
[18:53]
Yuda tiba di Villa mawar. Ia langsung menuju kamar Jeydan setelah mendapat persetujuannya.
"Maaf saya harus mengganggu tuan."
Yuda melirik kearah ranjang yang disana seorang wanita tengah terlelap. Wanita itu berbaring miring sehingga Yuda tidak bisa melihat wajahnya.
"Kamu menginginkan ja lang itu?" Tanya Jeydan saat menyadari Yuda menatap tubuh wanita yang beberapa saat lalu membuatnya berkeringat.
"Tidak tuan." Yuda langsung mengalihkan pandangannya.
"Apa lagi kali ini hingga kamu terburu buru ingin menemui saya?"
Jeydan meminta Yuda menghidupkan sebatang rokok untuknya.
"Tadi siang, Bara mengantarkan sample darah ke lab. Dan saya membawa hasilnya, tuan?"
Yuda ikut duduk di sofa panjang tepat di depan Jeydan. Ia menyerahkan amplop yang dibawanya pada majikannya itu. Kemudian, Jeydan pun langsung membuka amplop tersebut dan dia diam untuk sesaat.
"Ada apa tuan?"
"Apa kamu sudah melihat isi amplop ini?" Tanya Jeydan datar.
"Belum sama sekali tuan."
"Apa kamu tahu sample darah siapa yang diantarkan Bara ke Lab?" Lanjut Jeydan.
"Sample darah Cakra dan seorang gadis yang mungkin merupakan putri kandung Cakra. Karena rupanya Bara mulai mencurigai Wulan, tuan." Jelas Yuda.
Brraaakkk...
Tiba tibaYuda menghempaskan amplop itu kelantai bersamaan dengan selembar kertas yang membuatnya tersulut emosi yang meluap.
"Ada apa tuan?" Tangan Yuda meraih selembar kertas itu, ia membaca sesaat.
"Brengsek⦠Bara menipu kita, tuan." Ucap Yuda sambil menggertakkan gerahamnya. Ia juga mengepal tinjunya.
Kertas itu menyatakan sample darah yang diberikan Bara adalah darah seekor tikus.
"Dimana dia sekarang? Kamu harus memerintahkan anak anakmu untuk menghabisi Bara malam ini juga." Teriak Jeydan murka.
"Kejar dia. Kejar bahkan ke lubang semut sekalipun." Jeydan memberi perintah.
"Baik tuan. Saya akan memerintahkan orang orang kita yang ada di Thailand untuk membunuh Bara Leonardo."
Saat Yuda menyebutkan nama lengkap Bara, wanita yang berbaring diatas kasur itu terbangun. Perlahan ia menarik selimut lalu membalut tubuhnya dengan selimut tebal itu, kemudian ia melangkah menuju kamar mandi.
Mata Yuda tidak bisa berpaling dari wanita itu. Ia penasaran dengan wajah wanita itu.
"Sepertinya aku pernah bertemu dia!" Seru Yuda dalam hati.
"Yuda, antarkan saya ke markas sekarang!"
Jeydan tiba tiba mematikan rokoknya. Ia bangkit dari posisi duduk dan langsung memakai pakaiannya tanpa membersihkan diri terlebih dahulu setelah pergumulannya dengan wanita yang kini tengah menelpon seseorang untuk memesankan tiket penerbangan ke suatu tempat untuknya.
"Tunggu apa lagi!" Seru Jeydan pada Yuda yang diam mematung.
"Baik tuan." Yuda ikut melangkah mengekor dibelakang tuannya.
Sementara itu, wanita tadi langsung membersihkan diri. Ia pun segera mengenakan pakaiannya kembali.
"Nona mau kemana?" Tanya seorang pembantu di rumah itu.
Pembantu itu memasuki kamar itu atas perintah Jeydan untuk mengantarkan makanan pada wanita itu.
"Saya harus segera pergi, bik. Tolong sampaikan pada tuan Jey, saya mendapat job baru dari lelaki lain." Bisiknya ditelinga pembantu itu.
"Baik nona." Jawabnya ragu.
Wanita itu pun segera pergi dari Villa mawar. Ia menaiki taksi menuju bandara untuk segera terbang ke tujuannya.
"Apakah kali ini aku benar benar akan bertemu dengannya?" Ucapnya penuh harap.
"Sungguh aku sangat merindukanmu."
Wanita itu memejamkan matanya, lalu bulir bening menetes dari pelupuk matanya.
"Tuhan, izinkan aku melihatnya meski hanya untuk sebentar. Aku sangat merindukannya." Batinnya.
Taksi membawa wanita itu untuk segera tiba di bandara dengan cepat dan tepat waktu.