
"Pa, Kenapa berdiri di luar? Ayo masuk!" Tsania menggandeng tangan papanya, mengajak pria itu untuk masuk ke tempat acara.
"Emm, Papa di sini saja, Nak. Papa sudah cukup bahagia kok, melihat kebahagiaan kakakmu dari sini," tolak Aditya sembari menepis tangan putri bungsunya itu dengan lembut.
"Tapi kenapa, Pa? Apa kak Aozora tidak mengundang Papa?" tanya Tsania seraya mengernyitkan keningnya.
Aditya tersenyum dan menggelengkan kepalanya. "Tapi, kamu tenang saja. Papa tidak sakit hati, karena ini memang pantas untuk Papa dapatkan. Sekarang kamu masuk aja, Nak. Papa juga sebentar lagi mau pulang," Aditya mendorong lembut tubuh Tsania agar masuk ke dalam tempat acara. Namun, Tsania sama sekali tidak mau bergerak dari tempat dia berdiri.
"Kalau Papa tidak masuk, aku juga tidak akan masuk. Bagaimana kalau aku traktir Papa untuk makan malam? Papa pasti belum makan kan? Ayo!" Tsania kembali menggandeng tangan Aditya disertai dengan senyuman manis di bibirnya.
Lagi-lagi Aditya menepis tangan putrinya itu dengan halus. " Tidak perlu, Nak. Kamu masuk aja. Tidak enaknya dengan kakakmu kalau kamu tidak terlihat nanti di dalam. Papa bisa makan malam sendiri. Kamu tenang saja, Papa ada uang kok," ucap Aditya dengan senyum kalem yang tidak tanggal dari bibirnya.
Tsania akhirnya mengembuskan napas pasrah dan tidak mau memaksa papanya itu lagi. "Oh ya, Mama tahu kalau Papa ke sini? mama tidak tahu kan Pa? Takutnya nanti mama marah-marah lagi," raut wajah Tsania kini tampak khawatir.
Aditya menggelengkan kepalanya. "Mama kamu tidak tahu, dan walaupun tahu, dia tidak akan bisa marah, karena sekarang dia sudah ada di dalam penjara kan?"
Tsania sontak terkesiap kaget, dan bergeming untuk beberapa saat. "Ma-Mama di penjara?" ulang Tsania memastikan.
Kini Aditya yang mengernyitkan keningnya. Bingung melihat ekspresi Tsania yang menunjukkan seakan-akan putrinya itu tidak tahu yang sudah terjadi.
"Kenapa kamu kaget seperti itu, Nak? Apa kamu belum tahu kalau mama kamu di penjara?" tanya Aditya.
Tsania menggeleng-gelengkan kepalanya. "Aku sama sekali tidak tahu, Pa. Tapi kenapa mama bisa di penjara? Kesalahan apa yang sudah dilakukan mama sampai harus dipenjara?" tanya Tsania, menatap penuh tanya ke arah Aditya.
"Arsen sendiri yang sudah melaporkan mamamu. Tapi ini semua bukan karena tanpa sebab. Mama kamu sudah menculik kakakmu Aozora dan meminta uang tebusan pada Arsen sebesar 100 miliar. Padahal posisi kakakmu sedang hamil, makanya Arsen sudah tidak bisa lagi mentolerir perbuatan mamamu," terang Aditya dengan lugas.
Tsania kembali terdiam. Mata wanita yang sedang mengandung itu tampak berembun, menahan tangis. Bohong kalau dirinya tidak merasa terguncang mendengar wanita yang melahirkannya kini harus mendekam di dalam penjara. Tapi, mendengar alasan kenapa mamanya itu bisa dilaporkan ke polisi, Tsania tidak bisa menyangkal kalau yang dilakukan oleh mamanya memang sudah sangat keterlaluan.
"Bukan hanya itu kelakuan mamamu, Nak. Mamamu ternyata menyimpan rahasia kejahatannya selama ini. Asal kamu tahu, Samudra pria yang mamamu minta untuk kamu goda itu adalah kakakmu juga. Dia anak papa yang digantikan mamamu dengan bayi yang sudah mati saat dia lahir," lanjut Aditya lagi.
Tsania sedikit tersungkur ke belakang saking kaget dan terpukulnya dia mendengar cerita papanya itu. Beruntungnya, Aditya dengan sigap langsung menahan tubuh putrinya itu.
"Pa ...Papa tidak bercanda kan? Ini sama sekali tidak lucu kalau Papa bercanda," Tsania menggeleng-gelengkan kepalanya mencoba untuk tidak percaya.
"Papa tidak sedang bercanda, Nak. Apa yang Papa katakan tadi, itu benar. Aditya kemudian menceritakan semua Kenyataan yang dia dapat baru-baru ini, tanpa mengurangi dan juga menambahi.
Tsania kini tersandar lemas dan Aditya menahan tubuh putrinya itu agar tidak jatuh.
"Kamu kenapa, Nak?" raut wajah Aditya berubah khawatir.
