya mengumbar aib sahabatnya. Seburuk buruk orang pasti ia tidak mau jika aibnya tersebar. Tapi ini, seseorang yang tidak diketahui identitasnya malah menyebarkan aib orang.
"Udah-udah, lo bisa cerita ke gue. Seberapa besar masalah lo, kalau lo mau berbagi itu bakalan bikin masalah lo seperti debu yang berterbangan. Kita peduli sama lo. Tapi kalau lo ga cerita ke kita, kita ga akan tau seperti apa masalah lo dan penyelesaiannya pun kita ga tau." Zahra mengusap punggung Ina pelan. Sahabatnya ini terlihat rapuh, tidak pernah ia melihat Ina serapuh ini.
"Sorry, gue ga bisa, Ra. Ini terlalu memalukan buat diceritain."
"Ya udah, kalau belum siap. Santai aja."
Ina melepas pelukannya, segera mengusap cairan bening yang masih tersisa di wajahnya. "Sorry, baju lo jadi basah."
"Ga masalah. Keluar yuk, lagian lo ngapain sih ke tempat sepi gini, bahaya tau ga!"
Ina tersenyum tipis. Bahkan lo masih peduli sama gue, padahal gue udah banyak buat salah sama lo, batinnya. Ina mengangguk. Zahra berdiri, kemudian mengulurkan tangannya pada Ina. Mereka berjalan bersama keluar dari gudang itu.
"Makasih," ucap Ina tulus.
"Dah, yuk. Gue anter ke toilet, muka lo lecek banget." Zahra mengandeng tangan sahabatnya yang terasa dingin, ia membawa Ina ke toilet gedung E, karena gedung itulah yang lokasinya berdekatan dengan aula.
Selama perjalanan ke toilet, banyak mahasiswa atau mahasiswi yang mengolok-olok Ina, tak jarang ada juga yang sengaja menyenggolnya. Tapi setelah Zahra menunjukkan ekspresi garangnya, mereka menyingkir sukarela. Ina sendiri memilih diam daripada memperpanjang masalah.
Mereka memasuki lorong toilet, banyak juga yang sedang mengantri. Ina memilih toilet dengan antrian paling sedikit. Sementara Zahra menunggunya di depan pintu.
Zahra mengeluarkan ponselnya dan mengirim pesan pada Xavier untuk mencari tahu siapa yang telah menyebarkan aib sahabatnya. Begitu ponsel Zahra masuk kantong kembali, Ina keluar dari toilet dengan wajah segar.
"Gitu dong, enak lihatnya. Ga lecek kayak tadi."
Ina terkekeh sebentar, kemudian menoleh pada Zahra. "Ha–ha, bisa aja lo. Anterin ke kantin yuk, laper nih gue."
"Yuk, lah."
Mereka berjalan ke kantin gedung E, Ina mendapatkan perlakuan sama seperti saat berjalan ke toilet tadi. Seperti tadi, gadis kardigan coklat tersebut kembali tak acuh.
"Maafin gue, ya, Ra. Gue banyak salah sama lo," ucap Ina sambil menunduk.
"Ga papa kok, gue udah maafin lo."
Ina menggaruk kepalanya. "Emm, gimana ya ngomongnya?"
"Se-sebanarnya gu-gue yang jadi dalang waktu itu, pas lo diculik sama Rizki. Gue minta maaf ya ...." Ina menyatukan kedua tangannya di depan dada, menghadap Zahra dengan rasa bersalah.
Zahra menggeleng, menurunkan tangan Ina, kembali mengajak melanjutkan perjalanan. Gadis itu terkekeh pelan, ia jadi geli sendiri. "Oh itu, udahlah lupain. Berkat lo juga sih, hubungan gue sama Rizki membaik."
Ina kembali menghentikan langkah. "Maksudnya gimana? Lo ga di apa-apain kan sama dia? Dia katanya pengen ngehancurin lo!" Gadis itu menatap Zahra yang berekspresi tenang.
Zahra menoleh pada Ina, tersenyum tipis, kemudian merangkul sahabatnya. "Tenang, gue ga papa kok. Awalnya dia pengan ngehancurin gue, tapi akhirnya dia lepasin gue. Dan gue ga nyangka kalau pertemuan itu bakal ngenalin gue ke seseorang yang harusnya masuk di hidup gue."
"Hah? Maksud lo?" Ina terkejut dengan pernyataan Zahra.
"Rizki itu ternyata abang gue. Ya meskipun bukan kandung sih, you know, paternal half siblings. Tapi, dia sama gue sama-sama sayang kok, jadi lo ga perlu khawatir."
Ina membuka mulutnya, terbengong sesaat. Setelah sadar, gadis itu buru-buru mengatupkan bibir—memandang Zahra bertanya. "Om Deron punya dua istri?" tanyanya tak percaya.
