Tuan Putri Yang Hilang

Tuan Putri Yang Hilang
Bab 10 Tuan muda hilang!


Jehan menghubungi Timo, ia memberitahukan bahwa dirinya telah menemukan Bara. Ia juga meminta Timo untuk memanggil Dokter pribadi kepercayaan tuan Cakra untuk segera di bawa ke kediaman Bara.


"Apa terjadi sesuatu pada Bara?" Tanyo Timo khawatir.


"Sepertinya Bara terluka. Aku sedang menuju ke hotel, menurut gadis itu Bara menghilang di sekitaran hotel."


"Loe harus hati hati, Je. Bisa jadi ini jebakan lagi."


"Tenang saja, sudah gue pastikan gadis itu hanya gadis biasa. Gue juga sudah menyelidiki informasi tentang gadis itu. Dia hanya gadis yatim piatu yang tinggal dan besar di panti asuhan yang sering menerima bantuan dari UT Holding." Jelasnya panjang lebar.


"Tetap saja, loe harus hati hati."


"Tidak usah terlalu khawatir."


Jehan melanjutkan perjalanan menuju hotel. Sementara Timo segera melaksakan tugas yang diperintahkan Jehan padanya. Ia juga merahasiakan tentang Bara dari tuan Cakra sesuai saran Jehan. Mereka sepakat akan memberi tahu, saat mereka sudah memastikan keadaan Bara.


Dan akhirnya, Jehan tiba di hotel tepat setelah anak anak buah Jeydan meninggalkan hotel bebera menit yang lalu. Ia langsung meminta kartu kunci kamar yang dipesan atas nama Bara Leonardo kemarin malam. Dengan mudah ia mendapatkan kartu kunci itu dan segera menuju kamar tersebut.


"Semoga tuan muda baik baik saja." Jehan berhasil membuka pintu kamar dan betapa terkejutnya dia saat melihat tetesan darah berceceran di lantai.


"Tuan muda!"


Ia mengikuti kemana arah darah di lantai menuju. Rupanya, darah itu berhenti tepat di atas ranjang. Seprei putih itu juga terkena noda merah. Sayangnya, tidak ada Bara disana.


"Apa yang terjadi? Dimana dia?" Jehan memeriksa seluruh sudut kamar itu dan tetap tidak menemukan Bara.


"Oh tidak, jangan sampai anak buah Jeydan menemukan tuan muda dalam keadaan terluka."


Sekali lagi ia mencari Bara di kamar mandi, tapi tidak ditemukan sama sekali. Hanya ada perban bernoda merah yang tertinggal diatas nakas.


Di sinilah Bara saat ini. Ia berdiri di pinggir jalan raya dalam keadaan menahan rasa sakit di bahunya. Lukanya bahkan kembali mengeluarkan cairan merah hingga mengotori bajunya. Untungnya, ia bisa menutupi noda merah di kaos putihnya dengan jaket kulit hitamnya.


"Taksi!" Tangan kirinya melambai kearah taksi yang tidak jauh darinya.


Taksi itu mendekat kearah Bara. Ia pun masuk ke mobil itu, lalu meminta sopir taksi untuk mengantarnya ke alamat rumahnya.


"Pak, bolehkah saya meminjam hp anda sebentar?" Tanya Bara sedikit terbata.


"Boleh, boleh…" Sopir taksi meminjamkan hpnya pada Bara yang duduk di bangku belakang sopir.


Ia segera menghubungi Timo, karena memang hanya nomor Timo yang teringat dalam pikirannya saat dalam keadaan seperti ini.


"Saya baik baik saja. Saat ini saya sedang menuju ke rumah." Lanjutnya yang semakin terlihat menahan rasa sakit dibahunya.


"Minta dokter Salman untuk segera datang ke rumah." Perintahnya.


"Saya menghubungi melalui hp sopir taksi. Hp saya hilang entah kemana. Jadi, tidak usah khawatir."


Bara langsung mengakhiri pembicaraannya dengan Timo. Ia memejamkan matanya sambil menyandarkan punggung ke sandaran kursi.


Sementara itu tepat setelah Bara mengakhiri pembicaraannya dengan Timo, kini giliran Jehan menghubungi Timo.


"Tuan muda menghilang, Timo." Ujarnya.


"Jangan panik, Je. Tuan muda sedang menuju ke mari. Dia dalam perjalanan pulang." Jelas Timo di seberang sana.


"Tuan muda menghubungi loe?"


"Iya. Baru saja. Tuan muda menelpon menggunakan hp seorang sopir taksi."


"Syukurlah. Gue segera kesana."


Jehan pun segera meninggalkan hotel. Ia langsung melajukan mobilnya menuju kediaman tuan mudanya itu.


Sementara itu, saat ini Bara sedang berada didalam mobil taksi. Ia terlihat sangat pucat dan lemah. Meski lukanya tidak lagi mengeluarkan darah saat ini, tapi rasa nyilu bercampur perih masih terus mengganggunya.


"Saya rasa den mas harus ke rumah sakit, atau saya antar ke klinik terdekat." Ujar Supir taksi yang khawatir dengan keadaan Bara. Ia menyarankan padanya untuk segera memeriksakan diri setidaknya ke klinik terdekat.


"Tidak usah, pak. Saya harus segera tiba di rumah. Fokus saja mengemudikan mobilnya, antar saya secepat mungkin." Ucapnya terbata dengan suara yang sangat pelan.


"Baik den mas." Supir taksi menambah kecepatan laju mobilnya menuju alamat penumpangnya itu.


Setelah menempuh perjalanan sekitar empat puluh menit, taksi itu berhenti tepat di depan rumah megah nan mewah yang jauh dari permukiman warga setempat.


"Terimakasih anak muda." Ujarnya saat Bara memberinya uang lebih dari biaya yang seharusnya.


Saat Bara turun dari taksi, Timo dan beberapa pengawal lainnya berlari menghampiri Bara yang sekarat.


"Tuan muda!" Teriak Timo saat melihat Bara yang ambruk di depan gerbang rumah.


"Cepat bawa tuan muda ke kamarnya." Perintah Timo pada empat orang pengawal. Lalu, mereka segera mengangkat tubuh Bara untuk dibawa ke kamarnya.