Rahasia Suami Lumpuhku

Rahasia Suami Lumpuhku
dia itu adik sepupuku


"Hai, Kak Sen!" sapa Bella begitu masuk ke dalam ruangan.


"Bella, kenapa kamu masuk lagi? Bukannya aku sudah memintamu untuk ___" ucapan Arsen tergantung di tenggorokan begitu matanya melihat sosok Aozora yang muncul di belakang Bella.


"Zora? Ka-kamu sudah datang?" Arsen terlihat mulai gugup.


"Kenapa kamu kaget, Mas? Bukannya aku sudah bilang tadi kalau aku sudah di jalan?" tanya Aozora seraya meletakkan rantang yang dia bawa dari rumah di atas meja sofa.


Sementara itu Arsen menoleh ke arah Bella, seraya mendelik.


"Kenapa Mas menatap Bella seperti itu? Apa ada sesuatu yang kamu sembunyikan mengenai hubungan kalian berdua? Kenapa dia bisa memanggilmu Kak?" Aozora kini sudah tidak bisa menahan diri lagi untuk bertanya.


Arsen tidak langsung menjawab. Pria itu kini hanya menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal sama sekali.


"Kak kenapa diam saja sih? Sekarang Kakak jelaskan saja. Aku rasa Kakak tidak bisa merahasiakannya lagi, karena aku tidak mau Kak Zora salah paham padaku," ujar Bella seraya melangkah ke arah sofa.


"Sana kamu menjauh sedikit, aku mau duduk!" begitu sampai di sofa, Bella mendorong sedikit tubuh Niko yang kebetulan sedang duduk di sofa.


"Seharusnya kamu yang duduk di sana, bukan aku. Aku yang lebih dulu duduk di sini. Jadi, jangan seenaknya kamu mengusir orang," jawab Niko dengan ketus.


Bella mengerucutkan bibirnya dan akhirnya memilih untuk berpindah.


"Sebenarnya ada apa ini Bella? Kenapa kalian berdua tiba-tiba masuk bersamaan? Dan kenapa kamu memintaku untuk menjelaskan hubungan kita ke Zora?" Arsen memilih untuk tidak langsung menjawab pertanyaan Aozora. Ia lebih dulu memilih untuk meminta penjelasan dari Bella.


 Bella menghela napasnya lebih dulu kemudian wanita itu menjelaskan apa yang terjadi tadi di luar sana.


"Aku benar-benar tidak mau Kak Aozora salah paham, karena aduan si nenek lampir itu kak!" ucap Bella setelah dirinya selesai dengan ceritanya.


Arsen terlihat mengangguk-anggukkan kepalanya, mengerti dengan apa yang terjadi.


"Oh, seperti itu? Hmmm, baiklah, sepertinya memang sudah saatnya aku kasih tahu kamu siapa Bella. Dia itu adik sepupuku, Zora. Dia__"


"Hah? Sepupu? Kok bisa? Bukannya sepupu kamu itu Dimas?" Aozora mengernyitkan keningnya, bingung. Sementara Niko terlihat biasa saja, karena dia sudah tahu setelah diberitahu oleh Arsen.


Ya, setelah peristiwa di saat Arsen pertama kali masuk kantor itu, yaitu di mana Niko mengatakan kalau dia tahu Bella ada affair dengan Dimas, Bella langsung mengadu ke Arsen dan meminta kakak sepupunya itu memberitahukan tentangnya pada asistennya itu. Karena ia tidak mau, nantinya pria itu macam-macam dan selalu menghinanya perempuan murahan.


"Tunggu dulu. Jangan memotong saat aku belum selesai bicara!" ucap Arsen, membuat Aozora terdiam.


"Dimas itu sepupu dari papaku. Tapi kalau Bella ini sepupu dari mamaku. Dia ini anak dari kakak laki-laki mama. Mereka selama ini tinggal di Amerika. Jadi, Bella ini lahir dan besar di Amerika. Mereka sangat jarang pulang ke Indonesia. Bahkan kalau pulang pun, langsung ke Bali, ke Labuan Bajo dan tempat wisata lainnya. Setelah itu mereka langsung kembali ke Amerika tanpa datang ke rumah. Biasanya mama dan aku yang menemui mereka ke tempat yang mereka kunjungi," jelas Arsen panjang lebar tanpa jeda.


"Jadi, karena itulah Dimas sama sekali tidak tahu kalau Bella sepupumu, begitu?" tanya Aozora memastikan.


Arsen tersenyum dan menganggukkan kepalanya.


Aozora menghela napasnya, kemudian menoleh ke arah Bella. "Jadi, apa maksud kamu datang melamar pekerjaan di kantor ini dengan cara normal tanpa membawa-bawa nama kakakmu?" Aozora memicingkan matanya, menyelidik.


Aozora semakin tidak mengerti. Itu terlihat dari kernyitan di keningnya yang semakin kentara.


