
"Atha ... Gery, ke sini kalian!" panggil pria paruh baya dari ruang tengah.
Dua orang pria berusia dua puluh empat tahun berjalan mendekat, lalu duduk berhadapan dengan pria paruh baya tersebut.
"Kenapa, Pah?" tanya pria dengan singlet hitam.
"Kita ambil gadis itu besok!" jawabnya.
"Tapi, Pah? Bagaimana dengan bodyguard yang selalu menjaganya? Atau kita habisi saja mereka semuanya?" tanya pria dengan kaus army.
"Ya, habisi semuanya. Besok kalian bawa pasukan, kita ke Merpati Putih. Ingat, kalian jangan menyerang Merpati Putih, yang kita serang dia. Kalau kita menimbulkan kekacauan, kita bisa gagal lagi membawanya. Serang dia saat sendiri, apalagi jika dia berada di tempat yang sepi. Itu lebih bagus lagi!"
"Iya, Pah. Besok kita berdua akan stay di Merpati Putih." Pria bersinglet itu tersenyum miring, di otaknya sudah tersusun rencana. Saatnya memanfaatkan obat itu.
"Istirahatlah kalian, siapkan tenaga untuk besok!"
"Iya, Pah. Kalau gitu kita ke kamar dulu," jawab pria satunya.
Pria paruh baya itu mengangguk menanggapi ucapan putranya. "Tunggu besok gadis manis. Aku akan mempertemukanmu dengan ibu sialanmu itu." Ia menyeringai sambil menatap sebuah foto. "Lihatlah, kak, satu per satu keluargamu akan habis di tanganku."
...****...
Saat ini Zahra dan Devan sedang berada di kelas, ruangan serba hijau itu tampak sepi. Oh jelas, kelas mereka sudah bubar dari sepuluh menit lalu, hanya saja keduanya masih ingin menikmati waktu berdua di kelas ini. Putra juga langsung pergi setelah kelas usai, entah ke mana. Tumben sekali pemuda itu tidak menunggui kedua temannya.
Devan berjalan ke arah pintu, menutupnya rapat. Zahra yang tampak tak acuh itu ternyata menatap pemuda itu aneh.
Devan mendatangi Zahra yang sejak tadi melakukan selfie di meja sudut. Untuk sesaat, manik coklatnya kembali memandang Devan, tetapi kemudian melanjutkan acara selfienya dengan berbagai gaya.
Devan menyingkirkan kursi lipat yang ada di depan Zahra. "Berdiri coba!"
"Ngapain?" Kening Zahra berkerut, masih memandang laki-laki itu penuh tanya.
Devan jongkok di depan Zahra, lalu melingkarkan tangan di pinggang gadisnya.
"Kamu ngapain, sih?" Zahra menunduk, menatap Devan yang bertingkah kembali aneh.
"Kamu cantik dilihat dari bawah," ungkapannya jujur.
"Hah?" Lagi-lagi Zahra mengerutkan keningnya. "Apaan, sih? Random banget."
Devan terkekeh pelan, ia mulai berdiri seiring dengan pelukannya di pinggang Zahra yang semakin mengerat.
Perlahan sepatu hitam putih itu terangkat, menjauhi ubin seiring dengan Devan yang berdiri tegak. Zahra yang hampir terjungkal berinisiatif melingkarkan kedua tangannya di leher pemuda di depannya. Membuatnya mau tak mau mengapit tubuh Devan dengan kakinya.
Devan tersenyum miring ketika Zahra mengetahui maksudnya. Ia memojokkan tubuh gadis itu pada dinding di belakangnya.
"Kamu ngapain, sih? Ntar jatuh akunya ...."
"Makannya jangan banyak gerak kalau ga mau jatuh!"
Zahra mencebik kesal, sedangkan Devan memulai aksinya.
"Umhh, De-devan ka-kamu ngapain? Ka-kamu jangan macem-macembh."
Devan menciumi leher Zahra hingga gadis itu menahan nafas. Laki-laki itu menghentikan ciumannya lalu tersenyum kecil. "Mana berani aku macemin kamu? Bisa-bisa aku udah dibantai duluan sama abang kamu."
"Terus kamu, eummhh."
Devan menggigit kecil telinga Zahra. Lalu dilumatnya bibir yang telah menjadi candu tersebut. Zahra membalas ciuman itu dan memajukan tengkuk Devan. Pemuda itu pun merespon, ia memiringkan kepalanya untuk memperdalam pautan.
Mereka tertawa setelah melepaskan pagutan tersebut. "Kamu mau ciuman ribet banget dah." Zahra menaikkan alis, memainkan jambul milik Devan.
"Cari sensasi aja, enakan mana gitu. Setelah aku pikir-pikir, enakan gini. Lebih tertantang akunya." Devan terkekeh pelan, menatap manik coklat gelap di depannya. Ia menangkap pantulan dirinya di manik itu.
"Kamu ga berat emang numpu aku kayak gini?"
"Gak!" Devan kembali menyerang bibir gadis itu, kali ini ciumannya turun ke leher. Zahra tak dapat berbuat banyak kala Devan membenamkan wajahnya, menyibak sedikit jaket yang ia kenakan dengan kepalanya.
"Eummm, Vann. Uhmm, ka-kamu ngapainhh," erang Zahra. Gadis itu menggeliat pelan dalam rengkuhan Devan. "Devv, gelli sumpah, ka-kamu ngapain, sihh?
"Kamu ngapain sih natep dada aku begitu? Mesum kamu!"