Zahra terkekeh pelan, tanpa sadar mereka sudah berada di kantin. Gadis itu melihat meja kosong yang dekat dengan stand minuman, menarik Ina ke tempat itu. Ina pasrah saja. Zahra menyuruhnya memesan makanan dulu sebelum ia melanjutkan cerita.
Ina kembali ke meja, memerhatikan Zahra yang sibuk dengan ponselnya. "Jadi gimana? Kepo gue."
Zahra menyudahi bermainnya, mengeluarkan tampilannya dari aplikasi chatting. "Iya, jadi papi gue itu emang bininya dua. Coba deh lo cari di internet, banyak banget artikelnya."
Mata Ina membulat, gadis itu mengangguk lalu membuka smartphone-nya. Mengetikkan beberapa kata di sana, setelah menemukan yang ia cari, Ina membuka salah satu situs dan membacanya.
"Gimana?" tanya Zahra setelah Ina meletakkan benda perseginya.
"Iya, baru tau gue kalau Om Deron istrinya dua. Tapi di situ, mereka itu punya satu anak doang, Bang Rio. Terus lo sama Rizki ke mana? Itu juga artikelnya teratas, otomatis artikel terakhir sebelum berita meninggalnya Om Deron." Ina termenung.
"Yahh, seperti itulah kehidupan. Bokap gue banyak banget musuhnya, jadi identitas gue sama Kak Rizki diprivasi."
Makanan yang dipesan Ina datang, Zahra mengehentikan aksi berceritanya—kembali pada ponsel yang menampilkan notifikasi. Ina memakan nasi kuningnya dengan tenang.
Ternyata yang mengirim pesan ialah Xavier, Zahra menerima bukti dan pelaku yang sudah menyebarkan aib sahabatnya.
Selesai makan, Zahra mengajak Ina untuk melanjutkan aksi gabutnya, kembali menjelajahi Merpati Putih.
Sepatu sneaker hitam putih tersebut berhenti di depan gedung B, Zahra menyeringai. Sedangkan gadis di sebelahnya menatap aneh.
"Gue mau nunjukin lo sesuatu?"
Ina menoleh, menyibakkan anak rambutnya yang menutupi penglihatan. "Apa?"
"Ayukk!
Mereka berjalan menelusuri koridor. Zahra mengedarkan pandangan—di ujung koridor, manik coklat itu menangkap sesuatu. Zahra menarik Ina pada dua muda mudi yang tengah asik bercanda.
Ada seorang gadis dan pemuda. Sang gadis duduk di pagar besi, sedangkan laki-lakinya berdiri di hadapan.
"Putra!"
Seseorang menyerukan nama laki-laki itu, ia menengok—mencari asal suara yang memanggilnya. "Zahra? Kenapa?"
Zahra tersenyum senang, berjalan lebih dekat pada Putra. "Ini nih, orang yang udah nyebarin aib lo," ucapnya pada Ina.
"Aib apaan? Itu fakta Ra, lo jangan terpengaruh sama cewek ular ini." Putra menunjuk Ina, sedangkan gadis itu mengalihkan pandangan.
"Tapi ga gitu caranya. Cara lo murahan!"
Zahra menampar pacarnya tanpa aba-aba. Putra terkesiap dan Una langsung turun, ia berdiri di samping Putra.
"Kok lo gampar gue? Lo pasti udah kemakan sama bualannya cewek ular ini, kan?"
Zahra mendorong Putra yang sedang menunjuk-nunjuk Ina. Mencengkeram kaus kekasihnya, menyisakan jarak hingga 5cm. Manik itu, menatap Putra dalam.
"Kenapa lo lakuin itu?"
"Karena dia udah nyakitin cewek yang gue sayang," jawab Putra cepat.
Zahra melepas cengkeramannya lalu mendorongnya kuat. Untung saja ditahan oleh Una, jika tidak—punggung Putra bisa cedera karena terpentok pagar besi tersebut.
"Lalu apa bedanya lo sama dia? Seburuk-buruk orang, dia ga akan mau kalau aibnya diketauhi sama orang banyak. Lo mau kalau aib lo gue sebar ke dia?" Zahra menunjuk pada gadis di sebelah Putra, "habis itu dia bakal jauhin lo, itu yang lo mau?"
Putra terdiam, mulutnya terkatup. Sulit rasanya menjawab pertanyaan Zahra yang satu ini.
"Ga bisa jawab kan lo? Gue tunggu 1×24 jam, kalau lo belum hapus postingan itu dan balikin nama baik Ina. Siap-siap lo bakal kehilangan dia." Zahra menunjuk Una lagi. "Ayo pergi!" Zahra menarik tangan Ina, meninggalkan Putra dan Una yang sama-sama membisu.
****
Yuk jejak like sama komennya...
Skuyyy,,, hujat aja si Putra mah