Tuan Putri Yang Hilang

Tuan Putri Yang Hilang
Bab 23 Mungkinkah


Saat ini Bara dan Jehan duduk di sofa ruang depan rumah panti bersama Astuti. Sebelum Bara mengatakan tujuannya mengunjungi panti, Astuti sudah lebih dulu memberikan buku besar yang menyimpan tanggal, tahun dan bulan saat ia pertama menerima anak anak asuhnya di panti.


"Saya tahu, kedatangan tuan muda pasti untuk menanyakan tentang tuan putri yang kemungkinan masih hidup, bukan?" Ujar Astuti yang membuat Bara termangah, karena Astuti mengerti maksud kedatangannya bahkan sebelum ia jelaskan.


Jehan ikut memeriksa buku tersebut. Tidak berapa lama mereka menemukan dua nama yang memiliki tanggal, bulan dan tahun yang sama terdaftar dipanti ini, tepatnya dua puluh tahun lalu di malam terjadinya kebakaran.


"Mungkinkah salah satu dari dua nama ini adalah tuan putri yang hilang?" Jehan mulai menerka nerka.


"Sepertinya begitu." Sahut Astuti.


"Boleh kami bertemu kedua gadis pemilik nama ini, bu?" Tanya Jehan.


"Boleh. Tunggu sebentar!" Astuti meninggalkan Bara dan Jehan di ruang tamu. Sementara, Astuti tampak bicara dengan seseorang.


Setelah beberapa menit kemudian, Astuti kembali lagi menghampiri Jehan dan Bara.


"Tuan muda, sebenarnya ada yang ingin saya katakan terlebih dahulu sembari menunggu kedua putri saya datang." Ungkap Astuti yang tampak ragu ragu.


"Katakan saja, bu." Sahut Bara.


Astuti mengatur napas dan memperbaiki posisi duduknya.


"Sebenarnya Kemarin pak Jeydan berkunjung ke sini."


"Jeydan!" Seru Jehan.


"Iya, pak Jeydan Direktur PT Taruna Jaya. Dia kemari untuk menanyakan perihal kedua putri saya yang saya temukan di depan panti ini dua puluh tahun lalu." Astuti mulai menceritakan semua pembicaraannya dengan Jeydan kemarin.


"Jadi, maksud bu Tuti, pak Jeydan memerintahkan anak buahnya untuk mengikuti kedua putri bu Tuti?"


"Iya tuan muda. Itulah yang saya dengar. Dan saya ingin tuan muda untuk segera menyelamatkan putri saya terutama Wulan. Karena, saya rasa Wulan adalah putri kandung tuan Cakra." Tutur Astuti yang tampak sangat khawatir.


"Jangan khawatir, bu. Kami yang akan melindungi Wulan. Sekalian kami juga akan melakukan tes DNA untuk memastikan hubungan Wulan dengan tuan Cakra." Ujar Jehan menjelaskan.


Bara tampak memikirkan sesuatu. "Gue harus mendapatkan DNA kedua gadis ini. Bisa saja, tua bangka itu mencoba menipu dan merencanakan jebakan lagi."


"Bu Tuti, apa Wulan dan Keyla masih tinggal di panti?" Tanya Bara kemudian, sambil melihat nama dua gadis itu yang tertulis di daftar buku besar.


"Hanya Wulan yang masih tinggal di sini. Sementara Keyla sudah tidak tinggal di sini sejak dua tahun lalu." Jelasnya.


"Boleh saya tahu, dia tinggal di mana?"


"Keyla tinggal di kos putri di jalan simpang Langgar." Jawab Astuti.


"Simpang Langgar?" Ulang Jehan dengan suara agak tinggi.


"Iya…" Jawabnya ragu.


"Kenapa, Je? Apa kamu tahu tempat itu?" Tanya Bara heran.


"Kos yang barusan disebutkan bu Tuti, merupakan tempat tinggal gadis yang menemukan handphone loe." Bisik Jehan yang berhasil membuat mata Bara membola.


Astuti berpura pura tidak mengetahui apa yang dibicarakan kedua anak muda dihadapannya.


"Apa mungkin, kami bisa bertemu dengan Keyla juga hari ini, bu Tuti?"


"Sepertinya begitu, tuan muda. Karena saat ini Wulan dan Keyla dalam perjalanan menuju panti." Jelasnya.


"Gue harap Keyla bukan gadis itu." Gumam Jehan dalam hati.


"Apakah Keyla adalah gadis yang di bis itu? Benarkah dia yang menemukan handphone gue?" Ujar Bara dalam hatinya.


Saat Bara dan Jehan terbenam dalam pikiran mereka masing masing, Astuti melangkah pergi dari ruangan itu. Ia menemui seorang wanita seusianya, dan meminta agar memberitahu Wulan untuk membawa Keyla ikut ke panti sekarang juga.


Setelah Astuti kembali, Bara meminta izin untuk membawa Wulan ke rumah Papanya dengan alasan akan lebih mudah melindungi Wulan, saat Wulan tinggal di tempat yang jauh lebih aman dari pada panti. Astuti pun menyetujui hal itu, dia mempercayakan Wulan sepenuhnya pada Bara, dibandingkan harus mengirim Wulan pada Jeydan.