Tuan Putri Yang Hilang

Tuan Putri Yang Hilang
Bab 39 Perbaikan


[17:35]


Mobil Bara berhenti tepat didepan ruko yang tampak sunyi seakan tidak berpenghuni.


"Loe yakin ini tempat untuk memperbaiki alat perekam ini, Je?"


Bukannya menjawab pertanyaan Bara Jehan malah turun dari mobil. Ia mulai mengetuk pintu ruko tersebut.


Mau tidak mau, Bara pun terpaksa harus turun dari mobil untuk mengikuti Jehan.


"Permisi!" Seru Jehan sambil mengetuk pintu.


"Salah alamat kali, Je."


Bara mendengus kesal, tapi kemudian pintu itu dibuka oleh penghuni ruko. Seorang pria muda berbadan sedikit berisi memasang wajah sinis saat menatap Bara dan Jehan.


"Silahkan masuk!"


Pria itu mempersilahkan mereka masuk dan membiarkan mereka berdiri, sementara dirinya duduk nyaman dikursinya.


"Kenapa mencari saya?" Ia bertanya dengan nada yang sangat tidak sopan terdengar ditelinga Bara.


"Bisakah kamu memperbaiki alat perekam ini?"


Jehan menyerahkan alat perekam pada pria itu yang langsung diterima olehnya. Sebentar pria itu memeriksa keadaan alat perekam yang sudah rusak parah dan tidak lagi berfungsi itu.


"Saya bisa memperbaiki alat ini, tapi membutuhkan waktu sekitar sepuluh sampai dua belas jam." Ucap pria yang dikenal ahli dalam masalah perbaikan alat alat elektronik.


"Tidak bisa lebih cepat lagi?" Tanya Jehan.


"Bisa. Dalam dua jam saja saya bisa memperbaiki alat ini…"


Jehan dan Bara tersenyum lega.


"Tapi, semua data yang tersimpan akan hilang." Lanjut pria itu yang membuat Bara dan Jehan kembali serius.


"Baiklah, perbaiki meski pun harus memakan waktu yang lama. Yang terpenting adalah data didalamnya harus tetap aman." Ucap Jehan setuju.


"Bayarannya juga tentunya tidak sama…" Pria itu bicara apa adanya.


"Berapapun akan saya bayar, selama data datanya tidak hilang."


Kali ini Bara yang berucap. Ia mulai kesal pada pria yang menurutnya sombong itu. Jika bukan karena hal penting, sungguh Bara tidak ingin berhubungan dengannya.


"Saya akan berusaha yang terbaik. Mohon tunggu hingga dua belas jam kedepan." Ucap Pria itu.


Ia langsung mempersilahkan Bara dan Jehan untuk meninggalkan tempatnya. Kemudian ia langsung menutup pintu kedainya.


"Songongnya dia! Nggak ada sopan sopannya!" Rutuk Bara kesal.


"Udah lah biarkan saja, tuan muda. Yang penting alat perekam itu bisa diperbaiki."


Jehan menarik tangan Bara untuk kembali ke mobil. Lalu mereka pun pergi dari tempat itu untuk menuju tempat makan, karena perut Jehan sudah keroncongan.


Saat Bara dan Jehan menuju tempat makan, Timo tiba di Klinik tepat pukul lima sore. Ia disambut baik oleh Erna yang sudah lebih dulu mendapat kabar dari mamanya bahwa ia akan datang membawa kucingnya yang keselek tulang ayam.


"Sudah berapa lama Ruri kesakitan seperti ini?" Tanya Erna pada Timo yang ikut membantunya memegang tubuh kucing itu saat diperiksa.


"Hampir seharian." Jawab Timo.


"Sepertinya Ruri harus dioperasi. Tapi, asisten saya belum datang..." Sebentar Erna melirik jam di dinding.


"Jika dibiarkan sedikit lebih lama, saya khawatir tulang itu akan mengoyakkan usus Ruri." Lanjut Erna menjelaskan.


"Apa? Usus?" Timo merasa khawatir, takut dimarahi Mamanya jika terjadi sesuatu pada Ruri.


"Iya. Dan Ruri harus dioperasi sekarang."


"Silahkan, dokter. Lakukan saja, asal Ruri bisa selamat."


"Baiklah, tidak ada pilihan lain. Tolong bantu saya pegangkan tubuh Ruri." Erna meminta Timo memegang tubuh Ruri saat ia mulai menyuntikkan obat bius dan menyiapkan peralatan lainnya untuk melakukan operasi.


"Anda juga harus memakai masker dan sarung tangan." Erna memberikan masker dan sarung tangan pada Timo.


"Tapi, ini kucingnya boleh dilepas." Tanya Timo ragu.


