Tuan Putri Yang Hilang

Tuan Putri Yang Hilang
Bab 69 Menemukan bukti baru


Bara keluar dari rumah profesor dengan perasaan yang berkecamuk. Dia tidak tahu harus berbuat seperti apa. Dan pada saat itu Timo menghubunginya.


"Halo, Timo." Jawabnya.


"Cafe? Mmm, baiklah saya akan langsung ke Cafe."


Bara pun langsung mengemudikan mobilnya menuju Cafe. Sementara Jehan masih di rumah profesor. Karena ada sesuatu yanng harus dipastikannya. Dan sepertinya Jehan akan mendapatkan jawaban yang mengejutkan kali ini.


Karena begitu Bara pergi dari rumah itu, Profesor langsung memindahkan sebuah memori card kecil ketempat yang lebih aman menurutnya. Dia menyimpan memori card itu kedalam laci kecil di meja kerjanya dengan mengunci laci itu.


Kemudian dia menelpon seseorang. "Saya sudah melakukan apa yang diperintahkan. Saya tidak mau lagi terlibat dengan kalian."


Setelah mengatakan itu, Profesor meninggalkan ruang kerjanya. Dan pada saat itulah Jehan keluar dari persembunyiannya untuk mengambil barang yang disembunyikan oleh profesor.


"Apa yang disembunyikan Profesor dalam memori card kecil ini." Jehan memandangi memori card itu yang kini sudah berada ditangannya.


Dia segera membawa memori card itu keluar dari rumah profesor. Kemudian Jehan pun bergegas menuju cafe untuk menemui Timo dan Bara. Ya, beberapa saat lalu Jehan juga mendapat pesan dari Timo untuk segera ke cafe.


Saat Jehan dan Bara sedang dalam perjalanan menuju cafe, justru Wulan dan Klara sedang asik berenang sambil bermain dikolam renang rumah mereka. Cakra dan Karina memperhatikan kedua putri mereka sambil tersenyum bahagia.


"Terimakasih sayang. Kamu memang istri yang paling baik. Kamu mau menerima Wulan dan memberikan kasih sayang yang tulus pada Wulan meski bukan putrimu." Ungkap Cakra pada Karina.


"Tidak perlu berterimakasih, mas. Aku malah yang harusnya berterimakasih. Mas menerima aku dengan segala kekuranganku dan menjadikan aku ratu dalam istana cintamu." Ujar Karina.


Cakra tersenyum senang. Ia memeluk erat istri tercintanya itu. Cakra benar benar tulus mencintai Karina. Tapi, bagaimana reaksi Cakra nanti ketika tiba saatnya dia mengetahui siapa Karina sebenarnya.


"Papa, mama, ayok ikut renang." Teriak Klara dan Wulan.


Karina dan Cakra hanya tersenyum sambil melambaikan tangan pada kedua putri cantik mereka. Setidaknya itulah yang diyakini Cakra saat ini.


Sementara itu, di Cafe kopi. Jehan, Timo dan Bara sudah berkumpul. Mereka memesan minuman dan mengobrol ringan sebelum Timo memperlihatkan apa yang ditemukannya kali ini.


"Hal penting apa?"


Raut wajah Bara tampak berubah sendu dan terlihat lelah. Dia memang lelah setelah mendengar kenyataan bahwa gadis yang dicintainya adalah putri dari orang yang mungkin membunuh bundanya.


"Saya mendapat kiriman ini dari Mona." Ucap Timo sambil menyodorkan paper bag kecil kehadapan Bara dan Jehan.


"Mona?"


"Iya tuan Muda, Mona meminta salah satu anak buahnya untuk mengantarkan ini pada saya."


"Mona siapa?" Tanya Jehan yang masih agak bingung.


"Mona, cewek yang dulu tergila gila sama tuan muda, Je." Tutur Timo.


"Mona yang centil itu?"


Bara dan Timo mengangguk.


"Kenapa dia mengirimkan ini pada tuan muda? Jangan jangan dia adalah mata mata dari Jeydan." Jehan menaruh curiga pada Mona.


Itu karena memang dia tidak tahu saat di Thailand Bara dan Mona bertemu. Bahkan Timo bisa selamat dari anak anak buah Jeydan juga karena Mona.


"Mona yang memberitahu saya bahwa anak buah Jeydan menyerang Timo saat kita di Thailand." Tutur Bara menjelaskan.


"Jadi Mona yang memberitahukan bahwa anak buah Jeydan akan membunuh tuan muda malam itu?"


"Iya." Jawab Bara yang membuat Timo dan Jehan saling bersitatap untuk saling meyakinkan tentang apa yang baru saja diceritakan Bara.