"Emm, sepertinya Kak Aozora masih bingung. Baiklah, aku akan membantu menjelaskan. Saat aku pertama kali melamar ke perusahaan ini, Kak Arsen sudah sengaja memindahkan seorang Karyawan ke kantor cabang agar ada posisi yang kosong. Ka Arsen juga sengaja menyingkirkan dokumen-dokumen para pelamar kerja, dan menyisakan satu satu saja, yaitu milikku. Gunanya agar aku lebih mudah masuk. Tapi ternyata, Kakak langsung menerimaku saat itu dan malah memintaku untuk mendekati Dimas. Hal yang sama seperti yang diminta oleh Kak Arsen. Ya udah, aku mau-mau saja dong. Kan tujuanku masuk ke sini juga untuk mendekati Dimas," Tutur Bella panjang lebar tanpa jeda dan diakhiri dengan kekehan ringan.


"Ini maksudnya sebelum aku minta kamu untuk mendekati Dimas, Mas Arsen sudah lebih dulu meminta kamu mendekatinya gitu?" tanya Aozora, memastikan.


Bella tersenyum dan menganggukkan kepala.


Aozora mengembuskan napasnya, kali ini merasa terkecoh. Dia pun menoleh ke arah Arsen untuk meminta penjelasan.


"Kamu jangan menatapku seperti itu! Seakan-akan aku ini melakukan kesalahan besar. Aku memang memintanya untuk mendekati Dimas karena aku tahu kalau Dimas, sulit untuk menolak pesona wanita cantik apalagi kalau wanita itu lembut dan penuh perhatian. Dan aku sudah selidiki kalau dia itu haus diperhatikan seorang Wanita dan ingin dihargai seorang istri yang sama sekali tidak dia dapatkan dari istrinya. Aku juga tidak tahu kalau kamu juga akan meminta Bella melakukan hal yang sama," jelas Arsen, berusaha membuat Aozora tidak salah paham.


"Dan tujuan kalian berdua berbeda kok, Kak?" timpal Bella, ambigu.


"Maksudnya?" Aozora menatap Bella dengan alis bertaut.


"Ya, tujuan Kak Arsen ...dia ingin aku bisa mengawasi pergerakan Dimas dan melaporkan apa saja yang akan dia dan papanya lakukan. Sedangkan tujuan Kakak, hanya ingin membuat Tsania merasakan sakitnya dikhianati dan membuat Dimas bisa merasakan sakitnya ditinggalkan oleh orang yang sangat dia cintai. Intinya Kakak, ingin membuat mereka berdua merasakan bagaimana sakitnya kakak dan almarhumah mama kakak, iya kan? Jadi aku iya in saja karena memang tugasnya sama saja yaitu mendekati Dimas, walaupun tujuannya beda. Yang penting aku dapat uangnya, double," ucap Bella yang diakhiri dengan tawa.


"Dasar mata duitan!" celetuk Niko dengan senyum sinisnya.


"Hei, hidup ini butuh uang. Jangan munafik lah!" balas Bella menatap sengit ke arah Niko.


"Iya, semua orang memang butuh uang, tapi kamu kan tidak kekurangan uang. Mama, papa kamu kaya, jadi uang kamu lebih dari cukup," Niko tidak mau kalah.


"Mama papaku memang kaya, tapi itu kan uang mereka bukan uangku. Aku kan juga mau, punya uang dengan hasil kerjaku sendiri," ucap Bella.


"Hasil kerja dengan bersandiwara maksudnya?" sindir Niko.


"Hei, bujang lapuk! Pantas saja sampai sekarang kamu sendiri ya. Tenyata mulut kamu sama seperti wanita. Para artis itu juga kan mendapatkan uang dari hasil sandiwara? Bedanya mereka berakting di depan kamera dan aku di dunia nyata. Kamu anggap sajalah aku aktris yang memang harus menghasilkan uang dari sandiwara. Please jangan banyak bacot deh!" Bella mendelik kesal ke arah Niko.


Sementara Arsen hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya, merasa jengah dengan dua orang yang setiap bertemu selalu adu mulut.


Ingin sekali Niko membalas lagi. Namun, menurutnya tidak akan ada gunanya. Yang ada nantinya urusan akan semakin panjang. Jadi, pria itu akhirnya memutuskan untuk diam saja.


Setelah melihat Niko yang sudah diam, Bella kini mengalihkan tatapannya ke arah Arsen.


"Kak bagaimana dengan kak Sa__"


"Emm, aku sudah sangat lapar. Boleh aku makan sekarang? Kamu bawa apa tadi untuk sarapanku?" dengan cepat Arsen menyela ucapan Bella. Karena dia tahu kalau adik sepupunya itu hendak menanyakan kenapa dia tidak juga sekalian memberitahu pada Aozora tentang Samudra yang merupakan kakak Bella. Pria itu tidak mau kalau nanti Aozora berpikir kalau dirinya ingin menguasai perusahaan wanita itu. makanya menempatkan sepupunya di perusahaan milik istrinya itu.


Tbc


Ini jawaban hubungan Arsen, Bella dan Samudra. Dan di bab ini juga alasan kenapa Dimas tidak tahu Bella itu sepupunya Arsen. Jadi, Bella sama-sama disuruh oleh Arsen dan Aozora ya. Tapi, tujuan mereka berbeda. 😁😁😁