
[07:56]
Drriiittttt…
Berkali kali handphone Keyla bergetar. Panggilan masuk dari Nina yang sudah sebanyak delapan kali masih belum ada yang dijawabnya. Keyla berbaring dilantai disamping ranjangnya. Keningnya penuh dengan keringat, ia tampak tidak sehat.
Drriiittt…
Handphonenya kembali bergetar, kali ini Keyla mendengar suara itu. Ia pun meraih hp yang tergeletak diatas kasurnya.
"Nina!" Matanya sedikit terbuka untuk melihat siapa yang menghubunginya.
"Halo, Nin." Suaranya serak.
"Aku nggak masuk hari ini, aku demam." Sambungnya menjawab pertanyaan Nina.
"Udah minum obat kok, nanti juga baikan." Lanjutnya.
"Aku sudah sarapan, baru juga selesai." Ucapnya berbohong saat Nina menawarkan membawakan sarapan dan obat untuknya.
"Udah dulu ya, Nin. Aku mau istirahat."
Keyla yang sejak semalam merasakan panas yang teramat sangat disekujur tubuhnya, kini mulai menggigil. Ia pun memindahkan tubuhnya untuk berbaring di atas kasur.
"Kenapa aku malah demam? Harusnya aku tidak demam saat tidak ada siapapun yang merawatku." Ocehnya sambil menyelimuti dirinya sendiri yang semakin menggigil.
Sebenarnya Keyla belum sarapan, ia juga belum ninum obat apapun sama sekali. Dan sekarang tubuhnya menggigil, ia bersembunyi dibalik selimut tebalnya, namun ternyata tubuhnya masih terasa menggigil.
Sementara di kediaman keluarga Cakra, Wulan sedang membereskan tempat tidurnya yang berukuran queen size. Ia bahkan bernyanyi sambil merapikan sprei dan selimutnya. Tapi, sejenak ia teringat saat berpapasan dengan Keyla di depan Caffe tadi malam.
"Aaahh, terserah. Lagi pula, aku tidak mau teman temanku mengenalnya. Toh sekarang aku dan Keyla sudah berbeda kasta. Dia hanya yatim piatu yang miskin, sementara aku seorang tuan putri." Gumamnya dalam hati.
"Wulan, apa yang kamu lakukan, nak!" Seru Karina yang melihat Wulan merapikan tempat tidurnya sendiri.
"Mama!" Ia menghentikan aktivitasnya.
"Kenapa kamu merapikan kamarmu sendiri, nak. Biarkan saja pelayan yang melakukannya. Toh mereka dibayar mahal untuk pekerjaan ini." Ujar Karina.
"Oh, sayangku." Karina memeluk Wulan sambil mengelus lembut punggungnya.
"Mulai saat ini, jangan mengerjakan apapun. Tugas kamu, hanya menjadi tuan putri yang dilayani oleh para pelayan." Melepaskan pelukan.
"Baik, Ma."
"Ya sudah, kalau begitu mari kita sarapan." Karina menuntun Wulan menuju meja makan untuk sarapan. Disana sudah ada Cakra, Bara dan Keyla yang menunggu untuk sarapan bersama.
"Selamat pagi, sayang! Apa tidurmu nyenyak?" Tanya Cakra pada Wulan.
"Pagi, Papa. Tidurku sangat nyenyak, terlebih karena aku berada di kamar yang sangat nyaman dan mewah." Ucapnya yang membuat Cakra, Karina dan Klara tertawa. Sementara Bara cuek saja, ia bahkan mulai menyantap sarapannya.
"O iya pa. Aku sama kak Wulan mau bermain ke water park nanti sore, lalu setelah berenang kita akan bermain ke fun park. Iya kan kak Wulan."
"Iya, pa, ma. Sejak kemarin Klara merengek minta ditemani bermain ke water park." Jawab Wulan.
"Silahkan. Nanti pak Wawan yang akan mengantarkan kalian." Ucap Cakra.
"Bara tidak ikut bermain bersama?" Tanya Karina.
"Iya kak Bara. Ayo ikut!" Rengek Klara.
"Kak Bara sudah ada janji, sayang. Lain kali aja ya kak Bara ikut." Jawab Bara.
"Memangnya kak Bara janjian sama siapa?" Wulan memberanikan diri untuk menanyakan pertanyaan yang paling tidak disukai Bara.
"Adalah pokoknya." Jawab Bara menahan rasa kesalnya.
"Lain kali kak Bara akan menemani Klara sama Wulan. Hari ini kak Bara ada urusan. Iya kan kak Bara?" Ujar Cakra mencoba menghibur rasa sedih kedua putrinya karena Bara tidak bisa ikut bermain bersama.
"Iya." Jawab Bara singkat.
Sarapan pun berlanjut dengan tenang hingga selesai.