Rahasia Suami Lumpuhku

Rahasia Suami Lumpuhku
Aku mau lihat sejauh mana rencanamu


"Ehmm, ehmm! Mau sampai berapa lama kamu duduk di pangkuanku? Terlalu nyaman ya, sampai betah?" ledek Arsen, dengan senyum smirknya.


Aozora sontak berdiri, namun tiba-tiba tangan Arsen kembali meraih pinggangnya hingga wanita itu kembali duduk di pangkuan pria itu.


"Mas,kamu apa-apaan sih?" protes Aozora seraya berniat untuk berdiri lagi. Namun lagi-lagi Arsen menahan istrinya itu.


"Udah, kamu di sini saja. Tadi aku hanya bercanda!" ucap Arsen, dengan salah satu tangan yang erat merangkul pinggang wanita itu.


Aozora ingin sekali mengajak jantungnya untuk kompromi. Namun, sepertinya sang jantung sangat sulit diajak kerjasama, karena dia tetap saja berdetak begitu kencang.


"Bisa tidak, kamu meminta jantungmu untuk tidak berisik? kalau mau bernyanyi suruh nanti saja!" celetuk Arsen, kembali meledek.


"Apaan sih?" kali ini Aozora melepaskan dirinya dengan sekuat tenaga dari rangkulan Arsen. Sumpah demi apapun, wanita itu sekarang benar-benar sangat malu. Itu terbukti dari rona merah yang terlukis di kedua pipinya.


Tawa Arsen sontak pecah, apalagi begitu melihat bibir Aozora yang mengerucut. Menggoda Aozora sekarang adalah sesuatu yang sangat menyenangkan untuknya.


"Dia benar-benar menyebalkan! bisa nggak sih kalau bicara itu jangan terlalu eksplisit?" umpat Aozora yang tentu saja hanya berani dia ucapkan dalam hati.


Setelah sepersekian detik, tawa Arsen akhirnya menyurut. Pria itu berdiri dari tempat duduknya dan menghampiri Aozora yang kini memutuskan untuk duduk di sofa.


"Kenapa dari tadi kamu cemberut saja? Apa karena Hanum akan bekerja di sini? Kamu tidak suka ya?" tukas Arsen seraya mendaratkan tubuhnya duduk di samping Aozora.


"Eh, ti-tidak sama sekali. Untuk apa aku tidak suka? Kan aku sama sekali tidak punya hak untuk keberatan. Itu hak kamu, kamu menerima dia bekerja di sini atau tidak," sahut Aozora, berusaha untuk tetap terlihat biasa saja.


"Yakin?" Arsen mencondongkan tubuhnya hingga wajahnya sangat dekat dengan wajah sang istri.


"Ya-yakinlah!" sahut Aozora, gugup.


"Tapi kenapa aku merasa tidak yakin ya? Entah kenapa aku melihat sepertinya ada sesuatu yang mengganjal di pikiranmu, karena aku bisa membaca dari raut wajahmu," sudut bibir Arsenio tersenyum meledek.


"Terserah kamu mau percaya atau tidak!" sahut Aozora, ketus.


"Lagian kamu seharusnya tidak perlu menunjukkan sikap yang terlihat seperti kamu sangat mencintaiku. Padahal aku yakin kalau sebenarnya kamu menunjukkan kemesraanmu denganku di depan Hanum, itu hanya kamu masih marah dengannya. Dan aku yakin, kalau sebenarnya kamu masih sangat mencintainya kan? Kalau kemarahanmu sudah reda, kamu pasti akan kembali pada Hanum iya kan?"sambung Aozora lagi dengan panjang lebar tanpa jeda.


Arsen mengembuskan napasnya. Raut wajah pria itu sontak berubah kesal. "Kamu jangan berpikir yang aneh-aneh! aku menerimanya bekerja di sini, hanya karena aku kasihan. Kamu lihat sendiri kan kalau aku memintanya ke bagian HRD, agar tidak berinteraksi langsung denganku," Arsen melakukan pembelaan diri.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


"Bagaimana? Kamu sudah berhasil membujuk Arsen agar menerimamu menjadi sekretarisnya?" tanya Dimas to the point, begitu panggilannya mendapat jawaban dari Hanum.


"Tidak sama sekali? Aku memang diterima tapi ditempatkan di bagian HRD, karena yang akan menjadi sekretaris Arsen itu Zora sendiri," terdengar jawaban Hanum dari ujung telepon. Nada suara wanita itu terdengar sangat lirih.


"Sialan! Kamu benar-benar tidak berguna dan tidak bisa diandalkan! Kalau kamu jadi HRD untuk apa coba? Sama saja kamu tidak bisa berinteraksi langsung dengan Arsen. Kamu sama sekali tidak punya kesempatan untuk mendekatinya lagi. Itu berarti sia-sia aku mengancam sekretaris lama itu untuk resign," Dimas menggerutu, merutuki kegagalan Hanum. Ternyata resignnya sekretaris lama Arsen, karena ulah Dimas.


"Kamu apa-apaan sih? lagian aku kan sudah bilang kalau ide kamu itu tidak akan berhasil. Kamu saja yang ngeyel. Aku benar-benar capek tahu, harus selalu berada di bawah kendalimu. Kamu dan papamu benar-benar serakah! gara-gara kalian, hubunganku dengan Arsen jadi hancur" suara Hanum mulai meninggi.


