Tuan Putri Yang Hilang

Tuan Putri Yang Hilang
Bab 40 Ibu peluk aku...


Timo duduk diam di sofa ruang tunggu, badanya terasa remuk dan agak memar dibagian lengannya. Sedangkan Keyla berdiri di pojok ruangan itu menundukkan kepalanya. Ia merasa bersalah karena telah salah mengira, hingga membanting tubuh Timo yang merupakan wali pasien mereka.


"Ini minum dulu, Timo." Erna datang membawakan secangir teh hangat.


"Benaran tidak ada yang patah?" Ulang Erna masih kurang yakin. Ia mendengar suara yang sangat keras saat Keyla membanting tubuh Timo ke lantai.


"Iya. Aku baik baik saja. Memang agak sakit sih, tapi tidak apa apa kok." Jawabnya yang memang sudah merasa sedikit membaik.


"Keyla, kamu tidak ada niatan mau minta maaf sama pak Timo?" Erna menatap tajam kearah Keyla.


"Maafkan saya pak Timo." Ia menundukkan tubuhnya dari tempatnya berdiri sebelumnya.


"Maafkan kesalahan saya pak Timo. Maafkan saya…"


Timo mengangguk kasihan melihat Keyla yang berkali kali meminta maaf padanya.


"Tidak usah meminta maaf. Saya sudah memaafkan kamu kok. Lagi pula kamu hanya reflek karena terkejut. Mungkin jika saya di posisi kamu juga akan melakukan hal yang sama." Ungkap Timo.


"Maafkan saya, saya terlalu ceroboh. Maafkan karena saya anda merasa kesakitan…" Ulang Keyla. Dan kali ini, ia mengatakan itu sambil menangis.


"Tidak apa apa kok, saya benar benar sudah memaafkan kamu. Jadi jangan sedih ya…" Timo merasa kasihan pada gadis itu.


Erna malah terdiam melihat Keyla yang bertingkah seperti itu. Padahal ia tidak memarahi Keyla segitunya. Ia hanya menyuruh Keyla meminta maaf pada Timo.


"Key, kamu kenapa?" Erna menghampirinya dan melihat air mata menetes dari pelupuk matanya.


"Keyla, berhentilah meminta maaf. Ini bukan sepenuhnya kesalahan kamu kok. Mbak juga salah karena lupa bilang samu kamu..." Erna mencoba membujuk Keyla yang tampak semakin sedih.


"Sekali lagi maafkan saya. Maafkan saya mbak Erna, sepertinya saya akan cuti malam ini." Ucapnya sambil terisak. Lalu, Keyla langsung berlari keluar dari klinik setelah mengambil tasnya diatas meja tepat didepan Timo.


"Apa gadis itu asisten kamu?" Tanya Timo.


"Iya. Dia tidak seperti ini sebelumnya. Dia adalah gadis yang ceria dan tidak pernah menganggap serius saat aku menegurnya atau bahkan marah ketika dia melakukan kesalahan."


"Dia tampak sangat sedih. Sepertinya terjadi sesuatu. Sebaiknya kamu mengejarnya, Er."


"Tidak. Matanya mengatakan ia ingin sendirian..."


"Kalau boleh menebak, sepertinya gadis itu bukan hanya asisten atau pekerja paruh waktu saja bagimu."


"Tebakanmu benar. Dia seorang adik bagiku."


"Aku merasa bersalah, karena membuat adik kecilmu bersedih seperti itu." Ungkap Timo.


"Tidak usah khawatir. Besok dia akan kembali ceria seperti semula." Tutur Erna.


Dan disinilah Keyla saat ini. Di salah satu toilet umum. Ia menagis terisak sambil menghidupkan keran air agar tangisnya tidak terdengar oleh orang lain.


"Keyla, kenapa kamu sangat cengeng akhir akhir ini. Kenapa air mata selalu menetes saat aku tidak ingin menangis… hhiikkss." Ia merutuki dirinya sendiri.


Bukan tanpa alasan air matanya menetes. Sebenarnya saat dalam perjalanan menuju Klinik, ia berpapasan dengan Wulan yang hendak ke Caffe bersama teman teman kampusnya. Keyla tersenyum ramah pada Wulan yang menatap seakan tidak mengenalnya. Semakin dekat langkah mereka, Keyla semakin mengembangkan senyumnya, tapi Wulan malah memalingkan wajahnya seakan tidak saling mengenal.


"Wulan pasti tidak begitu jelas melihatku. Dia tidak mungkin mengabaikan aku, kan?" Ucapnya sambil terisak. Lalu ia kembali menangis.


"Kenapa disini terasa sangat sakit… sakit sekali. Ibu… andai aku punya ibu, andai ibu itu ada, apakah dia akan memelukku disaat aku bersedih seperti ini?"


Keyla masih terus menangis. Ia bahkan memeluk dirinya sendiri sambil membayangkan seseorang mendekapnya penuh kasih untuk menenangkan hatinya yang terasa sangat sakit.