
KUALA LUMPUR (MALAYSIA)
Diki berada di mobil yang dikemudikan oleh seorang pria berbadan tegap, wajahnya berperawakan mirip orang Thailand.
"Kita sudah sampai, tuan."
Pria itu membukakan pintu mobil untuk Diki. Ia segera turun dari mobil.
"Sudah sangat lama saya tidak datang kesini." Ujarnya.
Matanya menatap gedung rumah sakit dimana tempat kakinya berpijak saat ini. Ya, Diki tiba di salah satu rumah sakit terbesar di Kuala Lumpur.
"Mari tuan, saya hantar ke bilik tempat nyonya di rawat." Ajak pria itu pada Diki.
Diki pun melangkah mengikuti pria itu memasuki gedung rumah sakit.
"Bagaimana keadaan istri saya?" Tanya Diki.
"Nyonya sudah mulai membaik, tuan."
Pria itu berhenti sebentar di meja resepsionis untuk melapor bahwa mereka akan mengunjungi istri Diki yang dirawat di salah satu kamar rumah sakit ini.
Setelah mendapatkan izin, pria itu langsung menuntun Diki menuju kamar tempat wanita tercintanya di rawat.
Sepanjang perjalanan melewati koridor, Diki teringat saat pertama ia membawa istrinya ke rumah sakit ini dua puluh tahun yang lalu.
Saat itu, Diki baru saja pulang setelah mengantarkan Cakra ke rumah sakit karena kondisinya sangat buruk saat mengetahui istri dan anaknya ikut terbakar bersama rumahnya.
Setibanya di rumah, Diki mendapati istrinya tergeletak berlumuran darah dilantai sambil memeluk erat putri mereka yang baru berumur empat bulan.
"Sayang! Apa yang terjadi, kenapa kamu berdarah…"
Diki mengangkat tubuh istrinya untuk dipangku. Ia mencoba melepaskan putri kecilnya dari dekapan erat istrinya.
"Mas, selamatkan putri kita…" Ucap istrinya terbata.
"Apa yang terjadi, sayang…" Air mata Diki menetes.
Ia memeluk erat tubuh lemah berlumur darah istrinya. Sementara putrinya ia biarkan terbaring di lantai begitu saja.
"Aku mohon, selamatkan putri kita mas." Bisik istrinya terbata.
Sebentar Diki menatap tubuh mungil bayinya. Lalu ia menatap wajah memohon istrinya untuk segera menyelamatkan bayi mereka.
"Bertahanlah sayang, aku akan menyelamatkan kalian."
Diki berlari menuju kamar. Ia mengambil gendongan bayi, lalu menggendong bayinya di punggung. Kemudian, ia mengangkat tubuh istrinya dengan kedua tangannya.
"Kita harus keluar dari rumah ini."
Ia membawa istri dan bayinya keluar dari rumah itu. Setelah meletakkan anak dan istrinya di tempat aman, ia kembali masuk kedalam rumah.
"Aku harus membakar rumah ini untuk menghilangkan jejak. Aku yakin, ini perbuatan Jeydan." Ia menggertakkan gerahamnya dan mengepal tinjunya dengan erat.
Beberapa detik kemudian, terdengar suara ledakan yang sangat dahsyat.
"Semua kemalangan ini karena aku terlalu setia pada Cakra." Ujarnya.
Ia merasa kesal dan marah atas apa yang harus dilaluinya karena terlalu setia bekerja untuk Cakra.
Setelah memastikan rumahnya terbakar, Diki membawa istrinya ke Klinik terdekat. Ia membaringkan tubuh lemah istrinya diatas tempat tidur klinik yang sedang tutup.
"Sayang, tunggu sebentar disini. Aku akan segera kembali setelah mengantarkan putri kita ke suatu tempat."
Diki mengecup kening istrinya yang sudah tidak sadarkan diri.
Lalu, ia melangkah cepat menggendong putri kecilnya semakin menjauh dari klinik. Hingga akhirnya ia melihat tulisan rumah panti.
"Sayang, Papa janji akan menjemputmu kembali."
Diki meletakkan tubuh mungil putrinya di teras rumah panti. Saat itu, tepat pukul tiga dini hari.
"Papa akan selalu datang untuk menjengukmu sayang. Maafkan papa harus meninggalkan kamu di tempat ini. Semua ini papa lakukan untuk menyelamatkan nyawa kita semua."
Sekali lagi Diki memeluk erat tubuh mungil bayinya yang tampak tertidur nyenyak.
Kemudian, Diki bergegas kembali ke klinik. Ia mencuri taksi yang terparkir di pinggir jalan saat pengemudinya sedang tertidur pulas.
"Bertahanlah sayang..." Ucap Diki khawatir.
Setelah tiba di Klinik, ia langsung mengangkat istrinya masuk ke dalam mobil. Lalu, ia mengemudikan taksi itu menuju Bandara.
Setibanya di Bandara, Diki membersihkan darah dari tubuh istrinya dan mengganti pakaian istrinya. Setelah itu ia mengambil tiket penerbangan ke Malaysia setelah menghubungi kenalannya untuk menjemputnya di Bandara Malaysaia.
"Tuan, kita sudah sampai didepan bilik nyonya."
Suara pria itu menyadarkan Diki dari lamunannya mengingat masa lalu yang menyakitkan itu.
Diki langsung masuk ke kamar itu. Ia melihat tubuh istrinya masih terbaring tidak sadarkan diri seperti sebelumnya.
"Apa kabar sayang." Sapanya pada istrinya.
"Sudah hampir dua tahun mas tidak datang menjengukmu."
Diki menggenggam tangan istrinya yang terasa lebih dingin dari tangannya.
"Kamu tahu, putri kita sudah besar sekarang. Dia sangat cantik, mirip sekali dengan kamu, sayangku."
Diki membelai lembut pipi istrinya.
"Putri kita diberi nama Wulan oleh pemilik panti tempat aku menitipkannya dua puluh tahun lalu."
Air mata mulai menetes dari pelupuk mata Diki. Ia merebahkan kepalanya di pinggir rajang tepat di dekat leher istrinya.
"Bertahanlah sebentar lagi sayang. Aku sudah hampir berhasil merebut UT Holding dari Cakra. Dan aku akan menghancurkan Jeydan bersamaan dengan Cakra." Ucapnya penuh tekad dan dendam.