
Bara langsung membawa Keyla ke rumah papanya. Saat tiba di sana, Cakra langsung memeluk Keyla dengan pelukan hangat penuh kerinduan.
"Maafkan papa terlambat menemukanmu, sayang."
Keyla hanya diam saja. Meski Bara sudah menjelaskan semuanya tentang siapa sebenarnya dirinya, namun tetap saja Keyla masih merasa bingung dengan semua yang terasa begitu tiba tiba.
"Dimana Wulan, tuan?" Tanya Keyla yang masih memanggil Cakra dengan sebutan tuan.
"Panggil papa, sayang." Ujar Cakra sambil melepaskan pelukannya.
"Papa.." Ulang Keyla.
Cakra berkaca kaca saat mendengar Keyla memanggilnya papa. Lalu, Cakra menatap lekat wajah Keyla yang ternyata baru disadarinya gadis itu memiliki wajah yang sama dengan istrinya.
"Maafkan papa, Keyla. Papa begitu bodoh tidak mengenalimu. Padahal jelas jelas, bola matamu biru dan wajahmu juga sangat mirip dengan mama-mu." Gumam Cakra merasa menyesal.
"Tidak usah meminta maaf, papa. Bagaimana mungkin papa bisa mengenaliku sementara aku sudah hilang sejak masih bayi." Keyla menyentuh kedua pipi Cakra dan menghapus tetesan air mata disana. Lalu Keyla memeluk laki laki yang ternyata adalah papanya itu.
Beni merasa bahagia melihat pertemuan ayah dan anak itu. Dia merasa bersyukur dan merasa beban di pundaknya telah kembali terasa ringan.
"Lanjani, sayangku. Aku telah menepati janjiku. Aku menjaga putra kita dan aku juga telah mempertemukan pak Cakra dengan putri kandungnya." Bisik Beni dalam hatinya.
Bara menatap wajah papanya yang tersenyum itu. Entah bagaimana tiba tiba Bara memeluk ayahnya dengan erat.
"Maafkan aku, ayah." Bisiknya.
"Kau hebat, Bara. Kau putra kebanggaan ayah dan bunda."
Keduanya berhenti berpelukan karena Bara mendapat telepon dari Jehan.
"Halo, Je?" sahutnya.
Bara mendengarkan penjelasan Jehan yang mengatakan bahwa istri Diki telah meninggal dan Diki telah berhasil diringkuk oleh aparat kepolisian setempat.
Jehan juga mengatakan pada Bara, bahwa Diki berpesan pada Cakra untuk mengampuni putrinya Wulan.
"Tugas kalian sudah selesai, Jehan, Timo. Kembalilah ke Jakarta." Titah Bara.
Dan waktu pun terus berlalu.
Hingga tak terasa satu bulan kemudian.
Keyla tampak sedang berbaring manja di pangkuan Bara. Dia menikmati indahnya cuaca sore hari di pinggir pantai.
"Apa sayang bahagia?" Tanya Bara pada gadis bermata biru itu.
"Kalau aku inginnya saat ini juga. Tapi, papa dan ayah malah meminta kita menikah setahun lagi. Jadi, sabar ya sayang. Lagi pula, kamu masih sangat muda." Bara mencubit pelan hidung Keyla.
"Papa sama Ayah egois. Sudah tahu kita saling mencintai. Tapi malah tidak diizinkan menikah. Sebel." Rutuknya kesal.
"Memangnya sayang mau ngapain kalau kita sudah menikah?" Tanya Bara iseng, sengaja menggoda Keyla.
"Ya tentu saja banyak hal yang bisa kita lakukan setelah menikah nanti."
"Contohnya seperti apa?"
"Mmm, berciuman, berpelukan dan tidur di ranjang yang sama." Jawab Keyla tanpa merasa canggung.
Sementara Bara malah bersemu malu. Dia mencoba menepis pikiran anehnya tentang jawaban dari Keyla barusan.
"I love you, sayang." Ucap Keyla yang tiba tiba menempelkan bibirnya di bibir Bara. Hanya menempel dan sangat cepat.
"Keyla!" seru Bara dengan wajah terkejutnya.
"Sayang tidak mau mengucapkan cinta padaku? Sayang tidak mencintaiku?" Keyla merajuk.
"I love you too sayang." jawab Bara. Kemudia dia melingkarkan tanganya di pinggang Keyla. Dia memeluk gadis kecil itu dari belakang.
Kini mereka menikmati indahnya pantai di sore hari. Hembusan angin pantai menambah sejuknya suasa hati mereka yang sedang kasmaran.
Sementara itu, Karina, Klara dan Wulan masih diizinkan tinggal di rumah Cakra atas izin dari Keyla. Tentu saja mereka dijadikan pembantu di rumah itu. Itung itung dapat pembantu gratis. Kan lumayan.
Jehan masih tetap sama, menjadi tangan kanan Bara. Tugasnya memastikan Bara dan Keyla selalu baik baik saja setiap harinya. Jehan juga mendapat tugas tambahan, yaitu mengawasi tiga orang pembatu gratis Cakra.
Sedangkan Timo, dia masih sebagi sekretaris terbaik Bara. Dan satu lagi, minggu lalu akhirnya Timo melamar dokter Erna. Mereka akan segera menikah dalam waktu dekat.
Begitulah kisah ini berakhir…
...Terimakasih untuk semua pihak yang telah memberi dukungan pada Author dalam menulis karya ini. ...
...Permohon maafan yang sangat amat dalam dari Author, atas keterlambatan upload cerita itu....
...Banyak hal yang terjadi. Namun tidak bisa Author paparkan pada kalian semua. ...
...Love you all...
...Semoga kalian sehat selalu, dan dimudahkan segala urusan kalian, lancar rezekinya dan bahagia selalu. Jangan lupa bersyukur…...