
Jehan dan Timo mengira mereka berhasil mengecoh musuh. Mereka tidak tahu ternyata musuh menjadikan mereka umpan untuk menangkap Bara. Saat peretas itu hanya tipuan. Pria yang tadi pingsan sudah sadar, ia tertawa mengejek Timo dan Jehan yang telah terkecoh. Melihat reaksi pria itu membuat mereka mengkhawatirkan Bara.
"Oh, si al… tuan muda!" Ucap mereka bersamaan.
Jehan dan Timo langsung menghubungi Bara secara bergantian, tapi sayangnya tidak satupun dari mereka bisa menghubunginya karena hp Bara kehabisan baterai.
"Apa yang kalian rencanakan breng sek!" Teriak Jehan murka sambil memukul kuat mulut pria itu hingga berdarah.
"Bara akan ma ti malam ini." Ucapnya kemudian tertawa.
"Aaarrghhhkk…" Timo sangat kesal, ia mengayunkan tinju yang mendarat tepat dimulut pria itu hingga membuatnya pingsan untuk yang kedua kalinya.
Jehan termangah melihat apa yang baru saja dilakukan Timo. Ia tidak menyangka Timo ternyata punya tenaga yang sangat kuat, hingga satu pukulannya saja melumpuhkan musuh.
"Loe keren bro!" Acungan jempol dari Jehan untuk Timo yang berhasil membuatnya tersenyum senang.
"Je, hp Bara aktif." Timo mendapat notif pemberitahuan titik keberadaan hp milik Bara.
Jehan mengambil alih hp dari tangan Timo, ia segera menelusuri keberadaan hp Bara.
"Kos putri…" Ujarnya ragu.
"Apanya yang kos putri?" Tanya Timo, ia tidak mengerti apa yang dimaksud oleh Jehan.
"Hp Bara berada disalah satu kamar kos putri di jalan simpang Langgar."
"Apa? Kenapa bisa ada disana?" Timo bingung.
"Kita periksa kesana sekarang!"
"Ternyata sangat mudah mengecoh anak buah Bara." Ujar Jeydan merasa puas dengan kerja anak anak buahnya.
"Tuan, saya pun dengan mudah menembakkan peluru beracun pada Bara. Berkat bantuan perayaan kembang api yang tuan siapkan." Ucapnya senang.
"Kalian berhasil meledakan kembang api diwaktu yang tepat. Sehingga suara tembakan tidak terdengar oleh orang orang. Mereka hanya fokus pada pertunjukan kembang api." Tutur pria berpakaian hitam dan bermasker yang berhasil melumpuhkan Bara.
"Lalu, apakah lelaki tua di dekat klinik itu benar benar saksi dari kejadian empat belas tahun yang lalu, tuan?" Tanya mereka penasaran.
"Tentu saja bukan. Lelaki tua itu hanya umpan. Semua yang terlibat dengan kejadian empat belas tahun silam telah saya habisi. Bara tidak akan pernah bisa membalas dendam atas kematian ibunya." Jeydan tertawa lepas, diikuti oleh anak anak buahnya.
"Bocah itu bahkan akan kehilangan nyawanya malam ini." Gumamnya bangga. Ia sangat yakin Bara akan mati malam ini juga.
Sementara itu, Bara kini berada di kamar hotel. Ia sedang berusaha mengeluarkan peluru beracun itu dari bahunya. Peralatan yang dimilikinya hanya sebuah gunting dan perban. Dengan gunting itu ia mencongkel peluru yang bersarang di tubuhnya.
"Aagghhkkk…" Teriaknya tertahan. Hanya dalam hitungan menit diikuti cairan merah, ia berhasil mengeluarkan peluru itu.
"Ahkk, mhhrrr…" Bara hampir kehilangan kesadaran. Tepat sebelum ia pingsan, perban pun berhasil ia rekatkan dibahunya untuk mencegah pendarahan sementara dan Ia juga menelan satu butir pil yang dapat menghancurkan racun. Pil tersebut selalu dibawa olehnya untuk berjaga jaga. Dan benar saja kali ini pil itu sangat membantunya.
"Si al, hp ku jatuh di bis." Gumamnya kesal.
Dengan sedikit kesadaran yang tersisa, ia menghubungi handphonenya menggunakan telepon yang ada di kamar hotel itu. Panggilan tersambung.
"Halo!" Jawaban dari seberang sana.
Bara hanya diam saat mendengar suara seorang gadis yang ia yakini adalah gadis yang tadi bersamanya di bis. Ia sangat ingin bertanya siapakah gadis yang kini memegang handphone miliknya. Namun sayang, saat akan membuka mulut untuk bicara, kesadarannya pun hilang seketika, ia pun pingsan.