Tuan Putri Yang Hilang

Tuan Putri Yang Hilang
Bab 21 Si Manis melahirkan


Begitu taksi itu pergi membawa pak tua yang entah bisa atau tidak di percaya omongannya, Jehan langsung menghubungi seseorang menggunakan handphonenya.


"Ikuti taksi itu. Selidiki apapun tentang pria itu!" Perintahnya pada seseorang di seberang sana.


Jehan kembali ke dalam rumah. Ia menghampiri Bara yang masih berjongkok diam tepat seperti saat ia tinggalkan beberapa menit yang lalu.


"Tuan muda, saatnya kembali ke kamar anda."


"Je, aku rasa pak tua itu mengatakan yang sebenarnya."


"Tuan muda tidak boleh terlalu cepat menyimpulkan. Terlebih pak tua tadi…"


"Je, gue pernah mendengar kisah dua puluh tahun lalu secara rinci dari om Diki." Bara memotong ucapan Jehan.


"Baik, kalau memang seperti itu. Saya akan meminta om Diki datang ke mari untuk menceritakan kisah tersebut." Jehan membantu Bara untuk berdiri. Ia pun memapah Bara untuk kembali ke kamarnya.


Sementara itu, saat ini Timo sedang berada di Klinik hewan. Ia membawa kucing kesayangan mamanya yang akan segera melahirkan.


"Timo, cepat panggil dokternya. Manis sudah hampir lahiran ini…" Mamanya heboh sendiri, sementara si Manis hanya sesekali mengerang saat terasa sakit di perutnya.


"Ma, ini masih jam delapan. Klinik buka setengah jam lagi." Jelasnya.


"Telpon dong dokternya. Itu ada nomor telepon yang bisa di hubungi." Mama menunjuk nomor kontak darurat yang tertera di spanduk besar klinik.


"Iya, Ma." Saat Timo hendak mengeluarkan handphonenya, mobil berhenti tepat di sebelah mobilnya.


Pemilik mobil itu turun dari mobil dengan baju dokternya. Timo terpesona melihat kecantikan dokter itu, terlebih rambut sebahu yang terurai rapi membuat Timo tidak berhenti menatap kearah dokter itu.


"Bu dokter, ya?" Tanya Mamanya pada wanita itu.


"Iya, bu. Ada yang bisa saya bantu?" Tanya wanita itu ramah.


"Kucing saya akan segera melahirkan. Tolong di bantu, dokter…" Mama tampak bingung, karena tidak tahu siapa nama dokter cantik itu.


"Erna, bu. Saya dokter Erna." Ia membuka klinik.


"Oo bu dokter Erna ya namanya." Ulang mama sambil menggoda Timo.


"Apaan sih Ma, bikin malu aja." Bisik Timo.


"Udahlah nggak usah malu malu kucing gitu. Mama tau kamu suka sama dokter Erna." Balas mama berbisik.


"Silahkan masuk, bu."


"Baringkan kucingnya di sini, bu."


"Iya dokter."


Erna pun mulai memeriksa perut si manis yang sangat besar. Ia meraba raba seperti memberikan pijatan diperut kucing itu.


"Sepertinya ada lima bayi kucing yang akan lahir, bu." Ujar Erna.


"Benarkah? Wah saya akan memiliki banyak bayi." Mama Timo kegirangan.


Handphone Timo bergetar. Ia mendapat panggilan telepon dari Jehan.


"Ma, aku tunggu di luar ya." Bisiknya pada Mama.


"Iya. Nanti mama kenalin sama dokter Erna setelah manis melahirkan."


"Iih mama apaan sih." Timo pun langsung keluar dari klinik. Ia masuk ke mobilnya untuk menjawab panggilan dari Jehan.


"Iya, Je. Ada apa?"


"Gue lagi di klinik, kucing mama, si Manis mau lahiran." Lanjutnya menjawab Jehan.


"Jemput om Diki? Sekarang! Maksud loe, gue jemput om Diki sekarang?"


"Iya iya. Gue segera bawa om Diki kesana sekarang." Ulangnya.


Sebentar Timo masuk ke klinik. Ia berbisik pada Mamanya lalu kembali meninggalkan klinik untuk menjemput om Diki.


"Apa pria tadi anak ibu?" Tanya Erna penasaran.


"Iya bu dokter. Namanya Timo, putra saya satu satunya."


"Panggil Erna saja, bu." Sarannya.


"O ya? Benaran boleh panggil nama saja?"


"Tentu boleh, bu."


"Jadi, Timo itu anak saya, dek Erna. Dia masih sendiri loh. Bekerja sebagai sekretaris perusahaan besar, membuatnya tidak punya waktu untuk berkenalan atau pun menjalin asmara dengan wanita." Ia mempromosikan putranya pada Erna yang hanya menanggapi dengan senyuman ramah.


"Tampan dan berkarisma." Puji Erna dalam hati. Tidak bisa dipungkiri, ia juga tertarik pada Timo.