Tuan Putri Yang Hilang

Tuan Putri Yang Hilang
Bab 13 Perintah tuan Cakra


[11:00]


Cakra baru saja sampai di kediaman putranya. Pagi pagi sekali ia berangkat dari Semarang menuju Jakarta untuk segera menjenguk putranya.


"Selamat siang, Tuan." Sambut Jehan.


"Siang." Jawabnya acuh, karena dia sangat mengkhawatirkan keadaan putranya.


"Selamat siang, Om." Sapa Jehan pada Diki yang mengekor dibelakang Cakra.


"Siang, nak Jehan." Jawabnya ramah.


"Apa Bara masih belum siuman?" Tanya Cakra pada Jehan.


"Belum tuan. Tapi, menurut dokter Salman, tuan muda sudah melewati masa kritisnya dan akan segera siuman dalam waktu beberapa jam kedapan." Jelasnya.


"Syukurlah… Lalu, dimana Timo?" Menghentikan langkahnya sebentar untuk menyejajarkan dengan Jehan dan Diki yang malah ikut berhenti beberapa langkah di belakangnya.


"Timo saat ini di kantor, Tuan. Dia mengurus perusahaan seperti biasa dan berusaha mengalihkan kecurigaan karyawan dan klien karena ketidak hadiran tuan muda."


Hanya anggukan sebagai respon dari Cakra atas penjelasan Jehan. Ia pun kembali melanjutkan langkahnya menuju kamar utama, dimana Bara terbaring tidak sadarkan diri dengan berbagai selang pengobatan yang terpasang dibeberapa bagian tubuhnya.


"Apa yang sebenarnya terjadi?" Ia duduk di pinggir tempat tidur Bara. Tangannya mengelus lembut kepala putranya itu.


"Maafkan saya tuan. Karena keteledoran saya, tuan muda malah masuk dalam jebakan yang sengaja direncanakan oleh anak buah Jeydan."


"Jeydan?" Ulang Cakra, ia sudah cukup lama tidak mendengar nama itu.


"Iya tuan. Jeydan Direktur PT. Taruna Jaya."


"Apa yang kalian lakukan hingga berurusan dengan Jeydan?" Cakra tidak mengerti sama sekali.


"Sebenarnya, satu tahun terakhir tuan muda meminta saya untuk menyelidi kecelakaan yang terjadi empat belas tahun silam yang menyebabkan ibundanya meninggal."


"Dan kamu menemukan bukti bahwa kecelakaan itu berhubungan dengan Jeydan?" Tebak Cakra yang mulai tertarik dengan cerita Jehan.


"Benar tuan. Dan sepertinya, Jeydan juga terkait dengan kejadian dua puluh tahun lalu." Sambungnya.


"Iya tuan."


Cakra menggeram kesal, ia bahkan menggertakkan gerahamnya dan mengepalkan tinju seerat mungkin. Sedangkan Diki hanya menjadi pendengar, ia terlihat tidak begitu tertarik pada pembahasan tersebut.


"Jehan, saya perintahkan kamu untuk menyelidiki Jeydan. Cari informasi tentang dirinya sekecil apapun itu." Tegasnya.


"Baik tuan."


"Saya akan membantu dengan memberikan beberapa info tentangnya dimasa lalu." Sambungnya.


"Baik tuan. Tapi, apakah tuan muda boleh ikut serta dalam penyelidikan ini?" Tanya Jehan kemudian.


Cakra tidak langsung menjawab, ia malah menatap dalam dalam wajah tidak sadarkan diri putranya, digenggamnya erat tangan lemah itu. Ada perasaan khawatir dan cemas yang kini mengganggu pikirannya. Ia pun dilema harus mengizinkan atau merahasiakan penyelidikan ini.


"Bagaimana menurutmu? Kamu sudah bersama Jehan sepuluh tahun terakhir. Tentunya kamu jauh lebih tahu apa yang diinginkannya. Saya memang orangtuanya, tapi dia tidak terlalu banyak bercerita pada saya." Ujarnya lirih. Tatapan matanya sangat lembut dan penuh kasih menatap putra yang telah menemaninya dimasa masa tersulit setelah ia kehilangan istri dan putri kecilnya dua puluh tahun yang lalu.


"Sebenarnya, saya ingin merahasiakan penyelidikan ini dari tuan muda. Tapi, seperti yang saya pahami, tuan muda sangat ingin mengetahui penyebab kematian ibundanya. Jadi, meski saya rahasiakan, tuan muda tetap akan mencari tahu dengan caranya sendiri."


"Kamu benar, Jehan. Dari pada membiarkan tuan muda sendirian, lebih baik temani dia menemukan apa yang ingin ia ketahui."


"Baik tuan. Saya sangat setuju."


Cakra tersenyum, ia merasa akan sedikit lebih tenang saat Jehan berada di samping putranya. Ia percaya, Jehan akan mampu melindungi putranya jika saja dalam penyelidikan itu, Jeydan kembali berulah. Setidaknya, setelah kejadian yang kini dialami putranya, Jehan akan lebih teliti dan berhati hati agar kejadian seperti ini tidak terulang lagi.


"Diki!" Panggil Cakra kemudian.


"Saya tuan." Jawab Diki tegas.


"Bantu Jehan dan tuan muda dalam penyelidikan ini." Perintahnya.


"Baik tuan. Saya akan membantu mereka dengan memberikan info yang saya tahu tentang Jeydan."


Cakra tersenyum lega, karena Diki mau membantu Jehan dan Bara untuk menyelidiki Jeydan.