
Waktu berlalu begitu cepat, hari ini tepat satu minggu Wulan berada di istana megah itu. Ia diperlakukan dengan sangat baik oleh semua orang termasuk ibu tirinya, kecuali Bara. Ia tidak mengerti mengapa Bara sangat tidak menyukainya terlebih setelah melihat hasil tes DNA yang menyatakan seratus persen kecocokan antara dirinya dengan Papanya, tuan Cakra.
"Kak, Bara." Sapanya saat Bara mampir.
Bara terus melangkah menuju ruang kerja Papanya. Ia tidak memperdulikan Wulan sama sekali.
"Kak Wulan." Panggil Klara yang baru pulang sekolah.
"Hai Klara, kamu sudah pulang sekolah?"
"Iya kak. Oh iya, kakak mau nggak ikut ke water park nanti sore." Ajak Klara.
"Mmh, sepertinya nggak bisa sayang."
"Kenapa nggak bisa, kak?" Rengeknya sedih.
"Kakak ada jadwal kuliah. Bentar lagi kakak berangkat ke kampus." Jelasnya.
"Baiklah. Tapi, saat hari libur mau ya ikut aku ke water park." Rengek Klara dengan wajah sangat menggemaskan.
"Iya sayang. Dan sekarang saatnya Klara makan." Wulan mencubit pelan puncak hidung Klara. Lalu, ia membawa Klara menuju kamarnya untuk berganti pakaian terlebih dahulu sebelum makan.
Sementara itu, saat ini Bara sedang diomeli oleh Cakra perihal aduan Wulan yang mengatakan bahwa ia diperlakukan dengan buruk olehnya.
"Papa tahu kamu masih menaruh curiga pada Wulan. Tapi, lihatlah, bukankah kamu sendiri juga sudah memastikan keaslian hasil tes itu."
"Atau jangan jangan kamu cemburu? Takut papa lebih menyayangi Wulan dibanding kamu, gitu?" Lanjut Cakra yang membuat Bara menghela napas malas mendengar ocehan tentang Wulan.
"Percayalah, Bara. Papa sangat menyayangi kamu, Klara dan Wulan. Kasih sayang Papa sama, papa tidak akan membeda bedakan kalian." Lanjutnya.
"Baik, pa. Aku minta maaf, karena memperlakukan Wulan dengan buruk."
"Minta maaf sana sama Wulan. Dia adikmu, kamu yang harus menjaga Wulan dan Klara saat papa sudah tidak ada nantinya." Cakra menepuk bahu Bara untuk menunjukkan betapa ia sangat menyayangi Bara seperti putra kandungnya sendiri.
Bara pun keluar dari ruang kerja Cakra dengan perasaan bersalah karena perlakuan buruknya pada Wulan. Perlakuannya tidak seburuk itu, hanya sekedar mengacuhkan Wulan saja. Tapi, barusan ia tersadar, bahwa Wulan adalah putri kandung papanya yang dulu dikiranya sudah meninggal. Ia harusnya paham, betapa bahagianya Papa setelah menemukan Wulan.
"Kak Bara, sini!" Panggil Klara dari ruang makan.
Bara menoleh, ia tersenyum pada gadis manis itu. Ia pun melangkah menuju meja makan dan duduk tepat di sebelah Wulan.
"Hai, Wulan." Sapanya ragu.
"Cie cie yang udah baikan." Klara menggoda kedua kakaknya yang terlihat malu malu.
"Kak Bara udah makan, belum?" Lanjut Klara.
"Belum."
"Ya udah kalau gitu kita makan bareng aja."
"Boleh." Bara menyodorkan piringnya kearah Wulan, pertanda ia ingin Wulan memasukkan nasi untuknya kedalam piring itu.
Klara tersenyum senang melihat kedua kakaknya sudah mulai akrab. Tidak berbeda dengan Klara, Cakra yang mengintip dari balik pintu ruangannya pun tersenyum bahagia melihat ketiga anaknya mulai akrab dan mereka makan bersama.
"Kamu nggak kuliah, Wulan?" Tanya Bara memulai pembicaraan.
"Iya, aku ada jam kuliah, setelah makan langsung berangkat ke kampus." Jawabnya, kemudian melanjutkan makan.
"Mau bareng aku nggak?"
"Uhukk…" Wulan yang sedang mengunyah makanan tersedak mendengar ajakan Bara untuk ikut bersamanya.
"Nih minum dulu…" Bara bahkan menuangkan air untuknya.
"Pelan pelan saja makannya, jangan buru buru."
"Iya kak Wulan. Makannya pelan pelan aja." Imbuh Klara yang benar benar tidak mengerti dengan situasi yang membuat Wulan tersedak.
Wulan mereguk air yang diberikan Bara padanya. Ia pun mengatur napasnya dan mencoba untuk lebih tenang. "Oh jantung, tolonglah berhenti bergetar terlalu cepat!" Ucap Wulan dalam hati.
"Aku kebetulan ada urusan di daerah kampusmu. Jadi, kalau kamu mau bareng, aku bisa ngantar kamu ke kampus." Bara menjelaskan alasannya menawarkan tumpangan pada Wulan.
"Apa tidak merepotkan kak Bara?" Pura pura jual mahal.
"Nggak kok. Lagian kan emang aku mau lewat sana, dan ada urusan juga di daerah sana."
"Kalau begitu, aku mau berangkat bareng kak Bara." Wulan tersenyum senang, ia pun melanjutkan menyendok makanan dipiringnya.
"Ok." Jawab Bara singkat. Ia juga melanjutkan untuk menghabiskan makanan dipiringnya.