Rahasia Suami Lumpuhku

Rahasia Suami Lumpuhku
Aku ikhlas melakukannya


"Tapi, benaran, dia bukan pacarku," Bella mengangkat dua jarinya seakan sedang bersumpah.


Tsania menganggukkan kepalanya, mencoba untuk percaya. Kemudian wanita itu mulai membaca komentar-komentar pada video klarifikasi yang dilakukan Niko.


"Walaupun dia kekasihmu, apa kamu yakin kalau dia setia? Kamu yakin kalau dia tidak punya hubungan apapun dengan suami orang? Kalau aku sih nggak percaya ya. Aku tidak bodoh, aku bisa menilai yang mana wanita baik-baik. Wanita baik-baik tidak mungkin menerima laki-laki beristri di apartemennya,"


"Alah, cinta boleh bang, bodoh karena cinta jangan. Jelas-jelas tuh perempuan menerima suami orang di apartemennya, apa karena dia cantik, Abang jadi mau Nerima wanita perusak rumah tangga orang. Buat apa cantik kalau akhlaknya minus?"


Berbagai komentar masuk untuk menanggapi video klarifikasi yang dilakukan oleh Niko. Namun hampir semuanya, mengatakan kalau Niko, bodoh kalau terlalu percaya pada Bella.


 Tsania kini kembali menatap ke arah Bella. Wanita itu merasa sudah cukup untuk membaca komentar-komentar sarkas dari para netizen. "Emm, walaupun Niko sudah klarifikasi, tapi sepertinya itu tidak cukup membantu. Niko justru dikatain bodoh sama netizen. Aku akan tetap mengunggah video klarifikasi yang aku lakukan dengan Dimas tadi. Aku harap ini akan membantu," ucap Tsania.


Tidak perlu menunggu lama lagi, akhirnya Tsania pun mengunggah video klarifikasinya dengan Dimas.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


"Dinda, aku pamit pulang dulu! kamu tolong batalkan pertemuanku hari ini. Kamu cari alasan yang tepat saja, dan reschedule kembali pertemuannya," Samudra yang dari tadi tidak tenang akhirnya memilih untuk menemui Bella yang dia yakini ada di apartemennya sekarang.


"Emm, baik, Pak!" sahut Dinda sembari menganggukkan kepalanya.


Samudra pun langsung beranjak pergi, meninggalkan Dinda yang menatap punggung pria itu dengan tatapan kasihan.


"Kasian sekali Pak Samudra. Dia sekarang pasti lagi tidak baik-baik saja. Sudahlah Pacarnya jadi selingkuhan suami orang, eh ada kabar lagi kalau si Bella itu tenyata punya pacar lain selain Pak Samudra," ucap Dinda dengan sangat pelan. Lebih tepatnya dia berbicara pada dirinya sendiri. Wanita itu baru saja melihat video klarifikasi Niko, membuat sekretaris Samudra itu semakin salah paham.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


 Di lain tempat, tepatnya di sebuah rumah kecil petakan, tampak seorang wanita paruh baya yang tidak lain adalah Dona, sedang sangat kesal. Bagaimana tidak, dia berharap dengan dia menyebarkan berita tentang Bella, Dimas akan langsung menghubunginya. Namun, ternyata ditunggu-tunggu, pria yang merupakan menantunya itu, sama sekali tidak menghubunginya. Padahal dia sangat berharap kalau dirinya akan memanfaatkan hal ini untuk memeras Dimas lagi. Karena dia yakin kalau pria itu sangat mencintai Bella, sehingga tidak mau kalau wanita itu dipermalukan.


"Arghhhh, kenapa Dimas tidak menghubungiku sih? Apa dia belum melihat kehebohan yang aku buat ya?" batin Dona, yang dari tadi terlihat tidak tenang.


"Ah, lebih baik aku aja yang menghubunginya dan kasih tahu apa yang sudah aku lakukan. Karena kemungkinan sekarang dia sedang sibuk, makanya belum tahu kehebohan itu," Dona menekan nomor Dimas dan mulai menghubungi. Namun, yang menjawab adalah suara operator yang menginformasikan kalau nomor pria itu tidak bisa dihubungi.


"Apa? Nomornya tidak aktif? Bagaimana bisa? Arghh, kalau begini berarti rencanaku gagal dong!" Dona menggeram, kesal.


Wanita itu kembali duduk dan mencoba melihat perkembangan hasil kehebohan yang dia buat.


Mata wanita itu sontak membesar dengan sempurna, terkesiap kaget melihat klarifikasi yang dilakukan oleh Tsania dan Dimas. Tampak di video itu, anak dan menantunya itu terlihat mesra. Dan di video itu juga, Dimas mengatakan kalau sebentar lagi dia akan jadi seorang ayah seraya mengelus-elus lembut perut Tsania. Apa yang dilakukan mereka berdua sontak mematahkan isu yang sudah dia buat, dan sekarang justru orang-orang balik menghujatnya.


Dona menggeram dan menendang meja.


"Dasar anak tidak tahu diri. Dia semakin berani membangkang sekarang. Bahkan dia sudah berbohong, bilang mau cerai. Ternyata mereka masih baik-baik saja. Tahu begitu, aku kan bisa tetap berpura-pura baik di depan mereka," Dona menggerutu dengan wajah yang memerah.


