
Begitu selesai sarapan, Bara mengobrol sebentar dengan Papanya mengenai perusahaan. Setelah itu, Bara langsung izin pamit untuk mengurus beberapa hal katanya pada Papanya. Sedangkan Wulan, diajak okeh Karina dan Klara untuk berbelanja pakaian ke mall.
"Nikmati saja dulu kemewahan ini sepuas hatimu, Wulan." Gumam Bara dalam hati sambil mengemudikan mobilnya keluar dari perkarangan rumah Papanya.
Tujuan Bara adalah toko dimana ia dan Jehan menitipkan alat perekam suara yang rusak untuk diperbaiki. Sebelum itu, ia akan mampir ke suatu tempat untuk mencari tahu sesuatu yang berhubungan dengan kejadian empat belas tahun lalu.
Sedangkan Jehan, saat ini sudah di bandara bersama Timo. Mereka akan terbang ke Thailand untuk menyelesaikan masalah perusahaan cabang di sana. Bara akan menyusul mereka nanti sore.
Setelah cukup lama Bara berkendara, mobilnya singgah didepan kedai mie ayam. Ia turun dari mobil, dan melangkah masuk ke kedai yang belum buka itu.
"Selamat pagi, Om Munir." Sapa Bara pada seorang lelaki seumuran Ayahnya.
"Pagi nak, Bara. Mari silahkan duduk."
Bara ikut duduk bersama Munir yang merupakan sahabat baik mendiang bundanya. Mereka mulai mengobrol tentang beberapa hal yang diketahui oleh Munir.
"Saya masih sangat ingat, di hari bundamu kecelakaan. Beberapa jam sebelumnya, dia datang ke sini. Dia mengatakan sesuatu yang sangat membuat saya terkejut." Tutur Munir.
"Apa yang bunda katakan, Om?" Bara tidak sabar ingin segera mendengar cerita tentang bundanya.
"Katanya, secara tidak sengaja dia mendengar obrolan sesorang yang merupakan salah satu pelaku pembakaran rumah pak Cakra Handoko…"
"Sudah aku duga. Bunda pasti mengetahui sesuatu tentang kebakaran itu."
"Apa bunda mengatakan pada om tentang sesuatu yang didengarnya?" Lanjut Bara, penasaran.
Munir hanya menggeleng menanggapi pertanyaan Bara.
"Bundamu menceritakan apa yang dia ketahui tentang kebakaran itu pada salah satu karyawan yang bekerja di perusahaan pak Cakra. Tapi, karyawan itu memberikan respon yang mengejutkan. Ia memerintahkan seseorang untuk mengikuti dan menangkap bundamu."
"Apa bunda mengatakan nama atau jabatan Karyawan itu, om?" Tanya Bara.
"Sama sekali tidak. Bundamu sangat takut saat itu, dia buru buru pergi dari sini, takut orang yang diperintahkan untuk mengikutinya menemukan keberadaannya di sini. Bundamu juga takut saya ikut terjebak dalam masalah yang tidak saya ketahui sama sekali."
"Dan setelah tiga jam berlalu, berita di seluruh saluran televisi menyiarkan bahwa bundamu ditabrak lari oleh pengendara mobil tidak dikenal. Bundamu meninggal di tempat." Lanjutnya.
Bara mengepalkan tinjunya, ia juga menggertakkan gigi gerahamnya. Ia seakan hendak membunuh bajingan bajingan yang telah merenggut nyawa bundanya.
"Saya sangat bersyukur, akhirnya nak Bara menemui saya. Dan saya minta maaf karena tidak bisa menemui nak Bara. Saya sudah berjanji pada Lanjani, untuk tidak berusaha mencari nak Bara jika terjadi sesuatu padanya. Karena Lanjani tidak ingin membahayakan nyawa putranya." Penuturan terakhir Munir sungguh membuat hati Bara Hancur.
"Bunda melindungiku bahkan saat dirinya dalam bahaya sekalipun." Batinnya.
Mata Bara berkaca kaca saat melihat kado itu. Bahkan saat dalam bahaya sekalipun, bundanya masih sempat membelikan hadiah yang pernah dijanjikan padanya, karena dia mendapat peringkat satu di sekolahnya.
Bara masih ingat, hari itu ketika bunda mendatangi kediaman Papanya, di hari kecelakaan itu terjadi.
"Bunda…" Bara menghambur dalam pelukan bundanya yang merentangkan tangan untuk memeluknya.
Meski ia sudah memasuki usia remaja, yaitu 15 tahun, ia tetap manja pada bundanya seperti bocah yang masih SD.
"Kamu sehat, nak?"
"Tentu, seperti yang bunda lihat." Ucapnya.
"Papa Cakra, mana?" Tanya Lanjani. Biasanya Cakra akan menemuinya saat ia datang mengunjungi Bara.
"Papa ke luar kota. Biasalah bun, namanya juga orang kaya. Selalu sibuk."
Lanjani hanya tersenyum menanggapi ucapan putranya.
"Oh iya bunda. Aku peringkat satu lagi loh."
"Benarkah?"
"Iya dong. Siapa dulu, Bara Leonardo Handoko." Ucapnya menyombongkan diri.
"Kamu memang yang terbaik sayang." Lanjani kembali memeluk Bara.
"Kalau begitu sebutkan satu benda, apa saja yang sangat kamu inginkan. Bunda akan mengabulkannya."
"Mmhh apa ya…" Bara mencoba berpikir benda apa yang ia inginkan, sementara semua yang ia inginkan sudah dibelikan oleh Papanya, Cakra.
"Oh iya, aku mau sepatu olah raga, soalnya sepatuku sudah bolong, bunda." Rengeknya berbohong pada bundanya.
"Bunda akan segera mengabulkan keinginan putra kesayangan bunda." Lanjani mencubit manja kedua pipi putranya.
"Iih bunda, aku bukan anak kecil lagi. Berhentilah mencubit pipiku." Protesnya.
Tapi Lanjani malah semakin mengganggu putranya. Ia bahkan mencium kedua belah pipi Bara bergantian. Dan Bara hanya merengek kesal, tapi tidak berniat menjauhkan diri dari bundanya.