
Arsen berjalan dengan sedikit berlari masuk ke dalam gedung perusahaannya. Semua karyawan yang kebetulan berpapasan dengannya tidak dia indahkan, karena dirinya fokus dengan Aozora yang sama sekali tidak bisa dia hubungi.
Pria itu pun langsung masuk ke dalam lift yang khusus diperuntukkan untuknya dan Niko, menuju ruangannya.
"Lho, Sen, kenapa kamu ke sini? Bukannya kamu bilang kalau kamu langsung pulang dan tidak akan ke kantor hari ini? Kamu berubah pikiran ya? Atau ada sesuatu yang sangat penting yang harus kamu urus?" cecar Niko dengan pertanyaan yang beruntun.
"Tanyanya satu-satu dulu! Aku ke sini mau jemput Zora. Tadi aku kirim pesan agar dia menungguku, tapi dia sama sekali tidak membalasnya. Aku coba menghubunginya, tapi tidak tersambung. Aku juga sudah hubungi kamu, tapi kamu tidak angkat sama sekali. Kamu melihat istriku tadi kan? Dia ada di ruangan kan sekarang?" tanya Arsen, tidak sabar.
"Lah, gimana sih? Tadi Zora memang datang ke sini dan sempat menunggumu. Tapi, begitu aku mengatakan kalau kamu tidak masuk kantor, dia langsung pulang kok. Dan masalah teleponmu tidak aku angkat, itu karena dari tadi aku sibuk. Aku tidak tahu kalau kamu menghubungiku," sahut Niko.
"Haish, jadi kemana dia? Aku tidak bisa menghubunginya. Kamu tahu sendiri kan kalau dia belum sepenuhnya lolos dari bahaya. Aku benar-benar khawatir sekarang, Nik," raut wajah Arsen terlihat frustasi.
"Segitu khawatirnya kamu sama Zora. Apa itu berarti sekarang kamu sudah sangat mencintainya? Itu berarti kamu sudah tidak punya perasaan lagi pada Hanum. Zora benar-benar hebat," Niko berdecak dan tersenyum meledek.
"Niko, sekarang tidak waktunya untuk bercanda. Aku benar-benar khawatir sekarang! Untuk masalah perasaan ke Hanum, dari dulu aku memang tidak punya perasaan sedikitpun untuknya," tutur Arsen, membuat Niko menautkan kedua alisnya.
"Maksudnya?" tanya Niko.
"Kapan-kapan saja aku jelaskan. Aku mau pergi dulu. Aku mau mencari Aozora. Mudah-mudahan dia sudah pulang ke rumah. Tolong urus kantor hari ini ya!" tanpa menunggu jawaban dari Niko, Arsen berbalik dan langsung beranjak pergi.
"Siang, Pak Arsen!" belum terlalu jauh Arsen melangkah, tiba-tiba muncul dua wanita di depannya. Niko dari arah tempat dia berdiri mengernyitkan keningnya, melihat dua wanita itu. Dia ingat betul kalau dua wanita itu adalah orang yang pernah diminta Aozora agar tidak dipecat olehnya, walaupun dua wanita itu sempat untuk menjelekkan istri dari sahabatnya itu.
"Kenapa mereka menemui Arsen? Apa mereka mau menjelek-jelekkan Zora? Kan mereka satu devisi ya dengan Hanum? wah, takutnya mereka mau menjelek-jelekkan Zora agar Arsen kembali ke Hanum lagi," pemikiran negatif seketika singgah di pikiran Niko, hingga pria itu pun langsung menghampiri Arsen dan dua wanita itu.
"Ada apa kalian menghadang jalanku? Mau minta kenaikan gaji? Itu bukan urusanku. Buat surat pengajuan dulu, baru nanti aku pertimbangkan, melalui prestasi kalian berdua. Sekarang tolong, kasih aku jalan, aku ada urusan penting," suara Arsen terdengar sangat dingin. Raut wajah pria itu juga terlihat datar saat berbicara, membuat nyali dua wanita itu sedikit ciut.
"Bu-bukan itu, Pak Arsen! Kami tidak mau meminta kenaikan gaji!" salah satu dari wanita itu seketika mengibaskan-ngibaskan tangannya di depan Arsen, menyangkal dugaan dari pemilik perusahaan.
"Jadi?" Arsen mengernyitkan keningnya, menyelidik.