"Aku tidak apa-apa, Pa. Sekarang kalau Papa mau pulang, Papa pulang saja. Aku mau sendiri dulu!" sahut Tsania sembari mengayunkan kaki melangkah pergi.
"Tsania, kamu mau kemana? Papa ikut kamu!" Aditya mencoba untuk mengejar putrinya itu.
"Pa, papa tidak perlu ikut aku. Aku mau sendiri," Tsania terpaksa menghentikan langkahnya.
"Tapi, Papa tidak mau kamu sampai kenapa-napa, Nak. Papa ikut kamu saja ya,"
Aditya mengembuskan napasnya dan menganggukkan kepalanya.
"Baiklah. Tapi Papa minta agar kamu jangan membenci kakak-kakak kamu itu ya? mama kamu memang pantas untuk mendapatkan ganjaran seperti ini," ucap Aditya lagi dan Tsania hanya menganggukkan kepala dengan lemah.
"Bagaimana? Anda sungguh puas menceritakan itu semua ke Tsania?" Aditya tersentak kaget mendengar suara seorang pria yang terdengar dari belakangnya.
"Samudra?" gumam pria paruh baya itu.
"Bagaimana, anda bisa menceritakan semuanya, tanpa memikirkan bagaimana kondisi putri anda nantinya. Apa anda lupa, kalau Tsania sekarang sedang hamil? Dia pasti sangat emosional dan bisa mempengaruhi kandungannya," ucap Samudra, yang sangat menyesali tindakan Aditya barusan. "Kami berusaha mati-matian untuk merahasiakannya demi menjaga agar dia tidak terguncang, tapi dengan santainya anda menceritakan semuanya," lanjut Samudra lagi.
"Astaga, aku tidak bermaksud seperti itu, Nak. Sumpah demi apapun papa benar-benar lupa kalau Tsania sedang hamil. Kalau begitu, Papa harus mencarinya," Aditya berbalik hendak mengejar Tsania.
"Tidak perlu! Biarkan aku yang mencarinya sekarang! Aku akan menjelaskan semuanya padanya," cegah Samudra seraya beranjak meninggalkan Aditya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Sementara itu, Tsania kini sudah duduk di sebuah kursi besi yang berada di dekat kolam renang.
"Kenapa tidak ada yang memberitahukan aku tentang semua ini? Apa aku sama sekali tidak dianggap sampai hal sepenting ini tidak ada yang memberitahukanku?" ucap Tsania dengan cairan bening yang sudah menetes membasahi pipinya.
"Sumpah, hatiku benar-benar sangat sakit. Aku seakan orang asing. Ya tentu saja aku orang asing. Aku kan lahir dari wanita yang mereka benci. Jadi, tentu saja aku tidak dianggap. Kamu berharap apa sih, Tsania?" ternyata yang membuat Tsania sangat sedih bukan karena mamanya yang di penjara. Menurutnya mamanya memang pantas mendapatkan hukuman seperti itu, dengan kejahatan yang sudah diperbuat wanita yang melahirkannya itu. Namun, yang membuat wanita hamil itu sedih, dia hanya merasa seperti tidak dianggap oleh dua kakaknya.
"Kamu bukan orang asing untuk kami. Kamu itu tetap adik kami, walaupun kamu lahir dari rahim Tante Dona," tiba-tiba Samudra sudah duduk di samping Tsania, hingga membuat wanita itu terjengkit kaget.
"K-Kak Samudra!" seru Tsania.
"Iya, Ini aku," Samudra melemparkan senyum termanisnya ke arah Tsania.
"Ke-kenapa Kakak bisa ada di sini? Dan apa benar kalau kamu ini juga kakakku?" tanya Tsania memastikan.
Samudra menghela napasnya, lalu menganggukkan kepalanya. "Iya. Makanya aku berusaha menahan diri agar tidak tergoda saat kamu menggodaku saat itu. Itu karena aku sadar, bagaimanapun kamu itu adikku,"
"Tapi, kenapa __"
"Kenapa kami tidak memberitahukanmu tentang hal sebesar ini dan bahkan merahasiakan kalau mamamu di penjara? Itu karena kami tidak ingin kamu dan kandungan kamu sampai kenapa-napa," Potong Samudra dengan cepat, karena dia tahu apa yang hendak ditanyakan oleh adiknya itu.
"Jadi, kamu jangan sampai berpikir kalau aku dan Aozora tidak menganggap kamu sama sekali. Kami hanya takut kamu terguncang sehingga bisa mempengaruhi kandunganmu. Maafkan aku dan Aozora ya," lanjut Samudra lagi.
Tsania yang tadinya hanya menangis dalam diam, kini sudah sesunggukan sembari menganggukkan kepalanya.
"Apa aku boleh peluk, Kakak?" tanya Tsania seraya mengusap cairan yang keluar dari hidungnya.
Samudra tersenyum, lalu merentangkan kedua tangannya. Tsania kini tersenyum dalam tangisnya dan menghambur masuk ke dalam pelukan kakak laki-lakinya.
Tbc