Tuan Putri Yang Hilang

Tuan Putri Yang Hilang
Bab 19 Tentang Wulan


Begitu mobil Erna menghilang dari pandagannya, Keyla pun segera melangkah menaiki anak tangga menuju kamarnya yang ada di lantai atas. Langkahnya tiba tiba berhenti saat kakinya akan menaiki anak tangga terakhir.


"Wulan!" Ucapnya sedikit terkejut.


Keyla melihat seorang gadis duduk di depan kamar kosnya dalam keadaan basah dan terlihat sedih.


"Kamu kenapa?" Ia berlari menghampiri gadis yang dipanggilnya Wulan itu.


"Apa yang terjadi? Kamu… bajumu basah semua." Saat hendak menyentuh bahunya, gadis bernama Wulan itu langsung memeluknya dan menangis sejadi jadinya.


"Ada apa, Wulan?" Ia mengelus punggung Wulan yang dingin untuk memberikan sedikit ketenangan dan kehangatan.


Wulan Karista, gadis cantik itu seumuran dengan Keyla. Ia adalah saudara, sahabat sekaligus keluarga Keyla di panti. Mereka di temukan oleh pengasuh panti dihari yang sama. Wulan ditemukan sekitar pukul tiga dini hari, sementara Keyla ditemukan saat pagi harinya, itulah yang dikatakan pengasuh panti. Keduanya sama sama tidak pernah mau di adopsi oleh pasangan manapun. Beruntungnya pengasuh panti memberikan pilihan sendiri pada anak anak asuhnya. Ia akan melindungi anak anak asuhnya yang tidak mau di adopsi.


Wulan dan Keyla bagaikan anak kembar. Mereka tidak terpisahkan sejak kecil. Apapun selalu berdua dan sebisa mungkin harus sama. Wulan dikenal sebagai gadis cantik, pendiam dan pintar, sementara Keyla dikenal sebagai gadis cantik bermata biru, ceria dan tidak sepintar Wulan. Perbedaan perbedaan itulah yang membuat mereka saling merasa cocok satu sama lain dan tidak terpisahkan.


Tapi sejak lulus SMA, Keyla memutuskan keluar dari panti untuk hidup sendiri. Sementara Wulan masih tetap tinggal di panti dan melanjutkan kuliah dengan beasiswa yang berhasil ia dapatkan berkat kepintarannya dalam belajar. Dua bulan terakhir, mereka tidak saling bertukar kabar karena kesibukan masing masing. Lalu, malam ini di tengah cuaca yang sangat dingin, Wulan tiba tiba datang menemui Keyla.


"Wulan, sebaiknya kita masuk dulu yok. Di sini dingin, kamu juga sangat basah, nanti malah masuk angin loh." Ucapnya saat tangisan Wulan mulai mereda.


Wulan melepas pelukannya, lalu ia mengikuti Keyla masuk ke kamar kosnya.


"Ini handuk… nah ini baju ganti." Keylapun segera memberikan handuk dan piyamanya untuk di pakai Wulan.


Tanpa berucap apa apa, Wulan mengambil handuk dan piyama dari tangan Keyla, lalu ia segera menuju kamar mandi.


"Semoga tidak terjadi sesuatu yang mengerikan pada Wulan." Ujarnya dalam hati.


Keyla meletakkan tasnya, lalu merapikan kamarnya yang sedikit berantakan. Ia juga membuatkan secangkir kopi jahe untuk saudaranya itu agar merasa sedikit lebih hangat.


Setelah beberapa menit kemudian, Wulan keluar dari kamar mandi. Ia sudah berganti pakaian. Keyla tersenyum padanya, lalu ia duduk di sebelah Keyla yang langsung menyodorkan secangkir kopi jahe hangat padanya.


"Minum dulu, kopi jahe kesukaan kita. Supaya berasa lebih hangat."


"Terimakasih, Key." Wulan tersenyum.


Untuk beberapa saat, Keyla membiarkan Wulan menikmati kopi hangat buatannya. Sembari menunggu Wulan mulai bercerita, Keyla pun melipat pakaian yang baru diangkatnya dari jemuran. Keyla menjemur pakaiannya di tempat yang memiliki atap, sehingga pakaian yang dijemurnya tidak basah saat turun hujan.


"Mmm… jika itu aku, maka aku tidak akan melakukan apa apa sama sekali."


"Maksudmu?"


Keyla menghentikan aktivitasnya. Kini ia menatap pada Wulan yang duduk di atas tempat tidurnya.


"Aku akan diam saja. Aku tidak akan mencari tahu siapa mereka, dimana tempat tinggal mereka atau pun mencoba menemui mereka. Aku hanya akan diam."


"Kenapa?"


"Ya, karena jika memang kenyataannya mereka masih hidup dan benar benar ada di dunia ini, pasti mereka akan berusaha menemukanku bagaimanapun caranya."


"Terus, kalau seandainya mereka menemui kamu dan mengatakan bahwa kamu adalah anak mereka, apa yang akan kamu lakukan?" Wulan bertanya lagi.


"Aku hanya akan menanyakan satu pertanyaan... Kenapa baru sekarang mereka mencariku?" Keyla mendekat pada Wulan, ia ikut duduk di samping Wulan dan menatap serius wajah sendu gadis itu.


"Wulan, kita sudah dua puluh tahun saat ini. Jika memang orangtua kita masih hidup, aku yakin mereka sudah mencari kita sejak dua puluh tahun lalu. Dan setidaknya pasti ada catatan laporan kehilangan bayi saat pertama bunda Tuti menemukan kita di depan panti." Jelasnya.


"Kamu benar Key. Aku ingat, bunda Tuti bahkan melaporkan menemukan kita saat itu pada kepolisian, dan tidak ada satu manusiapun yang merasa kehilangan bayi." Sambung Wulan. Ia mengingat kembali cerita tentang bagaimana ia dan Keyla di temukan oleh bunda Tuti didepan panti dua puluh tahun lalu.


"Jadi, ada seseorang yang mengaku sebagai orangtuamu? makanya kamu sedih?" Keyla mulai menelisik penyebab Wulan menangis dan terlihat sangat menyedihkan beberapa saat lalu.


"Bukan orangtuaku yang mengaku. Tapi, ada seorang saksi yang mengatakan aku di selamatkan oleh seseorang dari kebakaran. Katanya rumah orangtuaku dibakar habis oleh orang tidak di kenal. Nah pria ini saksi saat aku di antarkan ke depan rumah panti oleh si penyelamat itu saat kejadian kebakaran itu." Jelasnya.


"O ya?"


Wulan mengangguk yakin.


"Wulan, sepertinya kamu anak orang kaya!" Ujar Keyla dengan ekspresi wajah tersenyum, lalu ia malah tertawa sambil bertepuk tangan.


"Key, kamu kenapa?" Wulan heran melihat tingkah aneh Keyla yang tidak berhenti tertawa bahkan sampai berguling guling di kasur kecilnya itu.


"Jangan percaya! Sepertinya si saksi itu sedang menulis novel. Tidak, Wulan. Jangan pernah percaya, never!" Tegas Keyla yang mendadak berhenti tertawa. Hal itu membuat Wulan tersenyum miris.


"Keyla tidak berubah sama sekali." Pikirnya. Ya, Keyla masih tetap sebagai seorang gadis yang aneh dimata Wulan sendiri.