Tuan Putri Yang Hilang

Tuan Putri Yang Hilang
Bab 26 Gadis kecil


"Hahh..." Bara menghela napas lega begitu tiba diluar. Ia merasa tercekik di dalam sana.


"Je, kamu yakin gadis itu putri kandung Papa?"


"Saya belum bisa menjawab sebelum melakukan tes DNA, tuan muda." Jawabnya dengan bahasa formal, padahal Bara mengajaknya bicara santai.


"Ehemm… Ukkhhuk..." Keyla sengaja pura pura batuk saat langkahnya mendekati dua pria itu.


Sontak Bara dan Jehan menatap kearah sumber suara batuk yang menggaggu telinga mereka.


"Sudahku duga, anda pria yang mengikuti aku seharian hanya demi mengambil handphone itu, kan?" Ujar Keyla, ia melangkah mendekati mobil Bara, sengaja untuk mengingatkan Jehan pada hari saat mengikutinya seharian.


"Kamu mengikutinya seharian?" Bisik Bara.


"Saya mengikutinya untuk mendapatkan hp anda tuan muda." Jawab Jehan yang juga berbisik.


"Kalian pasti orang suruhan tuan Cakra itu, kan?" Ujar Keyla sambil melangkah semakin dekat dengan kedua pria itu.


Tadi sekilas ia mendengar bunda meminta Wulan untuk ikut kedua pria ini ke rumah tuan Cakra. Dan Keyla berpikir dua pria tinggi dihadapannya adalah anak buah tuan Cakra.


"Dan kamu…" Keyla menatap Bara dari ujung kaki hingga kepala, sehingga Bara melangkah mundur dan memalingkan wajahnya.


"Apa yang kamu lakukan!" Seru Jehan yang langsung berdiri tepat di depan Bara untuk menghalangi Keyla melakukan hal hal yang diluar dugaan. Bisa saja kan, tiba tiba Keyla membanting tubuh Bara seperti saat membanting tubuhnya malam itu.


"Halo om duda!" Sapa Keyla menggoda Bara, "Kamu si pemilik hp itu kan?" Tebaknya. Ia mencoba mendekati Bara tapi, terus dihalangi oleh Jehan.


Sementara itu, mata Bara membola saat Keyla memanggilnya dengan sebutan om duda. Ia pun terbayang foto mengejek gadis itu dilayar handphonenya waktu itu.


"Masih ingat aku, kan? Oh iya, mana ucapan terimakasih om duda sama aku, aku mau dengar dong, om duda!" Keyla menagih ucapan terimakasih dari Bara, sambil menggodanya.


Jehan masih terus berusaha menghalangi Keyla mendekat pada Bara.


"Maaf nona, anda salah orang." Ujar Jehan.


"Masak sih aku salah orang? Benar kok, dia kan pria berdara…" Tiba tiba saja Keyla tidak melanjutkan ucapannya. Ia malah menatap kearah Jehan, lalu ia tertawa terbahak bahak.


Bara dan Jehan saling bertatapan, mereka heran melihat Keyla tertawa padahal tidak ada yang lucu sama sekali.


"Sorry, sorry…" Keyla berhenti tertawa. Ia mengatur posisi berdirinya, lalu merunduk tepat dihadapan Jehan.


"Maaf karena telah membanting tubuh anda malam itu." Ucapnya, lalu ia tersenyum puas.


Mata Bara menoleh pada Jehan yang sedang merasa dipermalukan oleh gadis kecil itu.


"Loe di banting sama gadis kecil ini? Benaran, Je?" Bisik Bara ditelinga Jehan.


"Nona, saya rasa anda salah paham. Saat itu saya hanya mengalah. Asal nona tahu, saya tidak pernah bertarung dengan wanita, terlebih gadis kecil seperti anda." Jawab Jehan menegaskan.


Bara tersenyum, lalu tertawa sebentar. Ia membayangkan reaksi Jehan saat tubuhnya dibanting oleh gadis kecil itu.


"Udah deh, nggak usah malu malu gitu. Biasa aja kok." Lanjut Keyla yang semakin membuat Jehan kesal dan Bara menahan tawanya.


"Sampai bertemu lain hari..." Ucap Keyla, lalu ia melangkah pergi untuk kembali ke rumah panti.


Begitu Keyla menjauh, Bara tertawa lepas. Ia bahkan sesekali memukul bahu Jehan.


"Puasin aja ketawanya. Ketawa terus…" Sungut Jehan kesal.


"Lucu, Je. Gue nggak nyangka, ternyata gadis dengan tubuh sekecil itu berhasil membanting tubuh seorang Jehan yang terkenal ditakuti oleh musuh musuh." Lanjutnya yang masih terus tertawa.


Jehan bersungut kesal tapi, ia tidak bisa marah pada tuan mudanya itu. Lalu, tiba tiba Bara pun berhenti tertawa, karena matanya melihat didepan sana bu Astuti, Wulan dan Keyla melangkah kearah mereka.