Tuan Putri Yang Hilang

Tuan Putri Yang Hilang
Bab 8 Diikuti...


Tadi malam Timo dan Jehan menemukan keberadaan handphone Bara. Tapi, mereka masih belum menemukan keberadaan Bara hingga saat ini.


"Loe harus tetap di kantor. Pastikan semua urusan perusahaan tetap berjalan seperti biasanya. Gue yang akan mengawasi gadis itu." Jehan menyarankan pada Timo.


"Baiklah." Jawabnya lesu. Ia sangat mengkhawatirkan Bara.


"Gue pastikan akan mememukan tuan muda hari ini juga."


"Temukan tuan muda dalam keadaan seperti apapun. Mmh, semoga dia baik baik saja."


Timo pun pindah ke mobilnya dan melaju menuju perusahaan. Sementara Jehan masih tetap di mobil untuk mengintai pergerakan gadis pemilik kamar kos di lantai dua yang memiliki titik keberadaan handphone milik Bara.


"Kenapa gadis itu belum juga keluar. Atau jangan jangan…" Jehan merasa sesuatu yang buruk mungkin terjadi pada gadis itu. Ia bahkan hampir membuka pintu mobil untuk segera menghampiri kamar kos itu, tapi sebelum pintu mobil terbuka, gadis itu keluar dari kamarnya.


"Loh bukankah dia…" Saat melihat wajah gadis itu, Jehan mengingat sesuatu.


"Dia... si gadis pelayan Caffe kopi!" Tebaknya yakin.


Gadis yang di maksud oleh Jehan adalah Keyla. Saat ini, Keyla sedang berjalan menuju halte. Secara perlahan Jehan mengikuti dengan melajukan mobilnya sangat pelan, berharap target tidak menyadari dirinya sedang diikuti.


"Oh waw, sepertinya saya sedang diikuti." Batin Keyla. Ia menyadari dirinya diikuti, tapi ia tetap berjalan santai seakan tidak tahu apa apa.


"Apa orang itu mengincar handphone ini kali ya, atau dia pemiliknya?" Keyla menerka nerka dan terus bicara dalam hatinya, hingga tidak sadar dia sudah tiba di halte.


Tidak sampai satu menit ia menunggu, bis pun tiba. Ia duduk di kursi belakang seperti tadi malam.


"Wah, ternyata aku benaran bisa duduk nyaman dan tetap mengawasi mobil itu." Ucapnya dalam hati.


Jehan terus mengikuti bis yang ditumpangi Keyla. Sementara Keyla malah pura pura tertidur sembari menunggu bis tiba di halte berikutnya di depan Indomart. Ia menundukkan kepalanya sehingga Jehan tidak lagi bisa melihat apa yang dilakukannya. Ia mengeluarkan Handphone itu dari dalam tasnya untuk memeriksa apa yang ada dalam hp itu sehingga dirinya diikuti.


Keyla membuka kontak yang tersimpan disana. Hanya ada beberapa nama yang disimpan dalam kontak panggilan.


"Hah tidak ada apa apa. Bahkan foto saja tidak ada. Hp ini bahkan tidak dikunci sama sekali." Ucapnya. Ia kembali menyimpan hp itu kedalam tasnya.


Tidak terasa bis berhenti. Keyla pun turun dan langsung memasuki Indomart. Ia sempat mengintip mobil yang sejak tadi mengikutinya juga berhenti tidak jauh dari Indomart. Ia memilih untuk berpura pura tidak tahu dan melanjutkan pekerjaannya seperti biasa.


"Nin, aku duluan ya!" Sahutnya saat pekerjaan telah selesai.


"Iya. Jangan lupa makan siang, nanti pingsan loh." Ujar Nina sedikit berteriak.


Keyla hanya mengacungkan tangannya menanggapi ucapan Nina. Lalu ia melangkah menuju halte dan melanjutkan perjalanan menuju Caffe. Dan Jehan masih terus mengikutinya. Ia menunggu di luar Caffe sampai Keyla selesai bekerja. Kemudian Ia juga mengikuti Keyla hingga ke Klinik.


"Haruskah aku temui?" Batin Keyla saat menyeberang jalan menuju klinik.


"Nanti saja. Aku harus bekerja sekarang!"


Saat Jehan memasuki lorong gelap di sebelah klinik, dengan tanpa takut Keyla mengikutinya dan langsung meraih tangan Jehan dan tiba tiba Jehan merasa tubuhnya seakan terangkat, kemudian tubuh kekarnya itu dibanting ke tanah. Ia terkejut, mengetahui gadis itu ternyata jago silat.


"Siapa kamu?" Tanya Keyla saat dia berhasil membanting tubuh Jehan ke tanah.


Bukan Jehan tidak menyadari dirinya diikuti seseorang, hanya saja ia memang sengaja ingin tahu apa yang akan dilakukan gadis itu padanya. Dan ternyata gadis itu sangat membuatnya tetkejut.


"Hahahh…" Jehan sedikit tertawa, lalu ia bangkit dan berdiri tepat di hadapan Keyla.


"Kenapa kamu tertawa? Apa ada yang lucu?" Tanya Keyla yang terdengar sedikit gemetar. Tidak bisa dipungkiri meski jago bela diri, ia merasa takut saat menyadari pria di depannya memiliki tubuh kekar dan jauh lebih tinggi darinya.


Jehan menatap serius wajah Keyla. Ia tahu gadis itu sedang ketakutan. "Kamu memiliki sesuatu yang bukan milikmu. Kembalikan benda itu." Ucap Jehan datar.


"Memangnya apa yang aku miliki dan bukan milikku? Aku tidak mengerti." Tegas Keyla dengan berlagak menyombongkan diri.


"Handphone. Kembalikan... atau saya akan merebutnya dengan paksa." Kali ini Jehan benar benar serius akan melakukan tindakan kasar jika gadis itu masih terus bermain main.


"Aaaa, ternyata tebakanku benar. Kamu mengikuti aku untuk mengambil hp ini, kan?" Celoteh Keyla bangga karena tebakannya benar.


"Gadis ini tidak kenal takut ternyata." Gumam Jehan dalam hati.


"Tapi hp ini sepertinya bukan punya kamu, deh." Sambung Keyla.


Jehan merasa tertantang tapi, ia tidak mau berurusan lebih jauh dengan Keyla.


"Saya kenal siapa pemilik handphone itu. Dia tiba tiba menghilang tadi malam dan saya mengikuti kamu untuk mencari tahu keberadaannya." Jehan akhirnya memutuskan untuk bicara baik baik pada gadis itu.


Sebentar Keyla menatap wajah datar pria itu. Lalu, dia mengeluarkan hp yang ingin direbut pria itu darinya.


"Ya sudah ini ambil. Aku tidak tahu siapa pemiliknya, dan aku tidak ada kaitan sama sekali dengan pria berdarah itu." Keyla keceplosan mengatakan hal itu.


"Pria berdarah? Apa maksudmu..." Jehan semakin merasa khawatir terjadi sesuatu pada Bara.


"Aaa… jadi begini…" Keyla menceritakan kronologinya hingga hp itu bisa sampai padanya.


"Lalu, apa kamu ingat, dimana bis berhenti saat dia turun?" Tanya Jehan khawatir.


Melihat raut wajah khawatir Jehan, membuat Keyla berpikir bahwa Jehan mungkin seseorang yang benar benar mengenal pria berdarah itu.


"Dia turun di depan Hotel..."


Belum selesai Keyla menyebutkan nama hotel, Jehan sudah berlari pergi meninggalkannya yang masih merasa kebingungan dan tidak mengerti dengan situasi yang dialaminya saat ini.