Tuan Putri Yang Hilang

Tuan Putri Yang Hilang
Bab 60 Tidak ada pilihan


Suasana malam ini sangat cerah. Bintang dan bulan menghiasi langit.


"Mmh, apa kalian melihatku dari atas sana!" Teriak Keyla menatap keatas.


Ia berbaring diatas kursi taman kota. Tas besar yang dibawanya ia jadikan bantal.


"Aku menjadi gelandangan dalam sekejap. Aaaarrggg semua ini gara gara Wulan." Celotehnya.


"Sungguh aku tidak pernah menyangka Wulan akan menjadi sombong dan angkuh seperti itu setelah menjadi putri dari seorang konglomerat."


Keyla terus berceloteh untuk melepaskan segala rasa kesal, marah dan sedih dalam hatinya karena perbuatan Wulan yang sudah keterlaluan.


"Gara gara ingin bertemu Wulan, aku menerima tawaran pekerjaan itu dan pergi dari kamar kos ku. Kini, kamar itu sudah menjadi milih orang lain…"


"Haruskah aku kembali ke panti!"


Matanya menatap bintang bintang di langit yang tampak sangat mengagumkan.


"Kembali ke panti satu satunya pilihan terbaik saat ini. Tapi, aku harus bilang apa sama bunda. Aku tidak mungkin mengatakan yang sebenarnya, bunda pasti akan sedih."


Ia bangkit dari posisi baringnya. Kini matanya menatap tas yang penuh dengan pakaiannya, lalu tiba tiba ia tersenyum.


"Baiklah… sepertinya tidak ada pilihan lain selain kembali ke rumah tuan muda Bara Leonardo Handoko." Ujarnya.


Keyla meraih tasnya, lalu ia melangkah untuk mencari taksi yang bisa mengantarnya ke kediaman Bara.


"Aku akan mengatur rencana untuk membuat Wulan merasa terancam dengan kehadiranku yang selalu berada di samping kakaknya." Bisik Keyla dalam hati.


Senyum mengembang di bibirnya saat memikirkan bagaimana reaksi Wulan saat melihatnya menjadi gadis spesial disamping Bara Leonardo Handoko.


"Taksi!" Teriak Keyla menghentikan taksi.


Ia pun langsung masuk ke mobil taksi itu dan mengatakan tujuannya. Taksi pun melaju menuju tempat tujuan Keyla.


Setelah hampir tiga puluh menit kemudian, taksi berhenti tepat di depan gerbang rumah Bara. Ia Turun dari taksi dengan perasaan bimbang. Keyla bahkan hampir membatalkan niatnya untuk kembali kerumah itu. Namun, sebelum Keyla berubah pikiran, Sekuriti penjaga gerbang memanggilnya.


"Nona!"


Keyla menoleh dan tersenyum pada pak sekuriti yang membukakan pintu pagar untuknya.


"Selamat malam, pak."


Keyla menghela napas dalam, lalu mulai mengutarakan keinginannya.


"Boleh saya bertemu dengan mbak Susi dan mbak Intan?" Tanya Keyla ragu.


Sebentar sekuriti itu terlihat berpikir, lalu ia meminta Keyla menunggu sembari ia memanggil Susi dan Intan.


"Memalukan. Kenapa aku kembali kesini lagi, sih." Keyla merutuki dirinya sendiri.


"Apa aku pergi saja, ya? Lebih baik menginap di tempat mbak Erna." Gumamnya.


Namun, sebelum Keyla benar benar berubah pikiran, Susi dan Intan melangkah cepat seperti berlari menyambut kedatangannya.


"Nona!" Panggil mereka.


Keyla menoleh kearah dua wanita yang memperlakukannya dengan sangat baik layaknya tuan putri.


Begitu tiba didekat Keyla, mereka langsung memeriksa keadaan Keyla, bahkan sampai membuat tubuh Keyla berputar putar.


"Nona Keyla baik baik saja?" Tanya mereka yang tampak khawatir.


"Tentu, saya baik baik saja." Jawab Keyla sambil tersenyum.


Susi dan Intan menghela napas lega.


"Nona sudah makan?" Tanya Intan.


Keyla menggeleng.


"Ya ampun, ya sudah mari masuk. Kebetulan saya sudah memasak makan malam yang enak."


Susi merangkul Keyla melangkah memasuki rumah, sedangkan Intan membawakan tas pakaian Keyla.


"Oh iya, pak. Jangan bilang sama siapa siapa tentang kedatangan nona Keyla kesini." Ujar Intan mengingatkan.


"Tenang saja, rahasia aman."


"Termasuk tuan Cakra." Sambung Intan.


Kemudian ia melangkah menyusul Susi dan Keyla yang sudah lebih dulu masuk ke rumah.