Dua wanita itu tidak langsung menjawab. Mereka berdua saling silang pandang untuk beberapa saat, seakan ingin memberikan kesempatan pada rekannya untuk berbicara.
"Kamu saja," bisik salah satu dari wanita itu.
"Kamu saja deh," tolak yang satu lagi.
"Kalian mau bicara tidak? Kalau tidak, tolong menyingkir. Jangan buang waktuku!" Arsen terlihat mulai hilang sabar, sehingga dia mengeluarkan suara sedikit tinggi.
"Aduh, ba-baik, Pak! Kami hanya ingin menyampaikan kalau tadi Ibu Zora terlibat pembicaraan dengan Hanum. Kami tidak tahu jelas apa yang mereka bicarakan, tapi yang pasti sepertinya cukup serius dan ketika Hanum pergi, Wajah Ibu Zora terlihat sedih. Sepertinya Hanum, mengatakan sesuatu yang membuat Ibu Zora sedih, seperti itu, Pak!" akhirnya salah satu wanita yang memiliki rambut sebahu, memberanikan diri untuk buka suara.
Mata Arsen seketika memerah, dan rahang mengeras. Pria itu mengembuskan napas dengan sekali hentakan dan berbalik.
"Kalian berdua, kembali ke ruangan kalian dan kembali bekerja!" titah Arsen seraya membelakangi dua wanita itu.
Setelah dua wanita itu pergi, Arsen pun langsung merogoh sakunya dan mengeluarkan ponselnya.
"Hanum, kamu datang ke ruanganku sekarang! Ada sesuatu yang mau aku bicarakan!" titah Arsen. Sebelum mendapat jawaban dari wanita di ujung sana, Arsen langsung memutuskan panggilan secara sepihak dan kembali menekan nomor untuk menghubungi seseorang.
"Kalian cari istriku sekarang! Dan beri aku laporan di mana keberadaannya. Periksa melalui GPS yang aku taruh di mobilnya. Paham!" ternyata Arsen menghubungi anak buahnya.
Sementara itu di lain sisi, Hanum terlihat bingung dan bertanya-tanya dalam hati, kenapa tiba-tiba Arsen memintanya untuk bertemu di ruangan pria itu.
"Emm, apa yang ingin dibicarakan Arsen ya? Kenapa nada suaranya terdengar tidak bersahabat? Kenapa perasaanku tidak enak?". Hanum menimbang-nimbang ponselnya seraya menggigit bibirnya.
"Ah, sebaiknya aku langsung saja ke sana. Aku harus tenang dan optimis. Arsen memanggilku pasti karena ingin menanyakan sesuatu yang ada kaitannya dengan kasus Dimas dan Om Damian. Dia pasti membutuhkan banyak informasi. Iya ... pasti karena itu," Hanum mengangguk-anggukkan kepalanya, berusaha untuk berpikiran positif.
Baru saja wanita itu hendak keluar, dia hampir saja berbenturan dengan dua rekan kerjanya yang selama ini tidak pernah membuat dirinya nyaman bekerja.
"Dari mana saja kalian? Mau makan gaji buta ya?" sindir Hanum.
"Bukan urusanmu!" sahut salah satu dari wanita itu ketus seraya menatap Hanum, sinis.
Hanum akhirnya memilih untuk tidak mau mendebat rekan kerjanya itu karena akan memakan banyak waktu.
"Aku tidak mau berdebat dengan kalian, karena tidak ada untungnya bagiku. Sekarang, kalian tolong menyingkir, aku mau keluar!" Hanum dengan sedikit kasar menyingkirkan kedua wanita itu ke samping. Karena posisi dua wanita itu memang menghalangi jalannya.
"Hei, pelakor gila, mau kemana kamu?" teriak salah satu wanita itu.
"Bukan urusanmu! Aku mau ke ruangan Arsen, emangnya kenapa? Mau larang? Silakan kalau bisa. Karena Arsen sendiri yang memintaku ke sana," sahut Hanum dengan bangga, seakan ingin menunjukkan pada dua rekannya itu, kalau dirinya masih dekat dengan pemilik perusahaan tempat mereka bekerja.
Dua wanita itu saling silang pandang dan tersenyum penuh makna.
"Ya udah, silakan ke sana!" sudut bibir dua wanita itu melengkung membentuk senyuman yang hanya mereka lah tahu maknanya.
tbc