
Timo baru saja tiba di rumah mamanya. Ia meminta jehan mengantar ke rumah Mamanya agar bisa istirahat dengan nyaman. Dan Jehan pun langsung terbang ke Kuala Lumpur.
Diki masih di Malaysia. Ia sama sekali tidak mengetahui Jehan sedang menuju Malaysia, sehingga dia dengan santainya masih berada di rumah sakit menemani istrinya.
"Tuan, saya harus pergi ke Jakarta. Sepertinya Yuda sedang mencari tahu siapa sebenarnya putri kandung Cakra." Jelas pria itu pada Diki.
"Silahkan. Kamu harus selalu awasi pergerakan Yuda. Cepat laporkan pada saya jika dia sampai berhasil menemukan putri kandung Cakra."
"Baik tuan."
"Dan ingat, tetap awasi dan lindungi tuan putri Wulan. Jangan sampai Jeydan tahu bahwa Wulan adalah putri saya."
"Baik tuan."
Pria itu pun meninggalkan Diki dan istrinya di kamar rumah sakit itu.
"Kamu dengar sayang… putri kita sekarang diperlakukan bak seorang tuan putri. Wulan pasti sangat bahagia." Tutur Diki menceritakan tentang putri mereka.
"Cepatlah bangun sayang, dampingi aku saat nanti harus mengklaim UT Holding sebagai milik tuan putri Wulan."
Diki tersenyum penuh keyakinan. Ia benar benar yakin Wulan putrinya akan memiliki UT Holding seutuhnya.
Sedangkan Bara, baru saja tiba di kamar hotelnya setelah menyesaikan semua pekerjaan hari ini, disambut dengan panggilan dari Susi di handphonenya.
"Kenapa mbak Susi menelpon larut malam?"
Ia menjawab panggilan itu.
"Ada apa mbak Susi?"
"Maaf saya lancang mengganggu tuan muda malam malam begini." Sahut Susi diseberang sana.
"Ada apa?" Ulang Bara.
Ia melangkah mendekati tempat tidurnya, lalu duduk dipinggiran ranjang itu.
"Bagaimana keadaannya? Apa di masih demam?"
"Tidak tuan muda, nona Keyla tampak baik baik saja. Hanya saja…"
"Hanya saja apa?" Bara tampak tidak sabaran.
"Nona Keyla tidak punya tempat tinggal lagi. Kamar kos nya sudah disewa oleh orang lain." Ujar Susi.
"Biarkan dia tinggal di rumah saya. Jaga dia, rawat dia dan jangan sampai dia pergi kemana mana." Perintah Bara.
"Baik tuan muda." Jawab Susi tegas.
Panggilan berakhir. Bara langsung membersihkan diri dan memesan tiket penerbangan ke Jakarta pagi pagi sekali.
Dan saat ini, Jehan baru saja tiba di Kuala Lumpur. Ia langsung menuju rumah sakit tempat Diki berada. Sayangnya, saat ia tiba disana Diki sudah tidak ada.
"Rupanya om Diki mengetahui kedatangan gue." Gumam Jehan merasa kesal karena tiba terlambat.
Tepat sebelum Jehan tiba ke Malaysia, Diki mendapat telepon dari anak buahnya yang tiba tiba memintanya untuk memindahkan istrinya dari rumah sakit itu. Dan saat ini, ia membawa istrinya ke apartemen tentunya dengan membawa perawat juga untuk merawat istrinya sebelum dipindahkan ke rumah sakit lain.
Jehan tidak menyadari saat turun di bandara Kuala Lumpur, ia berpapasan dengan salah satu pengawal Diki yang akan menyusul pria berwajah Thailand tadi ke Jakarta.
"Harusnya gue memikirkan rencana yang matang sebelum mencari tahu apa yang dilakukan om Diki." Ujar Jehan.
Ia akhrinya memutuskan untuk ke hotel sembari menyusun rencana baru untuk bisa menyelidiki Diki.
Sementara itu, Diki tampak sangat gelisah. Ia sangat khawatir jika sampai orang lain mengetahui keberadaan istrinya.
"Kenapa Jeydan mengirim pengawalnya datang ke Malaysia secara tiba tiba!" Serunya.
Diki berpikir Jehan adalah anak buah Jeydan. Itu karena, pengawal yang menelponnya tidak mengenal Jehan dan mengatakan pada Diki bahwa Jehan kemungkinan anak buah Jeydan.