
Astuti membawakan tas berisi pakaian Wulan, sementara Wulan dan Keyla saling berpelukan. Lebih tepatnya Wulan yang memeluk Keyla, ia menangis sambil mengatakan bahwa ia takut dan tidak ingin berpisah dengan sahabatnya itu.
"Saya titip Wulan, nak." Ucap Astuti.
"Akan saya pastikan Wulan aman selama tinggal di rumah tuan Cakra!" Jawab Jehan merasa yakin bisa melindungi Wulan.
Kemudian, Jehan mengambil alih tas milik Wulan dari tangan Astuti. Ia memasukkan tas itu kedalam bagasi mobil. Sementara, Bara sudah lebih dulu masuk ke dalam mobil.
"Nona Wulan, kita berangkat sekarang!" Seru Jehan sambil membukakan pintu mobil bagian belakang.
"Key, aku pergi dulu."
"Aku akan merindukanmu…" Ucap Keyla sambil menghapus air mata dipipi Wulan.
"Aku juga... aku janji akan lebih sering menelpon."
"Janji?" Keyla meminta Wulan melakukan janji kelingking.
"Janji." Wulan menautkan jari kelingkingnya dengan kelingking Keyla.
"Bunda, aku pergi dulu. Aku akan segera kembali meskipun aku adalah gadis yang mereka cari." Ucap Wulan berbohong, padahal ia berharap untuk tidak lagi kembali ke panti.
"Iya sayang. Datanglah kapanpun kamu mau datang, karena panti selalu terbuka untukmu." Astuti memberi pelukan, lalu melepaskan segera pelukannya.
Wulan segera memasuki mobil, dan saat Jehan akan menutup pintu mobil, tiba tiba saja Bara mengeluarkan kepalanya dari kaca pintu mobil.
"Hey gadis kecil, apa kamu tidak ikut?" Teriak Bara pada Keyla.
Hal itu membuat Astuti, Keyla, Wulan dan Jehan menatap heran padanya.
"Pergilah, nak." Astuti menyarankan.
"Kalau begitu, aku pulang dulu bunda. Besok, aku akan main ke panti lagi." Keyla mencium kedua belah pipi Astuti.
"Hati hati, sayang." Ucapnya.
Jehan membukakan pintu satunya untuk Keyla dan setelah masuk ke mobil, dua sahabat itu saling tertawa bahagia.
Sepanjang perjalanan, Wulan dan Keyla terus berbincang. Keyla bahkan merasa kagum dan tidak menyangka akan naik mobil mewah. Ia dan Wulan bahkan menekan tombol untuk membuka kaca mobil, mereka menekan berkali kali, lalu mereka tertawa kegirangan.
Puas bermain dengan pernak pernik mobil mewah tersebut, mereka pun lanjut mengobrol, membahas begitu banyak hal. Sementara Bara dan Jehan hanya sesekali tersenyum melihat tingkah dua gadis itu.
"Jehan, sepertinya kamu salah jalan." Bara mengingatkan saat harusnya Jehan belok kekanan, tapi ia malah belok kekiri.
"Tidak tuan, kita akan jalan memutar karena harus mengantarkan gadis kecil ke rumahnya." Bisik Bara mengingatkan bahwa tuan mudanya itu menawarkan tumpangan pada gadis yang telah mempermalukannya beberapa menit yang lalu.
"Kamu bahkan tahu tempat tinggal gadis aneh itu?" Bisik Bara.
"Tentu saja tuan muda. Bukankah saya melacak gps hp anda yang hilang, dan saya menemukan di rumah gadis kecil itu." Jehan bicara sangat pelan sambil menggertakkan giginya menahan rasa kesalnya karena Bara mengajak gadis itu ikut bersama mereka.
"Udah Je, nggak usah kesal gitu. Lagian gadis itu juga sudah meminta maaf…" Bujuk Bara sambil menahan tawa. Ia tahu Jehan kesal padanya karena menawarkan tumpangan pada Keyla.
"Tuan muda, saya rasa anda tidak perlu melewati batas, jika hanya sekedar ingin mengejek saya." BisikJehan, lalu tersenyum sinis pada Bara yang semakin kesulitan menahan tawanya.
Keyla menyadari dua pria didepan tengah membicarakannya. Tapi ia pura pura saja tidak tahu, toh Wulan juga tidak menyadari hal itu. Ia pun memilih untuk cuek saja.
"Wulan sangat beruntung, keluarganya ternyata benar benar mencarinya. Mereka bahkan menjemput Wulan menggunakan mobil mewah untuk membawanya ke rumah yang mungkin seperti istana. Sementara aku, baru kali ini merasakan naik mobil semewah ini dan aku sangat terlihat kampungan dimata mereka, mungkin." Gumamnya dalam hati.