"Baru tau dia." Devan terkekeh lalu mengambil sebuah cermin. Ia hadapkan cermin itu pada dada Zahra.
Adik dari Darel Ario itu menatap apa yang dipantulkan cermin, gadis itu memelototkan matanya tak percaya dengan yang Devan lakukan.
"Kamu bikin mark?"
"Iya. Tenang aja, itu ga kelihatan kok," terang Devan.
Zahra mencebik mendengarnya. "Kamu lebih liar dari yang aku kira ternyata," Zahra berkata lirih.
Devan mengusap pipi gadis itu perlahan. "Hanya itu, selebihnya nanti. Saat kamu udah halal untuk aku miliki, anggap aja aku nyicil." Zahra memalingkan wajah, tak mau menatap wajah yang membuat jantungnya bertendum hebat. "Aku ga mau ngerusak orang yang aku sayang."
Devan menangkup kedua pipi Zahra, menatapnya dalam. Gadis itu hanya sanggup mengerjab polos, tak lama kemudian Devan terkekeh jenaka. Laki-laki dengan hoodie hitam tersebut mencubit pipi Zahra gemas. "Merona banget pipi kamu, tadi blus on-nya ketebalan, ya?"
Zahra melepas tangan Devan dengan paksaan, kemudian menutup wajahnya yang memanas. "Ini kan gara-gara kamu." Suaranya tak jelas terbenam tangannya sendiri. Tapi Devan yang mendengarnya malah tertawa ganteng.
"Sayang, buka dong!" Devan melepaskan tangan Zahra dengan wajah yang masih memerah. Sial!
"Ayok ke kantin! Kalau kamu malu karena blushing, itu ada kresek di meja dosen. Pakein aja ke kepala kamu." Devan keluar terlebih dulu, meninggalkan Zahra yang akan meledak.
"Devan!" Gadis itu mengerucutkan bibirnya kesal, meskipun tak ada yang melihat.
Devan yang sudah di luar kelas melongokkan kepalanya. "Ayo sini!" panggilnya pada gadis yang membelakanginya.
Setelah yakin wajahnya tidak merona lagi, Zahra baru menyusul Devan keluar. Mereka jalan beriringan menuju kantin.
Target sudah terlihat.
"Dhani, ya?" cicit Zahra pelan.
"Dhani?" Devan menoleh, menyipitkan mata—belum paham dengan topik yang diambil Zahra.
"Kamu Dhani, kan? Nerd yang suka banget di suruh-suruh sama Ina?"
"Hee? Jangan sembarangan!"
Zahra tertawa. Devan ternyata sudah menyukainya sejak mereka duduk di bangku Sekolah Menengah Pertama. Waktu itu, Devan ingin mendekati Zahra yang terkenal dengan queen bullying. Ia tak menemukan cara yang tepat, terlebih waktu itu dirinya sangat pemalu. Akhirnya ia menyamar saja menjadi nerd, meskipun akhirnya ia tidak bisa mendekati Zahra karena gadis itu telah menjalin hubungan dengan Rizki Alvaro D, kakak kelas mereka. Karena sangat ingin dekat dengan Zahra, akhirnya ia rela menjadi pesuruh Zaria Marina Stevani—yang tak lain dan tak bukan ialah cucu dari pemilik sekolah.
Sayang sekali mereka harus terpisah saat SMA. Saat di SMA Devan mengenal Rio yang saat itu sedang berkunjung ke SMA lamanya, mereka menjalin pertemanan hingga Devan mengetahui fakta jika gadis yang disukainya itu adik dari seniornya. Ia juga akhirnya tahu jika Zahra juga akan berkuliah di Merpati Putih, universitas yang sangat ingin ia tempati—sejak saat itu ia kembali memutuskan mendekati Zahra dengan dukungan Rio.
"Udahlah, Van. Aku udah tau. Kamu mau deketin aku caranya kek gitu, aku bukan orang yang peka sama keadaan dan rasa orang lain. Dan, waktu itu aku bukan Zahra yang sekarang."
Devan melingkarkan tangannya pada leher Zahra. "Emang yang sekarang kayak gimana?"
"Ya ... kayak gini."
"Kamu dulu jauhin aku mati-matian kalau aku deketin kamu, sekarang kmau kayak pasrah gitu, nyerahin diri."
Zahra mencubit pinggang Devan, memuntirnya perlahan hingga membuat laki-laki itu mengaduh.
"Ambigu tau kata-katanya."
Devan terkekeh lagi, membuat Zahra kesal adalah hobinya. Laki-laki itu kembali melingkarkan tangannya, mengabaikan tatapan mahasiswa lain yang menatapnya iri. Zahra sulit dijangkau jika kau bukan teman sepermainannya ataupun anggota Gretak.
Mereka terus berjalan, kantin tinggal beberapa meter dari jarak mereka berdiri.
"Emm, berapa tahun kamu mendam perasaan?"
"Enam tahun maybe, yang tahun ke tujuh kamu udah tau, makannya jauhin aku."
Zahra terkekeh pelan, tak disangka mereka sudah berada di depan kantin. "Ya itu karena kamu ngeselin. Suka ngelarang-ngelarang kayak Kak Rio, SKSD pula!"
Devan tersenyum bangga. Matanya menemukan Putra yang tengah duduk seorang diri, ia mengajak Zahra bergabung dengan sohibnya tersebut.
Akhirnya aku update,,, sujud syukur dulu kalian, wkwkw