
"Maafkan aku, Key. Gara gara aku, kamu nggak jadi kerja." Ucapnya merasa menyesal.
"Biasa aja kali, Wulan. Lagi pula, aku memang ingin libur kerja hari ini." Ucapnya senang.
Mereka duduk di kursi taman halaman rumah sakit sambil menikmati ice cream dibawah sinar matahari yang terik.
"Sebenarnya, kamu masih belum terlambat berangkat kerja jika saja aku tidak sakit perut…" Ujar Wulan masih merasa bersalah.
"Tidak apa apa Wulan. Udah ah tidak usah dibahas. Kita nikmati saja hari libur ini dengan baik."
Pagi tadi, setelah Keyla siap untuk berangkat kerja, Wulan tiba tiba meraung raung kesakitan perut. Keyla panik, ia pun langsung membawa Wulan ke rumah sakit terdekat dengan naik taksi. Setelah tiba di rumah sakit, dokter memeriksa perut Wulan yang rupanya kosong, sehingga menyebabkan penyakit magh Wulan kambuh.
Setelah mendapat penanganan, dokter mengizinkan Wulan untuk pulang dan disarankan agar mengisi perutnya dengan makanan yang bergizi. Keyla membawa Wulan ke rumah makan. Mereka pun menyantap makan siang yang lezat dan bergizi, mungkin.
"Key, aku harus ke panti sekarang." Wulan mendapat pesan dari pengasuh panti yang memintanya untuk segera pulang.
"Kenapa? Apa terjadi masalah?"
"Entahlah, aku tidak yakin. Tapi, kalau kamu mau, ikutlah denganku ke panti. Bunda dan adek adek merindukan kamu."
"Oke. Tidak masalah, lagi pula ini hari liburku." Keyla setuju untuk ikut Wulan ke panti.
Setelah menempuh perjalanan dengan naik taksi, Wulan dan Keyla tiba di panti. Sengaja mereka naik taksi agar tiba lebih cepat.
"Terimakasih, pak." Wulan memberikan uang pada supir taksi, kemudian mereka turun.
"Wulan, mobil mewah siapa ini?" Tanya Keyla saat melihat mobil mewah terparkir di depan panti.
"Nggak tahu juga sih, mungkin mobil salah satu donatur kali." Jawab Wulan cuek aja.
Keyla memperhatikan mobil itu, ia bahkan sampai mengelilingi mobil itu dan mengingat sesuatu saat melihat nomor polisi mobil itu.
"Mobil ini!" Teriaknya, lalu dengan cepat membekap mulutnya menggunakan tangannya sendiri.
"Kenapa, Key?"
"Nggak apa apa." Keyla berlari menyusul langkah Wulan yang sudah jauh di depan sana.
"Ayok…!" Ajak Wulan pada Keyla.
Mereka melangkah bersama, lalu berhenti sebentar untuk menyapa anak anak yang asik bermain bola. Kemudian mereka melanjutkan langkah menuju rumah panti.
"Bunda…" Teriak Wulan dan Keyla manja. Mereka langsung masuk dan termangah saat melihat bunda sedang bicara dengan tamunya.
"Keyla, bunda kangen sekali sama kamu, nak. Sudah sangat lama tidak datang ke panti." Rutuk Astuti sambil melepaskan pelukannya.
Lalu, Astuti menarik tangan Wulan untuk ikut duduk, sementara tangan Keyla di tarik oleh mbak Mirna untuk ikut ke belakang. Tapi, sebelum melangkah, Keyla menoleh pada Jehan yang sejak tadi berusaha menyembunyikan wajahnya saat pertama melihat Keyla tiba di ruangan itu.
"Dia!" Gumam Keyla dalam hati, ia menatap tajam wajah Jehan yang akhirnya juga menatap padanya. Jehan memberikan kode agar Keyla tetap diam, sementara Keyla memaki dengan gerak mulutnya.
Tanpa Jehan sadari, Bara mengetahui tingkah anehnya. Ia pun akhirnya ikut menatap pada Keyla yang kini sudah menghilang di balik dinding tembok pembatas ruang depan.
"Loe kenal cewek itu? Apa dia benaran cewek yang menemukan hp gue" Bisik Bara ditelinga Jehan.
"Setelah urusan ini selesai, loe harus cerita semuanya sama gue." Ancam Bara dengan kembali berbisik pada Jehan.
"Tuan muda, ini Wulan. Putri saya yang tadi saya ceritakan." Astuti mulai mengenalkan Wulan.
Bara hanya menatap gadis didepannya dengan tatapan penuh ketidak yakinan. Dan Wulan merasa risih ditatap seperti itu.
"Apa ibu yakin, dek Wulan ini bayi yang ibu temukan di depan panti dua puluh tahun lalu, tepatnya saat malam kejadiaan kebakaran rumah tuan Cakra?" Jehan bertanya lagi untuk memastikan.
"Saya tidak begitu tahu tentang peristiwa kebakaran tersebut, hanya sekedar pernah mendengar diberita. Tapi, jika tanggal saat saya pertama kali menemukan Wulan dengan tanggal kejadian kebakaran itu sama, maka berarti iya, Wulan adalah putri tuan Cakra." Ujarnya yakin.
Wulan tidak mengerti apa yang sedang dibahas saat ini. Satu satunya yang terlintas di kepalanya, bahwa mungkin salah satu dari dua pria dihadapannya adalah paman atau mungkin kakak kandungnya. Karena tidak mungkin mereka orangtua kandungnya, secara wajah kedua pria itu tampak masih sangat muda untuk memiliki anak seumuran dirinya.
"Tanggal kebakaran dengan tanggal ditemukan bayi memang sama, tuan muda." Jehan memperlihatkan surat izin dari polisi saat pertama Astuti menemukan Wulan.
"Alangkah lebih baiknya, kalau ibu mengizinkan saya untuk melakukan tes DNA pada Wulan, untuk memastikan apakah benar Wulan anak kandung Papa" Kali ini Bara yang bicara.
"Bunda, ada apa?" Wulan meraih pergelangan tangan Astuti. Ia tampak ketakutan dan bingung.
"Tidak apa apa, sayang. Mereka bukan orang jahat kok. Mereka datang untuk memastikan apakah kamu putri kandung tuan Cakra atau bukan." Jelas Astuti.
"Tapi bunda, aku tidak mau melakukan tes DNA atau apapun itu. Aku bahkan tidak kenal siapa tuan Cakra itu. Aku anak bunda, selamanya aku anak bunda." Wulan bahkan sampai meneteskan air mata saat mengatakan itu, Astuti langsung memeluknya.
Keyla yang diam diam menguping dibalik tembok pembatas mulai memahami situasi yang kini dialami Wulan. Ia ikut bersedih bersama Wulan, meski sebenarnya ada sedikit perasaan lega karena ternyata keluarga Wulan benaran ada dan mencarinya.
Bara melihat bayang bayang Keyla di balik tembok.
"Apa gadis yang tadi, putri ibu yang juga ibu temukan malam itu?" Tanya Bara penasaran.
"Iya tuan muda, namanya Keyla. Sebentar saya panggil…"
"Tidak usah bu. Saya sudah melihatnya sekilas, dan saya rasa sudah cukup." Ujar Bara yang membuat Astuti kembali duduk disamping Wulan.