
Tidak berapa lama setelah Cakra meninggalkan kediaman Bara, satu mobil kijang memasuki perkarangan rumah megah itu. Seorang lelaki yang tingginya hampir sama dengan Bara turun dari mobil kijang tersebut. Beberapa pengawal memberikan hormat padanya.
"Selamat siang, pak Beni." Sambut Susi, ketua asisten rumah tangga di rumah megah ini.
"Ya, semalat siang." Jawabnya tanpa menghentikan langkahnya.
"Wuah, apakah itu pak Beni ayah kandungnya tuan muda?" Tanya Intan menghampiri Susi.
"Iya, kenapa?" Susi bertanya sambil melanjutlan langkahnya menuju dapur.
"Pantas saja tuan muda sangat tinggi dan tampan, rupanya ketampanan itu diwarisi oleh pak Beni." Ujarnya bergumam sendiri.
Ben Arnold Leonardo, ayah kandung Bara Leonardo. Ia dipanggil Beni oleh orang orang disekitarnya. Ben merupakan seorang pria asal Singapura yang merantau ke Indonesia untuk bekerja. Singkat cerita, ia bertemu dengan gadis pujaannya yaitu Lanjani. Lalu mereka menikah, dan setahun kemudian lahirlah putra mereka yang diberi nama Bara Leonardo.
Ia dulunya bekerja sebagai seorang pemasang spanduk spanduk besar dan juga pemasangan tenda untuk acara acara besar orang orang kaya. Tapi, semenjak istrinya meninggal, ia memutuskan untuk menetap di kampung halaman sang istri dan fokus bertani.
"Selamat siang, pak Beni." Sambut Jehan begitu ia tiba di depan kamar Bara.
"Selamat siang juga, nak Jehan."
"Bagaimana keadaan Bara?" Lanjutnya.
"Tuan muda baru saja siuman. Saat ini dokter Salman sedang memeriksa keadaanya." Jehan menjelaskan.
"Syukurlah..." Sebentar Beni celingukan seperti mencari keberadaan seseorang.
"Tuan Cakra tidak datang?" Ia bertanya saat matanya tidak kunjung menemukan tuan kaya raya yang sangat pemurah hati tersebut.
"Tuan Cakra baru saja pergi. Beliau ada urusan mendesak yang harus segera diurus."
"Jadi orang kaya itu kadang nggak enak juga ya, nak Jehan." Ia sedikit tertawa sambil menepuk bahu Jehan.
"Kenapa tidak enak, om Ben? Bukankah cita cita om ingin menjadi orang kaya?" Tanya Jehan bingung. Kini ia mulai menggunakan bahasa santai dengan ayah dari sahabatnya itu.
"Nggak enaknya itu, karena selalu sibuk nggak ada waktu bersantai di rumah." Bisiknya.
Jehan tersenyum sambil mengangguk membenarkan apa yang dikatakan Beni.
Tidak berselang lama, dokter Salman keluar dari kamar Bara. Ia tersenyum ramah menyapa Beni.
"Tuan muda sudah siuman. Sekarang dia sudah baik baik saja, hanya sedikit lemas karena pengaruh racun. Tapi, pak Ben tidak usah khawatir, tuan muda akan segera pulih seperti sedia kala dalam dua puluh empat jam kedepan." Dokter Salman menjelaskan.
"Syukurlah. Terimakasih banyak pak Dokter."
"Sama sama pak Beni." Mereka pun bersalaman.
"Kalau begitu saya permisi undur diri dulu." Sambung dokter Salman.
"Silahkan pak dokter, mari saya antar ke depan."
Saat Beni mengantar dokter Salaman, Jehan langsung menemui Bara yang kini sedang duduk bersandar di kepala ranjangnya. Ia tersenyum dengan bibir pucatnya saat melihat kedatangan sahabatnya itu.
"Jehan…" Sambutnya.
"Yeah, gue baik baik saja. Hanya sedikit lemas dan agak pusing."
"Oh, syukurlah. Gue benar benar akan menyalahkan diri gue sendiri seumur hidup jika terjadi sesuatu yang tidak diinginkan." Ocehnya merasa kesal pada dirinya sendiri.
"Gue baik baik saja, Je. Gue Bara Leonardo Handoko, tidak semudah itu untuk dilenyapkan, terutama oleh antek antek Jeydan si tua bangka itu." Ucapnya menyombongkan diri untuk membuat sahabatnya merasa lebih baik.
Jehan duduk di pinggir tempat tidur Bara, lalu memberikan handphonenya yang hilang saat peristiwa penembakan kemarin malam.
"Dimana loe nemuin hp gue?" Ia memeriksa hp yang ternyata benaran miliknya.
"Menurut loe?"
"Mana gue tahu…" Memeriksa sekali lagi untuk memastikan.
"Timo mana?" Sambungnya yang tiba tiba teringat sekretaris handalnya itu.
"Masih di kantor. Banyak urusan yang harus dia selesaikan."
Bara mengangguk paham. Matanya tiba tiba membola dan tidak berkedip sama sekali mentap layar handphone nya.
"Kenapa, Bar? Apa hp loe di sadap?" Mengambil alih hp ditangan Bara.
Dan kini giliran matanya yang membola dan tidak berkedip melihat foto Keyla dipapan pesan dengan menjulurkan lidah seakan mengejek pemilik hp itu. Bahkan Keyla menambahkan tulisan…
()
Dengan segera Jehan menghampus foto dan juga tulisan itu dari hp Bara.
"Apa gadis itu yang menemukan hp gue?"
Jehan tidak menjawab, ia malah teringat saat tubuhnya yang tiba tiba dibanting oleh gadis kecil itu ke tanah.
"Je, loe kenapa?" Bara melempar Jehan dengan batal tepat diwajahnya.
"Hah, iya… aa apa?"
"Gue tanya, itu cewek yang nemuin hp gue?"
"Iya." Jawabnya singkat dan agak ragu.
Bara merasa ada sesuatu yang aneh tentang gadis itu, hingga membuat Jehan tampak bingung seperti ini.
"Loe kenal cewek itu?"
"Nggak. Hanya saja…" Jehan tidak melanjutkan ucapannya.
"Hanya saja apa?" Bara semakin penasaran.
"Tidak penting. Intinya, gadis itu menemukan hp loe di bis, gue sama Timo melacak gps hp loe dan ketemu. Udah gitu aja." Jelasnya singkat padat.
"Gitu aja?" Bara masih penasaran, ia bertambah curiga terlebih karena Jehan terlihat ragu ragu saat membahas gadis itu.