Tuan Putri Yang Hilang

Tuan Putri Yang Hilang
Bab 11 Kritis


Dokter Salman, mencoba menyelamatkan Bara yang sudah kehilangan begitu banyak darah. Untunglah dua kantong darah yang dibawanya cukup untuk memulihkan pendarahan yang terjadi pada Bara. Sayangnya, tubuh Bara malah mengalami kelumpuhan sementara akibat kuatnya racun yang masuk dan hampir menyebar keseluruh tubuhnya.


"Mereka menggukan racun yang bahkan bisa melumpuhkan gajah. Pil pelumpuh racun yang saya berikan pada tuan muda, rupanya hanya bisa menahan serangan racun tersebut sementara." Dokter Salman menjelaskan pada Timo.


"Lalu apa yang akan terjadi pada tuan muda, Dokter?"


"Saat ini kita hanya bisa mendoakan agar tuan muda bisa melewati masa kritisnya. Saya sudah melakukan sebaik mungkin apa yang bisa saya lakukan untuk menyelamatkan tuan muda." Menepuk pelan bahu Timo.


"Iiishh…" Timo menendang tembok, lalu memukul tembok. Ia melampiaskan rasa kesalnya karena tidak bisa melindungi tuan muda sekaligus sahabatnya itu.


Sementara itu, mobil Jehan baru saja tiba di perkarangan rumah megah itu. Dengan segera dia melangkah menuju kamar Bara setelah mendapat informasi dari pengawal bahwa tuan muda Bara sedang terbaring kritis di kamarnya.


"Apa yang terjadi pada tuan muda?" Jehan bertanya pada dokter Salman dan Timo yang tampak sedih berdiri di depan kamar tuan muda.


"Tuan muda dalam masa kritis saat ini…" Jawab dokter Salman.


"Mereka menembakan peluru beracun pada tuan muda, Je." Adu Timo.


"Apa? Pe… peluru beracun!" Teriaknya tidak percaya.


"Benar nak Jehan. Racun yang mereka gunakan bahkan bisa melumpuhkan gajah."


Jehan terduduk lemah. Ia memukul kepalanya sendiri karena merasa kesal, ia gagal melindungi tuan muda.


Saat Timo dan Jehan sedang merutuki diri mereka yang gagal menjaga tuan muda, Jeydan sedang merasa kesal karena anak buahnya gagal menghabisi Bara.


"Maafkan saya tuan. Semua ini karena keteledoran saya yang terlalu menganggap remeh seorang Bara." Pria yang dipanggil kapten Yuda oleh anak anak buah Jeydan yang lainnya, kini berlutut di hadapan Jeydan.


"Bukan salah kamu sepenuhnya, Yuda. Semua kegagalan ini juga karena saya yang menganggap enteng bocah ingusan itu. Saya berpikir dia masih anak kecil yang bisa ditakut takuti, ternyata dia sudah menjelma menjadi Singa si raja hutan."


Jeydan mengungkapkan rasa kagumnya pada seorang Bara yang dianggapnya masih ingusan, tapi ternyata kini sudah menjelma menjadi seekor singa jantan yang menakutkan.


"Saya tidak pernah menyusun satu rencana saja. Saya selalu menyiaplan plan B." Jeydan bertepuk tangan sambil tertawa bahagia.


"Yuda, kita berangkat ke panti asuhan sekarang! Sudah saatnya saya serius. Karena bocah ingusan itu mulai menyerang dengan ganas."


"Baik Tuan!"


Yuda pun langsung menyiapkan mobil untuk segera berangkat menuju panti asuhan.


Setelah berkendara cukup lama, akhinya mereka tiba dipanti. Jeydan mengajak Yuda mengunjungi panti asuhan yang sering menerima bantuan sosial darinya. Kunjungan kali ini karena ia mendapatkan informasi bahwa pemilik panti ini menemukan bayi perempuan di depan panti dua puluh tahun lalu, atau lebih tepatnya di malam terjadinya kebakaran.


"Malam bu Tuti. Sungguh saya minta maaf karena berkunjung malam malam begini."


"Tidak masalah, pak. Mari silahkan masuk." Ajak Astuti.


Jeydan diikuti oleh dua pengawalnya. Sepertinya salah satu dari pengawalnya itu adalah pria yang menembakkan peluru beracun pada Bara.


"Silahkan duduk, pak."


Jeydan dan kedua pengawalnya pun duduk di kursi tunggu ruang tamu. Sementara, Astuti meminta salah satu pengasuh untuk membuatkan minuman.


"Ternyata kedatangan saya malah merepotkan, bu Tuti. Jadi tidak enak…" Ucapnya sedikit tertawa.


"Tidak apa pak, tidak perlu sungkan. Lagi pula, panti ini masih berdiri sampai saat ini, juga karena kemurahan hati bapak." Astuti memuji Jeydan yang memang merupakan salah satu donatur panti selain Direktur UT Holding.


"Sudah berapa lama panti ini berdiri, bu Tuti?"


"Hampir dua puluh dua tahun, pak."


Jeydan tersenyum senang. Rupanya informasi yang didapat oleh Yuda, pengawal yang kini duduk di sebelahnya tidak salah tentang panti ini.


"Wah sudah cukup lama juga ya."


Seorang pengurus panti datang membawa nampan berisi minuman dan juga biskuit.


"Minum dulu, pak. Cicipi juga biskuitnya." Ucapnya yang ikut duduk di sebelah Astuti.


"Maaf pak, hanya ini yang bisa kami sajikan." Sambung Astuti.


"Ini juga sudah cukup, bukan begitu?" Melirik bergantian pada kedua pengawalnya.


"Iya, ini sudah cukup enak." Jawab mereka berbarengan sembari langsung menyicipi biskuit.


"Jadi begini, bu Tuti. Sebenarnya, kedatangan saya malam malam kemari… untuk memastikan sesuatu."


"Kalau boleh tahu, memastikan tentang apa ya pak?" Tanya Astuti penasaran.


"Saya langsung ke intinya saja, bu Tuti. Apa mungkin sekitar dua puluh tahun yang lalu…" Jeydan mulai menuturkan kejadian dua puluh tahun lalu, berharap ia akan menemukan apa yang ingin diketahunya dari Astuti.