Tuan Putri Yang Hilang

Tuan Putri Yang Hilang
Bab 15 Kekhawatiran seorang ayah


Saat Beni kembali ke kamar Bara, dua pria dewasa itu hanya saling diam seperti sepasang kekasih yang baru saja selesai berdebat.


"Ada apa dengan suasana hening ini?" Suara Beni membuat Jehan menjauh dari ranjang Bara.


"Apakah kalian bertengkar?"


"Tidak Ayah. Hanya sekedar mengingat beberapa hal." Jawab Bara asal.


"Syukurlah. Ayah kira kalian bertengkar." Ben duduk pinggir ranjang Bara.


"Om, aku permisi dulu." Pamit Jehan.


"Loh mau kemana, nak Jehan?"


"Ada beberapa hal yang harus saya urus, Om."


"Apakah nak Jehan sekarang sudah menjadi orang kaya yang sibuk?" Goda Beni yang membuat Jehan tersenyum.


"Tuan muda, saya akan segera kembali."


Begitu Jehan keluar dari kamar itu, Beni pun fokus menatap wajah pucat putra semata wayangnya yang memutuskan hidup dengan tuan kaya raya untuk mencari tahu penyebab dibalik meninggalnya ibunda tercinta.


"Are you oke?"


"Yeah…"


"Apakah diam diam kalian berdua menjalin hubungan lebih dari sekedar pengawal dan sahabat?" Bisik Beni ditelinga Bara.


"Ayah! Kenapa mengatakan hal men ji jik kan seperti itu." Sungut Bara merasa geli dengan pertanyaan ayahnya.


"Oke oke, ayah tidak akan membahas hal menggelikan itu lagi." Beni berhenti tertawa, lalu ia menghela napas cukup dalam.


"Bara…, ayah hanya terlalu khawatir sama kamu. Jadi, berhentilah melakukan penyelidikan tentang kecelakaan itu. Lawan yang kamu hadapi sangat berkuasa dan kuat, nak." Ia mulai serius.


"Aku bukan anak kecil yang bisa ayah takut takuti seperti empat belas tahun lalu. Aku juga sudah cukup kuat untuk melawan tua bangka yang membunuh bunda." Tegasnya.


"Ayah juga sangat marah dan ingin membalas mereka, Bara. Tapi, ayah tidak punya adikuasa yang mampu membantu ayah untuk melindungi diri dari mereka."


"Ayah cukup duduk diam dan lindungi diri ayah sebaik mungkin. Biar aku yang berjuang untuk mencari tahu alasan kenapa tua bangka si Jeydan itu memerintahkan anak buahnya untuk membunuh bunda." Ucapan Bara kali ini sangat menusuk hatinya, hingga membuatnya terdiam merasa malu pada dirinya sendiri.


"Bunda hanya wanita biasa, ayah. Bunda hanya seorang ibu biasa yang hidup bersama anak dan suami yang dicintainya. Bunda bahkan baru saja sembuh dari penyakitnya, lalu tiba tiba mereka membunuhnya…" Lanjut Bara yang kini tersulut Emosi.


"Maafkan ayah, karena empat belas tahun lalu gagal menjaga bundamu." Ucapnya penuh rasa penyesalan.


"Tapi, percayalah Bara… hari itu ayah melaporkan kejadian tabrak lari yang merenggut ibundamu pada Polisi. Mereka berjanji akan menangkap pelakunya. Lalu, keesokan harinya, saat kembali ke kantor Polisi, tidak sengaja ayah melihat Jeydan berjabat tangan sambil tertawa bersama kepala kepolisian, dan kematian bundamu diumumkan sebagai kecelakaan biasa oleh pihak kepolisian." Tuturnya menceritakan kejadian empat belas tahun lalu.


"Saat itulah ayah sadar, sopir mobil yang menabrak bundamu adalah salah satu anak buah Jeydan. Dan Jeydan, adalah seorang Mafia yang bersembunyi dibalik topeng pengusahanya. Ayah tahu itu dengan pasti." Lanjutnya menceritakan.


Bara hanya diam dan mulai memikirkan sesuatu setelah mendengar informasi yang diceritakan ayahnya tentang tua bangka bernama Jeydan itu.


"Apakah mungkin, bunda mengetahui sesuatu tentang kebakaran yang menyebabkan istri dan anak Papa meninggal. Mungkinkah itu motif mereka membunuh bunda?" Ia mulai menerka nerka dalam hati.


"Ayah akan mendoakan semoga kamu segera menemukan bukti bahwa memang Jeydan pelaku yang menyebabkan bundamu meninggal. Tapi, ayah harap kamu lebih berhati hati berhadapan dengannya." Saran Beni pada putranya.


"Tidak usah khawatir, ayah. Aku akan menjaga diri dan tidak akan masuk kedalam perangkap mereka lagi kali ini. Aku akan mencari bukti yang bisa menjebloskan setidaknya anak buah Jeydan yang hari itu menabrak bunda dengan sengaja." Ucapnya penuh tekad. Kali ini Bara benar benar tidak akan lengah lagi. Ia akan bertarung dengan pertarungan yang sebenarnya.


"Tunggu pembalasanku tua bangka. Aku akan menemuimu dan membuatmu bertekuk lutut dihadapanku." Tegasnya berucap dalam hati.