
[10:02]
Keyla terbangun. Ia mencoba bangkit dengan sedikit tenaga yang masih tersisa. Ia menuju kamar mandi, lalu mencuci wajahnya dan menggosok gigi. Ia berencana untuk membeli obat penurun panas ke apotik yang ada di depan simpang jalan menuju kos nya.
"Hahhh… suhu tubuhku sangat panas, tapi aku kedingan." Ucapnya sambil meraih jaketnya.
Keyla pun berjalan untuk membeli obat ke apotik. Saat tiba di persimpangan jalan raya, ia merasa kepalanya sangat pusing. Pandangannya pun perlahan memudar, membuatnya kesusahan melangkah. Sementara saat ini sedang lampu merah dan saatnya untuk menyeberang jalan raya menuju apotik didepan sana.
"Tubuh tolong kerjasama. Sebentar lagi kita tiba di apotik…" Tubuhnya ambruk begitu saja di pinggir jalan raya yang ramai.
Orang orang mulai mendekat padanya dan berkerumun untuk melihat tubuhnya yang sudah tidak sadarkan diri. Bukannya membantu ataupun menelponkan ambulan, orang orang itu malah asyik mengambil gambar dan merekamnya.
Sementara itu, Bara yang lewat di samping kerumunan orang orang itu merasa penasaran. Ia pun menepikan mobilnya setelah melewati lampu merah. Ia berjalan mendekat dan menerobos kerumunan orang orang tersebut. Matanya membola saat melihat apa yang menjadi pusat perhatian orang orang itu.
"Keyla!" Teriaknya berlari mengangkat kepala Keyla dan memanggil namanya berkali kali.
"Berhenti memotret, ini teman saya." Ucap Bara pada orang orang itu. Tanpa berpikir panjang, Bara mengangkat tubuh Keyla dan membawanya ke mobil.
"Hey, Keyla..." Bara mencoba membangunkan Keyla.
Ia meletakkan telapak tangannya diatas kening Keyla.
"Dia demam…"
Segera Bara mengemudikan mobilnya hendak menuju rumah sakit terdekat.
"Bertahanlah, sebentar lagi kita tiba di rumah sakit."
Keyla dibaringkan di kursi belakang. Wajahnya sangat pucat, keringatnya begitu banyak hingga bagian leher bajunya basah. Bara mempercepat laju mobilnya, hingga akhirnya ia tiba di rumah sakit.
"Sial!" Rutuknya kesal. Ia melihat Yuda dan beberapa orang lainnya berkeliaran diperkarangan rumah sakit.
Bara tidak ingin kedatangannya diketahui oleh anak buah Jeydan, hingga terpaksa ia melanjutkan perjalanan menuju rumahnya.
"Dokter Salman. Apa anda bisa datang ke rumah saya sekarang!" Perintah Bara melalui panggilan telepon.
"Datanglah secara diam diam, jangan sampai diikuti oleh siapapun. Dan ini rahasia." Ucap Bara menjelaskan.
Setelah menghubungi dokter Salman, ia juga menelpon ke rumahnya. Ia memerintahkan agar Susi menyiapkan kamar tamu dan juga menyiapkan alat untuk kompres, karena sebentar lagi ia akan tiba di rumah.
"Kenapa dia berkeliaran saat sedang deman? Apa dia tidak punya teman sama sekali yang bisa membantunya?" Celotehnya bicara sendiri.
Tidak berapa lama kemudian, ia tiba di rumah. Susi dan Intan menyambut kedatangannya.
"Tuan muda, apa yang terjadi!"
Susi terkejut saat Bara mengangkat tubuh seorang gadis turun dari kursi belakang mobil.
"Apa kamarnya sudah siap?" Tanya Bara pada Susi
"Sudah tuan." Ia dan Intan mengikuti di belakang Bara.
"Kompresnya mana?"
Susi memberikan handuk basah pada Bara. Ia langsung menempelkan handuk basah itu di kening Keyla. Lalu menyelimuti tubuh Keyla yang tampak menggigil dengan selimut tebal.
"Susi, ini tamu saya. Tolong jaga dia selama saya pergi." Ucap Bara.
"Baik tuan muda."
"Rahasiakan tentang hal ini dari siapapun, termasuk Papa." Perintahnya.
"Baik tuan muda."
"Sebentar lagi dokter Salman akan tiba. Jadi, tugas kalian…" Bara menatap Susi dan Intan bergantian.
"Ganti pakaian gadis ini, karena pakaian yang ia kenanakan sekarang sudah basah oleh keringatnya." Lanjut Bara memerintahkan agar Susi dan Intan mengganti pakaian Keyla.
"Baik tuan muda." Jawab Susi.
"Tapi tuan muda, kita tidak punya persediaan baju untuk perempuan." Intan tiba tiba memberanikan diri menyela.
Bara terdiam, ia baru meyadari apa yang dikatakan Intan benar adanya.
"Bukankah kalian bisa membelinya!" Titahnya sambil mengeluarkan salah satu kartu kredit dari dalam dompetnya.
"Gunakan kartu itu untuk membeli beberapa pakaian yang cocok untuknya."
"Baik tuan muda." Jawab Intan dan Susi berbarengan.
Sementara Susi dan Intan melaksanakan tugas seperti yang diperintahkan oleh Bara pada mereka, Bara sudah pergi meninggalkan rumahnya. Ia harus segera menjemput alat perekam suara yang tertunda karena harus menyelamatkan Keyla terlebih dahulu.
Saat dalam perjalanan, Bara teringat kembali perkataan Profesor padanya malam itu melalui sambungan telepon.
"Nak Bara dengarkan saya baik baik." Ujar Profesor saat mereka bicara melalaui sambungan telepon malam itu.
"Keyla adalah putri kandung tuan Cakra. Tapi, sebaiknya kita sembunyikan kenyataan ini dari siapapun." Sambungnya.
"Saat ini ada banyak serigala yang berkeliaran untuk memburu tuan putri. Akan sangat berbahaya jika rahasia ini sampai diketahui oleh serigala serigala itu."
"Baik Prof. Saya juga sangat setuju untuk merahasiakan tentang tuan putri Keyla dari siapapun termasuk Papa, Jehan dan Timo sekalipun." Bara menegaskan.
"Aku akan melindungi Keyla dengan caraku sendiri." Ucap Bara setelah mengingat kembali pembicaraanya dengan profesor malam itu.
"Lalu, siapa sebenarnya Wulan? Kenapa hasil DNA miliknya benar benar nyata." Ia mulai menerka nerka.
"Gue harus mencari tahu siapa Wulan sebenarnya."
Bara sangat yakin profesor tidak membohonginya tentang siapa sebenarnya Keyla. Ia malah mencurigai Wulan. Lalu, siapa sebenarnya yang merupakan putri kandung Cakra Handoko?