
Wulan menatap Keyla dengan penuh rasa benci. Ia tidak menyangka Keyla begitu berani memeluk tubuh Bara. Wulan hendak melangkah untuk menjauhkan Keyla dari Bara, tapi sebelum itu terjadi, kedua tangan Bara membalas pelukan Keyla dan memberi kecupan hangat di puncak kepala Keyla.
"Apakah kamu sangat merindukan aku?" Tanya Bara.
"Mati aku!" Pikir Keyla.
Perlahan ia melepas pelukannya yang juga diikuti oleh Bara. Keyla tersenyum mendongak mentap wajah Bara yang juga tersenyum padanya. Keyla tahu senyuman itu palsu.
"Mmm, aku sangat merindukan tuan muda." Jawab Keyla dengan suara yang menggemaskan.
"Wueekkk…" Keyla hendak muntah dalam pikiranya mendapati dirinya yang melakukan hal gila demi membalas dendam pada Wulan.
Bara menghela napas. Sungguh ia tidak menyangka Keyla akan begitu menggemaskan. Jantungnya bahkan berdegup kencang. Andai Keyla masih menyender kepalanya didada bidangnya, detak jantung itu akan terdengar jelas.
"Kak Bara!" Panggil Wulan.
Ia melangkah mendekti Bara, lalu memeluk Bara seperti yang dilakukan Keyla barusan.
"Wulan."
Bara melepaskan diri dari pelukan Wulan.
"Kak Bara!" Rengek Klara.
Bara menoleh kearah gadis kecil kesayangannya. Lalu ia melangkah menghampiri dan langsung menggendong Klara.
"Keyla, ini Klara adik kecilku." Tutur Bara memperkenalkan Klara pada Keyla.
"Hai Klara!" Sapa Keyla ragu.
"Kak Bara, dia itu jahat. Dia memperlakukan kak Wulan dengan buruk saat masih di panti." Celoteh Klara.
Ia mengadukan perlakuan buruk Keyla pada Wulan saat masih di panti.
Keyla menatap tajam pada Wulan yang tersenyum sinis. Sedangkan Bara terdiam menatap reaksi Keyla dan Wulan barusan.
"Kak Keyla tidak seperti itu, sayang. Mungkin kak Wulan salah paham waktu itu."
Bara membela Keyla. Hal itu membuat Wulan semakin cemburu dan terbakar emosi.
"Kak Keyla itu pacar kak Bara." Aku Bara pada Klara.
Pengakuannya barusan membuat semua yang ada di sana terperangah kaget, begitu juga dengan Keyla.
"Kamu… Keyla yang bekerja di Klinik dokter Erna itu, kan?" Tanya Timo pada Keyla.
Pertanyaan itu membuat Bara menoleh pada Timo, begitu juga dengan Keyla dan Wulan.
"Kamu mengenal Keyla?" Tanya Bara pada Timo.
Timo pun mengangguk yakin.
Wulan menatap ciriga pada Timo dan Keyla.
"Syukurlah jika kalian sudah saling mengenal." Ucap Bara tersenyum.
Ia menghampiri Keyla, lalu merangkulnya dengan mesra. Sementara Klara masih berada dalam gendongannya. Mereka terlihat seperti keluarga bahagia.
"Timo, mulai sekarang kamu harus memperlakukan Keyla dengan baik. Dia adalah kekasih saya." Lanjut Bara memperkenalkan Keyla pada Timo.
"Baik tuan muda."
Timo ikut dalam akting gila tuan mudanya dan Keyla. Ia tahu, Bara ingin membuat Wulan merasa kesal dan menjauh darinya.
"Ya sudah kalau begitu, kita masuk sekarang!" Ajak Bara.
Timo mengabil alih Klara dari gendongan Bara. Ia menggendong Klara masuk ke rumah lebih dulu. Sementara, Wulan tampak kesal dan malas untuk ikut melangkah masuk ke rumah itu.
"Wulan, kenapa diam saja. Ayok masuk!" Ajak Bara.
Wulan tidak berkutik. Dia diam saja dengan mata yang tampak berkaca kaca.
"Kamu masuk saja duluan." Bisik bara pada Keyla.
Keyla pun langsung masuk menyusul Timo dan Klara. Sedangkan Bara menghampiri Wulan. Ia menggandeng tangan Wulan, lalu memapahnya untuk ikut masuk.
"Maafkan kakak, ya. Kakak hanya mencoba menjadi pacar yang baik untuk Keyla." Bisik Bara.
"Apa kalian benar benar pacaran?" Tanya Wulan penasaran.
"Sepertinya begitu. Kakak jatuh cinta pada pandangan pertama, saat bertemu Keyla di panti waktu kakak menjemput kamu." Tutur Bara.
Ia sengaja mengatakan itu untuk membuat Wulan semakin kesal. Karena, Bara penasaran sosok seperti apakah Wulan sebenarnya. Karena selama berada di rumah Papanya, Bara hanya melihat semua kebaikan dan kelembutan Wulan saja.