Erna tersenyum saat melihat tangan Timo masih memegang erat tubuh Ruri yang sudah tertidur oleh obat bius yang masuk ke tubuhnya.


"Rurinya sudah terbius, jadi tidak apa apa dilepaskan saja tangan anda dari tubuhnya." Jawab Erna sambil tersenyum geli. Ia melihat sisi yang berbeda dari Timo. Jika pertemuan pertama, Timo tampak gagah dan berkarisma, saat ini Timo malah tampak lucu dan menggemaskan.


"Kita mulai operasinya. Tolong ambilkan pisau bedah." Ucap Erna. Timo pun memberikan pisau bedah pada Erna dengan ragu ragu.


Tidak bisa dipungkiri, Timo merasa takut dan ngeri melihat Erna membedah perut Ruri. Ia bahkan memejamkan mata saat darah mulai terlihat. Ini sungguh pengalaman pertama Timo melihat hewan dibedah.


Namun, beberapa saat kemudian rasa ngeri itu berubah menjadi senyuman penuh kekaguman. Mata Timo menatap wajah Erna yang tersimpan dibalik masker medisnya.


"Sungguh Erna bisa mengalihkan duniaku. Oh tuhan, semoga engkau jadikan Erna jodohku." Ucapnya dalam hati.


Kemudian tiba tiba darah Ruri menyembur begitu saja hingga mengenai wajah Erna dan juga Timo. Dengan cepat Timo mengambil tisu yang sudah disediakan didekatnya, lalu menghapus percikan darah dikening Erna.


"Terimakasih." Ucap Erna sambil tersenyum.


Timo hanya mengangguk pelan. Sekali lagi ia terpesona dengan aura kecantikan seorang dokter Erna.


Setelah beberapa menit kemudian, Ruri selesai dioperasi dan dipindahkan ke tempat perawatan.


"Terimakasih sudah membantu saya, pak…"


"Timo. Panggil saja Timo." Sambung Timo memperkenalkan dirinya pada Erna.


"Oh ya, terimakasih Timo." Ulang Erna.


"Sama sama bu dokter."


"Panggil Erna saja, supaya bisa lebih akrab." Sambung Erna yang berhasil membuat Timo terdiam mematung.


"Oh iya, kamu bisa menggunakan toiletnya untuk membersihkan tangan dan wajahmu."


"Begitukah? Baiklah saya… ee, maksudnya aku akan ke toilet sebentar." Ia pun menuju toilet.


Saat Timo sedang di toilet, Keyla tiba di Klinik.


"Mbak Erna, aku datang." Sapanya.


"Hai, Key." Sahut Erna yang sedang memperbaiki posisi baring si Ruri.


"Pasien baru ya mbak?"


"Iya. Ini baru selesai dioperasi."


"Memangnya sakit apa mbak?" Keyla meletakkan tas diatas meja, lalu melangkah kearah belakang. Sepertinya ia akan ke toilet.


"Usu…, Keyla!" Erna tidak menyelesaikan ucapannya karena matanya tidak lagi melihat bayang bayang Keyla.


"Oh tidak!" Teriaknya saat menyadari Keyla sepertinya hendak ke toilet, sementara Timo masih berada di dalam toilet dan pintu toilet itu rusak, tidak bisa di kunci dari dalam.


Langkah Keyla begitu santai menuju toilet. Ia menyingsingkan lengan bajunya dan juga kaki celana jeans nya. Ia akan mencuci kaki dan tangan sebelum membantu Erna menyentuh pasien. Begitu ia membuka pintu kamar mandi, rupanya Timo juga akan membuka pintu itu karena telah selesai membersihkan wajah dan tangannya. Sehingga saat pintu itu terbuka, mereka sama sama terkejut dan menjerit.


Tanpa pikir panjang, Keyla meraih tangan kiri Timo dengan kuat, lalu menarik tubuh yang tidak siap itu dan membantinya ke lantai.


Gubraaakkkk…


Suara itu yang didengar Erna begitu ia tiba di dekat Keyla. Matanya membola melihat Timo terbaring dilantai dengan posisi yang tidak biasa. Ia merintih kesakitan namun harus ditahan karena kedatangan Erna.


"Ya ampun, Keyla, Timo!" Erna membantu Timo untuk berdiri. Dengan segenap tenaga Timo mencoba berdiri, padahal saat ini dia merasa sangat kesakitan bahkan susah untuk bernapas.


"Kamu tidak apa apa? Apa ada yang patah?" Erna memeriksa tubuh Timo dengan teliti. Sementara yang punya tubuh hanya menggeleng geleng dengan wajah yang menahan rasa sakit disekujur tubuhnya.


"Maafkan aku mbak. Aku pikir dia penyusup. Habisnya, mbak juga nggak bilang kalau ada orang di toilet." Ucap Keyla merasa bersalah.