
Setelah berjuang untuk bisa pulih Bara akhirnya merasa lebih baik sejak tadi sore. Meski sudah merasa lebih baik, ia memutuskan untuk tetap berdiam diri di kamar hotel, ia tidak ingin membuat pergerakan yang akhinya membawanya masuk dalam jebakan Jeydan lagi. Namun, lama kelamaan rasa sakit kembali menyiksanya. Bara membutuhkan sesuatu yang bisa membuatnya menahan rasa sakit itu untuk sementara.
Ia pun akhirnya memberanikan diri keluar dari hotel untuk membeli obat penahan rasa sakit. Tapi, saat ia tiba di lobi seorang wanita yang merupakan resepsionis hotel menatap curiga padanya. Ia yang awalnya tidak memperdulikan tatapan wanita itu, mendadak menghentikan langkahnya saat mendengar wanita itu berbicara dengan seseorang melalui sambungan telepon.
"Saya yakin dia adalah pria yang anda maksud kapten Yuda." Ujar wanita itu.
Bara melangkah perlahan sedikit mendekat tanpa diketahui oleh wanita itu karena fokus bicara dengan seseorang yang dipanggilnya kapten Yuda.
"Dia tidak akan bisa keluar dari sini karena kondisinya yang sangat memprihatinkan." Lanjut wanita itu menjelaskan.
"Iya kapten Yuda, pria itu terluka di bahunya. Saya sungguh yakin dia adalah pria yang sedang kapten Yuda cari." Tutur Wanita itu merasa yakin.
Bara yang diam diam menguping pembicaraan wanita resepsionis itu akhirnya mengerti, wanita itu sedang bicara pada salah satu anak buah Jeydan. Rupanya wanita itu melaporkan tentang keberadaan dan keadaannya saat ini.
"Rupanya wanita ini mata mata yang dibayar oleh tua bang ka itu." Bisik Bara dalam hati.
Tidak butuh waktu untuk berpikir lagi, Bara pun segera keluar dari hotel tanpa ketahuan oleh wanita resepsionis itu. Ia melangkah dengan cara perlahan dan sembunyi sembunyi, karena ternyata anak buah Jeydan sudah berkeliaran di sekitaran hotel.
"Temukan dia. Tangkap dia dalam keadaan hidup atau mati!" Perintah seorang pria yang tampak seperti pimpinan dari pria pria lainnya.
Pria yang dipanggil kapten melirik kesegala arah area hotel. Hingga akhirnya ia melihat bagian atas kepala Bara di balik semak semak. Ia tersenyum sinis sambil melangkah perlahan. Ia mengira Bara tidak mengetahui bahwa ia melihat Bara di balik semak semak tersebut. Tapi, pria itu salah. Begitu langkahnya sangat dekat dengan semak semak, Bara langsung menarik kakinya hingga ia terbawa masuk kedalam semak semak tersebut.
Terjadilah perkelahaian antara Bara dan pria itu. Bara bahkan berhasil melukai wajah pria itu dengan ranting. Pria itu berniat untuk membalas pada Bara, tapi sebelum itu terjadi Bara sudah menghilang entah kemana.
"Breng sek!" Teriaknya kesal. Ia memegangi pipinya yang berdarah karena terkena ranting tajam oleh Bara.
"Kejar kunyuk itu!" Ia berteriak memerintahkan agar anak buahnya mengejar Bara.
"Dia sudah pergi dari hotel ini. Cepat kejar! Temukan dia jangan sampai lolos." Teriak pria itu pada anak anak buahnya. Dan akhirnya merekapun meninggalkan hotel untuk mengejar Bara.
Dalam perjalanan pria bernama Yuda itu menghubungi Jeydan. Ia melaporkan tentang mereka yang kehilangan jejak Bara.
"Saya sudah memastikan sendiri, tuan. Dia memang Bara Leonardo Handoko. Dia masih hidup." Ujarnya menjelaskan.
"Saya akan pastikan untuk menangkapnya, karena kondisinya sangat lemah saat ini, tuan. Saya yakin bisa menangkapnya dengan mudah." Tuturnya mencoba meyakinkan tuannya.
"Aaaakkkhhggrr… bereng sek!" Teriaknya penuh amarah setelah selesai melapor pada tuannya. Matanya bahkan tampak merah berapi api, tangannya mengepalkan tinju seerat mungkin. Lalu akhirnya ia meninju salah satu anak buahnya hingga berhamburan darah keluar dari hidung pria malang itu.