
Sore ini Wulan pulang ke Panti, meski bunda memperingatkan agar ia tidak usah pulang ke panti dulu dalam beberapa hari ini. Ia merasa khawatir terjadi sesuatu pada bunda dan adik adiknya di panti. Tapi, begitu sampai di panti, ia melihat seorang lelaki separuh baya memasuki rumah panti.
"Siapa bapak itu? Kenapa gerak geriknya sangat mencurigakan." Ujar Wulan sambil melangkah perlahan mendekati rumah panti.
Lelaki itu yang tadi dilihat Wulan memasuki rumah panti, kini duduk di ruang tamu. Bundanya juga duduk berhadapan dengan lelaki itu. Dan Wulan diam diam menguping pembicaraan mereka.
"Sebenarnya saya datang kemari untuk memberitahukan sesuatu tentang rahasia yang tersimpan sejak dua puluh tahun lalu." Ujar lelaki itu yang membuat Astuti merasa khawatir.
"Rahasia dua puluh tahun lalu?" Tanya Astuti sekali lagi untuk memastikan bahwa ia tidak salah dengar.
"Benar bu Tuti. Saya harus mengatakan rahasia ini pada bu Tuti demi keselamatan anak anak bu Tuti."
"Rahasia apa itu pak? Mengapa rahasia itu berhubungan dengan anak anak saya…" Ujar Astuti yang sebenarnya sudah bisa menerka rahasia apa yang dimaksud lelaki itu.
Lelaki itu mulai menceritakan tentang rahasia yang ia maksud, bahwa sebenarnya dua puluh tahun lalu dimalam kebakaran yang mengakibatkan tewasnya istri dan anak dari Cakra Handoko, ia melihat seorang pria keluar dari kobaran api dengan membawa bayi.
"Pria itu berlari terburu buru menjauh dari lokasi kebakaran. Ia membawa bayi yang saya kira, kemungkinan bayi itu adalah putri Cakra Handoko. Saya melihatnya berhenti tepat di depan panti asuhan ini. Saya masih ingat saat itu sekitar pukul tiga dini hari." Tuturnya.
Astuti menanggapi cerita lelaki tua itu. "Malam itu saya memang menemukan bayi didepan panti. Jika saat itu pukul tiga dini hari, berarti bayi itu adalah putri saya, Wulan."
Lekaki tua itu juga mengatakan jika benar Wulan yang ditemukan pukul tiga dini hari di depan panti ini, berarti Wulan adalah putri kandung, Cakra Handoko, direktur UT Holding yang dikira sudah meninggal dalam kebakaran malam itu.
Wulan termangah mendengar cerita yang baru saja didengarnya itu. Ada perasaan lega karena ternyata ia adalah putri dari Direktur kaya raya. Tapi, meski begitu Wulan juga merasa khawatir. Ia khawatir lelaki tua itu hanya mengarang cerita karena di bayar oleh seseorang.
"Saya sarankan, agar bu Astuti menjaga Wulan dengan baik dan harus merahasiakan tentang siapa sebenarnya Wulan dari orang lain. Karena, saat ini musuh dari Cakra Handoko mulai mengetahui kenyataan bahwa putrinya masih hidup." Lelaki itu meyarankan.
"Apakah tuan Cakra Handoko juga sudah mengetahui bahwa putrinya masih hidup?" Tanya Astuti.
Lelaki itu kemudian mengatakan bahwa musuh Cakra kini berkeliaran untuk mencari tahu siapa sebenarnya putrinya. Mereka ingin menangkap putrinya untuk dijadikan sandera yang bisa digunakan untuk mengancamnya agar menyerahkan UT Holding pada mereka.
Wulan mendengar semua cerita itu dengan sangat jelas. Ia hanya diam dan tidak tahu harus menanggapi seperti apa cerita itu. Hingga tanpa sadar kakinya melangkah menjauh dari rumah panti.
"Apa yang akan terjadi padaku? Apakah mereka akan membunuhku?" Pikirnya sambil terus melangkah. Ia bahkan tidak sadar kini sudah berada di tengah tengah jalan raya.
Tinnnn…
Tiiinnn…
Tiiinnnn…
Suara klakson mobil yang lewat saat melihat Wulan berdiri terdiam ditengah jalan raya.
"Apa yang harus aku lakukan?" Ucapnya. Ia menangis sejadi jadinya dan terduduk ditengah jalan.
Mobil mobil terus saja melaju dengan melewatinya. Orang orang yang berjalan di pinggir jalan raya hanya menatapnya dengan tatapan mengejek dan iba. Beberapa orang bahkan mengambil gambar dan merekamnya.
Lalu, tiba tiba cuaca yang cerah itu berubah menjadi mendung. Kilat bahkan menyambar nyambar layaknya flash kamera yang memotret artis. Para pejalan kaki itu pun mempercepat langkah mereka, karena mereka khawatir akan segera turun hujan. Dan benar saja, hujan turun seketika dengan derasnya yang diikuti suara gemuruh seakan alam sedang mengamuk.
"Oh tuhan, apa yang harus aku lakukan." Pekiknya ditengah guyuran hujan.
"Keyla! Aku harus menemui Keyla." Ia tiba tiba teringat pada Keyla. Ia pun berdiri dan langsung menyeberang jalan dengan langkah terburu buru.
Rintik hujan semakin deras, kilat terus menyambar nyambar dan suara gemuruh pun seakan saling bersahutan. Orang orang berlarian mencari tempat berteduh, sementara Wulan terus melangkah menembus derasnya rintikan hujan.