
Keyla berdiri tepat di depan Wulan yang tampak kebingungan.
"Wulan, ini Keyla. Papa mempekerjakan Keyla untuk menjadi pengawal kamu..." Cakra menjelaskan
"Hai Key, sudah lama tidak bertemu!" Sapa Wulan sambil mengulurkan tangan kearah Keyla.
"Kamu mengenal Keyla, sayang?" Tanya Karina dan Cakra hampir berbarengan.
"Iya, Pa, Ma. Keyla dan aku pernah tinggal di panti yang sama." Jawab Wulan.
"Benarkah? Oh syukurlah…"
Cakra merasa senang, membawa Keyla untuk menjadi pengawal Wulan ternyata pilihan yang tepat.
"Tapi, saat masih di panti Keyla tidak begitu menyukai aku, Pa, Ma." Ungkap Wulan.
Keyla termangah heran mendengar pengakuan bohong Wulan tentang masa masa mereka masih tinggal dipanti.
"Loh kenapa nak Keyla tidak menyukai Wulan?" Tanya Cakra pada Keyla yang tampak bingung.
"Keyla tidak menyukai aku karena aku lebih pintar dan sering mendapat beasiswa, Pa." Sambung Wulan.
Cakra terdiam mendengar pengakuan Wulan. Matanya menatap kearah Keyla yang tidak sedikitpun berniat memberikan respon atas pengakuan Wulan tentang dirinya.
"Berarti papa salah membawa Keyla untuk menjadi pengawal putri papa, kan?" Tanya Cakra pada Wulan.
"Mmm, entahlah Pa. Aku tidak akan menolak kehadiran Keyla andai kata Keyla tetap masih mau bekerja sebagai pengawalku."
Sekali lagi Cakra menatap mimik wajah Keyla yang susah ditebak. Sedangkan Karina merangkul Wulan dan berusaha menenagkan Wulan yang berpura pura rapuh dan tersakiti saat mengingat masa lalu yang terjadi antara dirinya dan Keyla.
"Maafkan saya tuan putri Wulan." Keyla menunduk.
Ia meminta maaf meski tidak melakukan kesalahan apapun pada Wulan. Tapi, sepertinya ia sangat paham apa yang diinginkan Wulan darinya dengan pengakuan palsunya itu.
"Maafkan saya tuan. Terimakasih atas kebaikan tuan karena langsung mempercayai saya."
"Tidak perlu meminta maaf, nak Keyla. Toh Wulan juga tidak dendam sama kamu. Dia hanya sedikit cemas, andai kejadian itu terulang kembali." Tutur Cakra mencoba menghibur Keyla.
"Sekali lagi maafkan saya tuan putri." Keyla menunduk kearah Wulan.
"Saya mengundurkan diri dari pekerjaan ini tuan." Sambung Keyla.
"Tapi nak Keyla…"
Keyla sudah melangkah meninggalkan tempat itu. Ia menuju kamarnya untuk mengambil kembali barang bawaannya saat pertama tiba di rumah ini.
"Loh, Key kamu mau kemana?" Tanya Linda heran saat melihat Keyla melangkah sambil membawa tas berisi pakaiannya.
"Apa?" Linda mengejar langkah Keyla.
"Aku mengundurkan diri dari pekerjaan ini."
"Kenapa, Key…"
"Tidak ada alasan pasti. Hanya saja, aku merasa pekerjaan ini tidak sesuai dengan gaya hidupku." Jawabnya sambil tersenyum ramah pada Linda.
Keyla menghentikan langkahnya sebentar, lalu ia menatap kearah Linda yang berdiri disampingnya.
"Terimakasih, Lin. Kamu orang pertama yang menyambutku denga tulus dirumah ini setelah tuan Cakra." Ungkapnya.
"Mmh."
Linda meraih tangan Keyla, ia mengelus lembut punggung tangan itu karena menurutnya Keyla sedang tidak baik baik saja, semua terlihat jelas dimatanya.
"Bye Linda..."
Keyla menarik tangannya dari genggaman Linda, lalu ia melambaikan tangan itu sambil melangkah menjauh dari Linda yang terus menatap kepergiannya hingga tidak terlihat lagi oleh matanya.
Sementara itu, saat tiba di ruang depan Keyla melihat Wulan, Karina dan Cakra berdiri menatap kearahnya.
"Key, kamu mau ya jadi pengawalku." Ujar Wulan.
Ia menghampiri Keyla dan meraih pergelangan tangannya untuk memohon agar Keyla mau menjadi pengawalnya.
"Apa lagi kali ini Wulan!" Bisik Keyla dalam hati.
"Nak Keyla, Wulan sudah memaafkan kejadian masa lalu. Jadi saya harap nak Keyla berubah pikiran untuk tetap menjadi pengawal Wulan." Bujuk Cakra.
Keyla menghela napas dalam, lalu ia tersenyum menatap Wulan yang masih bergelantungan dipergelangan tangannya.
"Maafkan saya tuan. Tapi saya masih membenci Wulan bahkan sampai saat ini."
Kalimat yang barusan keluar dari mulut Keyla membuat Cakra dan Karina terperangah kaget. Mereka tidak menyangka Keyla akan berterus terang tentang perasaanya pada Wulan.
Sedangkan Wulan langsung melepaskan pergelangan tangan Keyla dan menatap Keyla dengan tatapan tidak percaya.
"Aku juga bisa berbohong, Wulan." Gumam Keyla dalam hati sambil menatap lekat wajah Wulan.
"Syukurlah kamu menolak menjadi pengawalku, Key. Karena mulai saat ini dan seterusnya, kamu bukan siapa siapa dalam hidupku." Ujar Wulan dalam hati.
Mereka saling bertatapan cukup lama seakan biacara melalui mata ke mata.