"Oh, berani sekali kamu meninggikan suara padaku.sepertinya kamu memang ingin papamu masuk penjara," Dimas tersenyum smirk. Lagi-lagi dia memanfaatkan kelemahan wanita di ujung sana.


Wajah Dimas memerah, rahangnya juga mengeras, pertanda kalau amarah pria itu mulai terpancing.


"Haaanummm! Kamu sepertinya benar-benar ingin melihat bagaimana amarah aku ya. Baiklah, kalau kamu sudah capek dan tidak mau berkerja sama denganku, aku juga tidak akan main-main lagi. Kamu siap-siap saja, melihat papamu aku paksa untuk mengembalikan uang yang sudah dia korupsi dulu. Kalau tidak bisa, aku pastikan papamu akan digelandang ke kantor polisi hari ini juga!" suara Dimas terdengar mengelegar.


"Ja-jangan, Dim!" Hanum langsung panik.


"Baiklah, aku akan tetap bekerja sama denganmu. Kamu tenang saja, walaupun aku hanya seorang HRD, yang penting aku bisa bekerja di gedung yang sama. Jadi, aku nanti masih punya kesempatan untuk mendekati Arsen. Walaupun mungkin akan sulit, mengingat adanya Aozora. Tapi, aku akan mencari cara, untuk tetap mendekatinya," lanjut wanita itu.


"Baiklah, aku tunggu kabar baiknya. Dan aku tidak mau menunggu lama. Paham kamu!" tanpa menunggu jawaban dari Hanum, Dimas langsung memutuskan panggilan secara sepihak.


"Sayang, kamu kenapa marah-marah sih?" celetuk Bella seraya menghampiri Dimas.


"Bagaimana aku tidak marah, Sayang? Wanita itu benar-benar tidak bisa diandalkan! Masa untuk membujuk Arsen untuk menjadikannya sebagai sekertaris, dia gagal," sahut Dimas dengan napas memburu dan mata yang berapi-api.


"Sabar, Sayang! Bagaimana kalau aku saja yang mengajukan diri untuk menjadi sekretaris Pak Arsen?" Bella memberikan usul.


"Tidak boleh!" sahut Dimas, tegas.


"Kenapa?" tanya Bella dengan kening yang berkerut.


"Aku tidak mau kalau nanti kamu tergoda dengan Arsen, begitu pula sebaliknya. Kamu itu terlalu cantik Sayang. Jadi, akan sulit pria untuk menolak daya tarikmu. Dan aku tidak mau itu terjadi. Aku tidak mau kehilanganmu karena kalau aku kehilanganmu, aku pasti tidak akan sanggup untuk melangsungkan hidup," tutur Dimas dengan raut wajah sendu.


"Uluh ...uluh sayang aku ini! Segitu takutnya kehilangan aku. Kamu tenang saja, aku tidak akan meninggalkanmu. Tapi, ingat aku ini punya batas kesabaran. Aku tidak mungkin bisa menunggu lama, kamu meninggalkan istrimu itu dan menikahiku. Kalau terlalu lama, aki tidak bisa menjamin kalau aku akan meninggalkanmu, karena sebagai wanita aku juga butuh kepastian," ucap Bella dengan tegas.


"Iya Sayang. Kamu tenang Saja. Begitu perusahaan ini sudah ada di tanganku, Secepatnya aku akan menceraikan wanita tidak berguna itu dan akan menjadikanmu istriku,"


"Kenapa sih, kamu sangat menginginkan perusahaan ini? Padahal tanpa kamu miliki pun, penghasilanmu sangat besar. Kamu masih tetap bisa mendapatkan apa yang kamu mau," tanya Bella dengan kening berkerut.


"Karena seharusnya perusahaan ini memang hak ku, Sayang. Arsen dulu dengan licik merebutnya dariku. Perusahaan warisan kakek kami untuk keluarganya bangkrut. Jadi, karena tidak terima dengan liciknya dia mengalihkan nama perusahaan ini atas namanya," Dimas mulai memutar balikkan fakta. Berharap wanita yang dicintainya itu bersimpati padanya, dan mendukungnya.


"Oh, jadi begitu ceritanya? ternyata Pak Arsen benar-benar licik ya! Aku benar-benar tidak menyangka kalau Pak Arsen bisa menghancurkan keluarganya sendiri,"


"Itu dia, Sayang. Kamu aka. Mendukungku untuk merebut perusahaan ini kan, Sayang?" ucap Dimas dengan penuh harap.


"Tentu saja, Sayang. Aku akan selalu di pihak yang benar!" pungkas Bella, tegas.


Dimas tersenyum dan langsung meraih tubuh Bella ke pelukannya. "Kamu benar-benar sangat mengerti aku, Sayang. Aku yakin kalau kamu ada di sampingku dan selalu mendukungku, rencanaku pasti akan berhasil," ucap Dimas.


Tanpa Dimas sadari, sudut bibir Bella melengkung membentuk senyuman, misterius.


"Cih, kamu kira aku tidak tahu kalau kamu itu berbohong? baiklah aku akan melihat sampai sejauh mana rencanamu. Sepertinya permainan ini semakin menarik," bisik Bella pada dirinya sendiri.


Tbc


Lho, kenapa Bella bisa berkata seperti itu? Apa Bella itu musuh dalam selimut untuk Dimas?