Tuan Putri Yang Hilang

Tuan Putri Yang Hilang
Bab 6 Pria berdarah!


Keyla tengah asik bermain bersama Luna saat mobil Jehan dan Timo melintas cepat melewati klinik yang disusul oleh tiga mobil lainnya dengan kecepatan yang tidak kalah lajunya.


"Sepertinya terjadi sesuatu, Luna." Ujar Keyla bicara pada kucing orange itu sambil menatap keluar dinding kaca klinik.


Lalu, tiba tiba terdengar suara letusan kembang api yang membuatnya terkejut. Tapi, kemudian Matanya menatap kagum percikan kembang api di atas sana. Ia seperti melihat festival kembang api.


"Apakah sudah waktunya pergantian tahun!" Seru Erna, pemilik klinik yang baru kembali setelah pergi kencan. Ia pun ikut kagum melihat percikan kembang api secara tiba tiba.


"Key, sudah waktunya kamu pulang." Ucapnya begitu memasuki klinik.


"Oh ya?" Melirik jam dinding. "Aku bahkan lupa ternyata sudah waktunya untuk pulang sangking terpesonanya dengan pertunjukan kembang api dadakan barusan." Gumamnya.


"Aku juga hampir mengira ini sudah akhir tahun." Sambung Erna yang hanya ditanggapi dengan senyuman oleh Keyla.


"Luna, aku pulang dulu. Sampai bertemu besok." Keyla pamit pada kucing orange yang menggemaskan itu.


"Luna sangat menyukai kamu, Key. Luna tampak senang main sama kamu." Erna menggendong kucing itu.


Keyla hanya tersenyum, lalu meraih tas sandangnya dan bersiap untuk pulang.


"Aku pulang duluan mbak, Erna. Bye Luna…"


"Hati hati dijalan, Key."


"Siap, buk bos." Ia melambaikan tangannya saat melangkahkan kaki keluar dari klinik.


Langkah kakinya semakin cepat hingga tiba di penyeberangan jalan untuk menuju halte bis. Beruntungnya saat itu sedang lampu merah, sehingga ia bisa langsung menyeberang jalan raya dan tiba di halte dengan bis yang juga baru saja berhenti. Ia pun langsung naik bis dan kali ini benar benar bisa duduk nyaman di kursi paling belakang.


Sementara itu, saat Bara fokus merasakan perih di bahunya, pria bertopeng yang berpakaian serba hitam itu menghilang entah kemana.


"Oh tidak, gue masuk ke dalam jebakan mereka." Gumam Bara sambil menahan rasa sakit dibahunya. Untunglah ia memakai jaket kulit hitam yang tebal, sehingga tidak terlihat cairan merah mengalir di sana. Selagi kesadarannya tersisa, tanpa pikir panjang, ia pun menyeberang jalan dan menghentikan bis yang arahnya menuju hotel tadi.


Bara menaiki bis dengan santai seakan tidak terjadi apa apa. Ia memilih duduk di kursi belakang yang berdekatan dengan seseorang yang tidak bisa dilihatnya dengan jelas, karena pengaruh luka yang dialaminya.


"Si al, gue hampir kehilangan kesadaran. Bahu gue terasa semakin sakit." Gumamnya dalam hati.


"Kenapa dia duduk di sini, sih!" Bisiknya dalam hati.


"Ya aku tau, kursi paling belakang memang paling nyaman. Tapi, nggak harus di sebelah aku juga kali. Sebelah sana juga masih kosong kan. Iiihh menyebalkan." Rutuknya berlanjut.


Keyla tidak berani menoleh untuk sekedar melihat wajah pria yang duduk disebelahnya. Yang jelas, ia tahu pria itu berpakaian serba hitam, jaket kulit hitam, celan jeans hitam, sepatu hitam dan topi hitam yang menutupi bagian wajahnya.


"Wangi parfumnya sangat menenangkan." Batin Keyla.


"Tunggu! Ada sesuatu yang menetes kepunggung kakiku." Ucapnya dalam hati. Ia pun menunduk dan termangah saat melihat tetesan darah di punggung kakinya.


"Darah!" Mata Keyla melirik mencari sumber yang membuat darah itu menetes.


Beberapa detik kemudian, mata Keyla melihat darah itu berasal dari tangan kanan pria disebelahnya. Secara bersamaan, pria yang ternyata adalah Bara mengerti bahwa gadis di sampingnya itu mengetahui ia terluka. Dengan segera ia menekan tombol bel bis yang berarti kode dari penumpang yang akan turun. Bis pun menepi, Bara segera turun dari bis tanpa menyadari Hp nya terjatuh di kursi tempat duduknya tadi.


"Tunggu!" Keyla mencoba memanggil, tapi Bara tidak menghiraukan dan menghilang begitu saja sesaat setelah turun dari bis.


"Bagaimana ini? Hp nya tertinggal." Gumam Keyla yang mau tidak mau harus menyimpankan hp tersebut.


Beberapa menit berlalu, Keyla sudah tiba di kamar kosnya. Ia juga sudah selesai berganti pakaian setelah membersihkan tubuhnya.


"Akhirnya, aku bisa istirahat…" Ia merebahkan tubuhnya diatas ranjang. Matanya mulai terpejam, tapi tiba tiba ia bangkit dari posisi nyamanya karena teringat hp yang ditinggalkan pria berdarah di bis tadi.


Hp itu ternyata lowbat, Keyla mengisi dayanya dan menghidupkan hp itu. Saat menyala, tertera 21 panggilan tak terjawab dari kontak yang diberi nama Jehan dan Timo. Ada beberapa pesan juga yang tampil di layar hp itu. Keyla hendak membuka salah satu pesan, tapi hp itu tiba tiba bergetar. Kali ini panggilan dari nomor yang tidak ada namanya.


"Mungkin pemilik hp ini." Pikirnya dengan segera menjawab panggilan tersebut.


"Halo!"


Tidak ada suara yang didengar Keyla selain kesunyian. Ia pun mulai merasa takut dan segera mengakhiri panggilan tersebut.


"Iihh kok jadi seram gini sih." Ia merasa sedikit ketakutan, dan segera tidur berharap malam cepat berlalu.