
[08:00]
Bara baru saja tiba di kantor. Ia bahkan belum sempat duduk di kursi kekuasaannya.
"Tuan muda, kenapa anda masuk ke ruangan ini?" Tanya Timo yang berhasil membuat Bara kesal.
"Bukankah ini ruangan saya? Saya berhak masuk atau keluar dari ruangan ini sesuka hati saya, Timo." Jawabnya sambil membuka jas warna abu abu miliknya, lalu menggantungya dengan rapi ditempat gantungan yang memang sudah tersedia diruangannya.
"Saya tahu ini ruangan tuan muda. Tapi, maksud saya apakah anda lupa bahwa pagi ini anda ada rapat dengan tim perencanaan." Timo mengingatkan.
Sebentar Bara diam, ia seperti mencoba mengingat. "Kenapa bisa lupa? Tidak biasanya saya melupakan jadwal harian saya di kantor sebelumnya." Celotehnya dalam hati.
"Begitukah?"
"Iya tuan muda."
Bara pun langsung memakai kembali jasnya tanpa mau dibantu oleh Timo. Lalu ia melangkah keluar dari ruangan diikuti Timo.
"Bukankah kamu yang tidak memberitahu saya bahwa ada rapat pagi ini, Timo?"
"Saya sudah memberi tahu tuan muda sejak tadi malam." Jawab Timo.
"Jadi kamu menuduh saya lupa dengan jadawal kantor?" Bara mengatakan itu sambil menghentikan langkahnya dan menatap tajam pada Timo.
"Sepertinya saya yang tidak memberitahukan jadwal tuan muda untuk hari ini. Saya minta maaf." Ucap Timo terpaksa.
Ia meminta maaf untuk hal yang bukan kesalahannya, itu ia lakukan untuk membuat suasana pagi ini menjadi damai.
Bara tersenyum, lalu kembali melanjutkan langkahnya menuju ruang rapat. Timo pun juga ikut melangkah mengikuti dari belakang.
[10:20]
Saat ini Jehan sedang melakukan penyelidikan untuk kasus empat belas tahun lalu. Ia berkeliling mengunjungi teman teman lama ibunda Bara, seperti yang diperintahkan Bara padanya subuh tadi.
Jehan mengunjungi setiap rumah teman teman Lanjani, bunda Bara berdasarkan daftar yang diberikan Bara padanya. Ia bahkan sudah mengunjungi hampir keseluruhan orang yang ada dalam daftar. Dan mereka semua memang mengenal Lanjani, tapi tidak ada info apapun yang terhubung dengan kejadian empat belas tahun lalu.
"Tersisa dua rumah lagi. Semoga saja salah satu dari mereka bisa memberikan info yang gue butuhkan." Ujar Jehan penuh harap.
Setelah berkendara hampir dua puluh menit, Jehan pun tiba di salah satu rumah yang tertulis dalam daftar. Ia pun disambut baik disana. Dan saat Jehan menyebutkan tentang Lanjani, tiba tiba saja seorang tukang kebun di rumah itu mendekat, lalu berbisik pada Jehan.
"Saya sedikit mengetahui tentang kecelakaan yang menyebabkan bu Lanjani tewas." Bisik tukang kebun itu yang membuat majikannya bertanya tanya tentang apa yang dibisikkannya pada Jehan.
"Dulu saya pernah satu pekerjaan dengan bu Lanjani. Kalau kamu mau tahu tentang mobil yang menabraknya hari itu, pergilah ke tempat barang rongsokan mobil." Lanjut tukang kebun itu berbisik pada Jehan.
Jehan mengangguk paham. Ia tidak sepenuhnya percaya pada ucapan tukang kebun itu.
Singkatnya, Jehan pun akhirnya pergi dari rumah itu. Ia pun mendatangi rumah terakhir yang jaraknya lumayan jauh. Butuh tiga puluh menit untuk tiba di rumah berikutnya.
Dan Jehan kini tiba di rumah terakhir itu. Rupanya pemilik rumah itu membuka kedai mie ayam. Jehan pun langsung masuk dengan berpura pura sebagai pelanggan.
Jehan memesan semangkok mie ayam yang langsung diantarkan oleh pemilik kedai ke mejanya. Saat itulah Jehan menggunakan kesempatan itu untuk berbincang dengan pria itu.
"Saya teman Bara Leonardo putra dari ibu Lanjani." Bisik Jehan.
Mendengar ucapan Jehan, lelaki itu seketika duduk di hadapan Jehan. Ia menatap Jehan dengan mata berkaca kaca.
"Katakan pada nak Bara untuk mengunjungi saya saat dia senggang." Hanya sepatah kalimat itu yang diucapkan lelaki pemilik kedai itu, lalu ia pun bergegas meninggalkan Jehan yang masih kebingungan sekaligus penasaran.