"Ada apa ini? Kenapa kamu marah-marah?" tiba-tiba muncul Aditya dari depan pintu. wajah pria itu terlihat lelah dan pakaiannya juga kotor. Bagaimana tidak, pria itu sekarang terpaksa jadi pemulung, demi mendapatkan uang. Karena dengan usianya yang sudah tua, tidak ada yang mau menerimanya bekerja lagi


"Kenapa kamu sudah pulang? Ini masih terlalu cepat. Bagaimana kamu mau bisa dapat uang banyak kalau jam segini saja sudah pulang? sedangkan pulang malam pun, kamu tetap saja tidak bisa menghasilkan banyak uang, apalagi pulang jam segini. Sana kamu pergi lagi!" bukannya menyambut dan menjawab pertanyaan pertanyaan sang suami, wanita paruh baya itu justru terlihat semakin murka dan dengan tidak punya perasaan, menyeret tangan Aditya keluar.


Aditya menyentak tangannya hingga terlepas dari cengkraman Dona.


"Kamu apa-apaan sih? Aku mau pulang jam berapapun terserah aku. Rumah ini aku yang bayar kontraknya, bukan kamu. Aku pulang karena lapar, paham kamu! Kamu sudah masak kan?" tanpa memedulikan kemarahan Dona, Aditya masuk kembali ke dalam rumah.


"Aku tidak masak sama sekali!" teriak Dona sembari mengikuti langkah Aditya.


"Ya, mana aku tahu. Kamu kan tahu sendiri kalau aku paling malas memasak. Aku sudah terbiasa dimasakin," sahut Dona, ketus.


"Lagian, kamu jangan banyak permintaan dulu hari ini. Aku lagi malas berdebat denganmu. Aku lagi kesal. Rencanaku gagal dibuat anakmu yang bodoh itu!"


Aditya mengernyitkan keningnya, menatap Dona dengan tatapan penuh selidik.


"Apa lagi ulahmu sekarang? Kamu berbuat konyol lagi hah!Sudah aku bilang kan, stop mengusik anak-anak lagi. Apa kamu belum sadar juga, kalau semua yang terjadi pada kita sekarang, karena perbuatanmu?"


"Arghhh, kamu kalau tidak tahu apa-apa mending diam! Aku melakukan ini semua bukan untuk kepentinganku sendiri, tapi juga untuk kamu. Aku tidak mau kembali ke kehidupanku yang miskin seperti dulu. Aku tidak mau dipandang rendah oleh orang-orang. Paham kamu!" sahut Dona dengan tegas.


"Aku tahu! Tapi kamu terlalu serakah, Dona. Karena keserakahanmu, kita jadi kehilangan segalanya. Jadi, sekarang kamu harus bisa menerima takdir!"


"Tidak! Aku tidak mau! Selagi aku masih hidup aku akan tetap berusaha mendapatkan apa yang aku mau," manik mata Dona, berkilat-kilat, saat mengucapkan kalimatnya.


"Terserah kamu lah! Sekarang aku benar-benar sudah lapar. Kalau kamu tidak mau masak, kami belikan saja makanan untukku di warteg sana. Sekalian juga untukmu!" Aditya mengeluarkan uang dua puluh ribuan yang lusuh dari saku celananya.


"Ini mana cukup!" protes Dona.


Aditya kembali merogoh sakunya dan mengeluarkan uang sepuluh ribuan, lalu memberikan ke pada Dona.


Setelah mendapatkan uang, Dona akhirnya pergi untuk membelikan makanan sesuai permintaan Aditya.


Sepeninggal Dona, Aditya langsung meraih ponsel Dona yang tergeletak di atas meja. Pria itu terlihat mengotak-atik ponsel sang istri dan sesekali melirik ke luar seperti takut ketahuan.


"Selesai!" seru Aditya sembari meletakkan kembali ponsel Dona ke atas meja.


Aditya kembali melirik ke arah pintu. Merasa kondisi masih aman, Aditya pun melangkah masuk ke dalam kamar. Kemudian, ia mulai membuka lemari dan terlihat mencari sesuatu. Semua dia lakukan dengan terburu-buru. Karena tidak menemukan benda yang dia cari di bawah tumpukan pakaian, Aditya beralih ke sebuah bufet. Kemudian pria itu membuka lacinya. Sudut bibir pria paruh baya itu seketika melengkung membentuk senyuman ketika melihat benda yang dia inginkan.


"Akhirnya ketemu juga. Aku harus bertindak cepat. Sebelum Dona balik aku harus menemui pria itu," gumam Aditya seraya buru-buru melangkah keluar.


Untungnya batang hidung Dona belum terlihat sama sekali, sehingga aksinya tidak ketahuan.


Tidak jauh dari rumah kontrakannya, Aditya menghampiri sebuah mobil berwarna putih yang terparkir. Jendela kaca mobil itu terbuka perlahan ketika pria paruh baya itu mengetuknya.


"Bagaimana? Apa Bapak sudah mendapatkannya?" tanya seorang pria yang berada di dalam mobil itu.


"Sudah. Ini dia!" Aditya menyerahkan benda yang dia ambil pada pria itu. Benda itu ternyata adalah berupa flashdisk. "Aku juga sudah menghapus semuanya dari handphonenya," sambung Aditya lagi.


"Baguslah. Terima kasih! Ini imbalan Bapak!". Pria di dalam mobil itu, memberikan dua ikat uang yang tidak tahu berapa jumlahnya pada Aditya.


"Tidak perlu! Aku ikhlas memberikannya padamu!" tolak Aditya, kembali mendorong uang itu ke arah pria di dalam mobil itu.


"Aku juga ikhlas memberikan uang ini. Jangan tunjukkan ke istri Bapak. Pergunakan baik-baik!"


Karena pria di dalam mobil itu memaksanya untuk menerima uang itu, mau tidak mau Aditya pun akhirnya menerima.


Tbc