Tuan Putri Yang Hilang

Tuan Putri Yang Hilang
Bab 73 Dikhianati orang terpercaya.


Dalam dokumen itu, jelas memperlihatkan bahwa selama ini Diki telah menyabotase semua saham di perusahaannya dan sudah lebih dulu dialihkan pada putrinya yang dinyatakan secaa resmi sebagai pemilik peeusahaan Cakra.


"Diki? Kenapa dia melakukan ini padaku?" Cakra tampak sangat kecewa dan tidak menyangka.


"Saya baru bisa menemukan dokumen ini, pak Cakra. Sebenarnya, sudah sejak lama saya menyelidi Diki. Dan Diki jugalah yang memerintahkan seseorang untuk membunuh Lanjani." Tutur Beni.


"Apa? Tapi kenapa dia memerintahkan orang untuk membunuh Lanjani?" Cakra makin tidak mengerti.


"Karena Lanjani mengetahui bahwa putri kandung pak Cakra masih hidup."


"Berarti selama ini Diki tahu bahwa putriku masih hidup?"


"Benar, pak Cakra. Hanya saja Diki belum tahu sama sekali siapa putri kandung pak Cakra. Tapi, sepertinya kini Diki sudah menemukan putri kandung anda dan dia telah mengirimnya pada Jeydan." Lanjut Beni menjelaskan.


Cakra semakin bingung. Putrinya ada di duduk disampingnya, mengapa Beni malah mengatakan putrinya berada di tangan Jeydan.


"Putriku Wulan ada di sampingku." Cakra merangkul baru Wulan penuh kasih.


Sebentar Beni menghela napas, lalu dia kembali menundukkan kepalanya.


"Maafkan saya pak Cakra. Sebenarnya, hanya saya satu satunya yang tahu pasti dimana putri pak Cakra. Karena sayalah yang menyelamatkan putri pak Cakra dari kebakaran malam itu." Beni mengungkapkan yang sebenarnya.


"Apa?" Cakra melemas, tangannya yang tadi merangkul Wulan segera dia lepaskan.


"Apa yang om Beni katakan? Aku adalah putri kandung papa." Teriak Wulan marah atas pernyataan Beni.


"Sebenarnya aku tidak ingin mengatakan ini, nona Wulan. Tapi, sebenarnya nona Wulan adalah putri kandung dari Diki." Beni melemparkan beberapa foto yang menyetakan bahwa Wulan adalah putri Diki.


"Dengarkan ini.." Beni memperdengarkan rekaman suara Diki yang menyatakan bahwa Wulan adalah putrinya.


Dalam rekaman itu, Diki juga menyebutkan bahwa dia sengaja memalsukan hasil tes dna Wulan agar bisa dinyatakan sebagai putri kandung Cakra. Tujuannya tentu saja untuk mengambil alih perusahaan milik Cakra.


"Tidak. Ini tidak mungkin.. Pa, aku putri kandung papa.." Wulan mencoba menyakinkan Cakra bahwa dia adalah putri kandungnya.


"Lalu dimana putriku?" Tanya Cakra dengan suara gemetar dan mata berkaca kaca.


"Maafkan saya sekali lagi, pak Cakra. Putri anda telah dikirim oleh Diki pada Jeydan. Saat ini nona Keyla Cantika dikurung di gudang milik Jeydan."


"Keyla? Gadis itu putriku.."


"Iya. Saya selama ini merahasiakannya karena ingin melindunginya dari Diki dan Jeydan. Tapi, nyatanya saya malah gagal, maafkan saya pak Cakra."


"Titahkan semua orang untuk membebaskan putri saya!" Titahnya. "Jika sampai terjadi sesuatu padanya, saya akan membunuh Diki dan Jeydan."


Mata Cakra menatap tajam pada Wulan yang ketakutan. Lalu, dengan paksa dan kasar Cakra menarik tangan Wulan.


"Kurung gadis ini. Jika Diki melakukan hal buruk pada putriku, maka dia juga akan melihat putrinya menderita ditanganku."


Cakra mendorong kuat tubuh Wulan kehadapan dua orang pengawalnya yang berbadan tegap.


"Papa, jangan dengarkan apa yang dikatakan om Beni. Aku adalah putri papa." Rengek Wulan ketakutan.


"Kau bukan putriku. Mata putriku berwarna biru. Aku mengenal putriku. Selama ini aku memang sudah curiga, tapi aku membiarkan kecurigaanku karena aku begitu bahagia mendengar putriku masih hidup." sahutnya mengungkapkan bahwa sebenarnya dia juga tidak begitu yakin bahwa Wulan adalah putrinya.