
"Ma, aku mohon, tolong jangan temui dia! dia tidak akan peduli sekalipun mama marah-marah. Yang ada dia nanti bisa menceraikanku. Aku tidak mau itu terjadi, Ma. Aku tidak mau hidup miskin," Tsania menahan tangan Dona, ketika wanita paruh baya itu hendak berangkat pergi.
"Dimas benar. Kamu memang istri tidak berguna," celetuk Aditya, tiba-tiba.
"Pah, kamu kok __"
"Kenapa? Bukankah yang aku katakan itu benar?" Aditya memotong ucapan Dona dengan cepat
"Dia tidak pernah melayani suaminya kan? Dia selalu beranggapan kalau dia itu seorang babu kalau sampai melayani suaminya. Akhirnya Dimas muak, dan mencari wanita yang bisa menghargainya, tidak seperti Tsania yang selalu kamu manjakan ini," lanjutnya, membuat Dona terdiam.
"Sekarang, bagaimana nasib kita? Padahal tadi, aku masih berpikir untuk meminta modal pada Dimas atau keluarganya, untuk membuka sebuah usaha, karena aku tidak mau lagi bekerja di perusahaan itu. Aku malu kalau harus tetap bekerja di sana dengan posisi hanya staf biasa. Aku yang bisanya tinggal memerintah, sekarang diperintah. Aku benar-benar tidak mau!" Aditya menggusak rambutnya dengan kasar.
"Bagaimana kalau kita fitnah aja Aozora? Kita buat dia seakan jadi wanita yang paling jahat, yang tega, membiarkan keluarganya sendiri sengsara. Dia tega membuat papanya jadi hanya staf biasa. Aku yakin, karyawan-karyawan akan membencinya kan? jadi, setiap di datang ke kantor dia tidak akan betah karena tatapan sinis para karyawan," dengan semangat Dona menjelaskan rencananya.
"Benar, Pa. Aku setuju dengan saran Mama," Tsania menimpali ucapan mamanya.
"Kalian kira gampang hah? Kalian pikir Aozora Masih Aozora yang dulu? Sekarang dia sudah cerdik. Kalau kita melakukan seperti rencanamu, Aozora bisa saja langsung klarifikasi dengan membaberkan semua perbuatan kita. Dia tidak akan sungkan membaberkan kalau kamu adalah wanita yang sudah merebutku dari Sekar, mamanya. Dia juga bisa membaberkan aib Tsania dan semua kelicikan kita. Karena dia sudah punya banyak bukti. Yang ada bukan Aozora yang dihujat, melainkan Kita," yang Kamu mau itu terjadi hah?!"
Dona sontak menggeleng-gelengkan kepalanya. "Aku tidak mau!" sambar Dona dengan cepat.
"Kalau begitu, jangan pernah melakukannya!" pungkas Aditya dengan tegas.
" Arghhh, jadi sekarang kita harus bagaimana dong?" Dona mulai terlihat frustasi.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Tiga orang yakni Dona, Aditya dan Tsania kini terlihat seperti orang frustasi. Mereka bertiga, terdiam, seribu bahasa dengan mata menerawang sibuk dengan pemikiran masing-masing.
Tiba-tiba, sebuah senyuman licik tersungging di bibir Dona. Sepertinya wanita itu memiliki sebuah rencana yang licik.
Dia kemudian meraih ponselnya dan siap untuk menghubungi seseorang.
"Ma ... Mama mau menghubungi siapa?" tanya Tsania begitu matanya menangkap apa yang hendak dilakukan oleh mamanya itu.
"Mama mau menghubungi suamimu," ucap Dona dengan seringai licik di bibirnya.
Mata Tsania sontak membesar, dan wajahnya terlihat panik. Ia pun dengan cepat berdiri dan merampas handphone dari tangan mamanya itu.
"Jangan, aneh-aneh deh, Ma. Tolong jangan membuat posisiku semakin terancam! Bukannya tadi aku sudah mengatakan kalau Kak Dimas akan menceraikanku kalau mama sampai ikut campur?" tegasnya.
"Kembalikan handphone mama! Aku tahu apa yang akan mama lakukan. Kamu harus yakin kalau Dimas tidak akan menceraikanmu. Percaya ke mama!" Dona menatap Tsania dengan tatapan meyakinkan.
Tsania terlihat masih ragu, namun ketika Mamanya itu menjelaskan apa rencananya dan meyakinkan kalau suaminya tidak akan menceraikannya, Tsania akhirnya mengembalikan ponsel ke tangan wanita paruh baya itu.
"Mama yakin kan?" tanya Tsania, memastikan.
"Tenanglah! kamu percaya saja sama Mama!" lagi-lagi Dona tersenyum licik.
Begitu ponselnya sudah kembali, Dona pun mulai mencari nomor Dimas dan langsung menghubungi menantunya itu.
Cukup lama panggilan Dona mendapat respon dari sang menantu. Bahkan dua panggilan terlewat begitu saja. Namun, Dona tidak menyerah. Dia tetap saja menghubungi pria itu.
"Halo," setelah panggilannya yang ketiga, akhirnya sang menantu menjawab panggilannya.
"Halo, Dimas. Kenapa kamu lama menjawab telepon Mama?" tanya Dona basa-basi.
"Mama hanya mau tanya, kenapa kamu berselingkuh di belakang anakku?"
Tidak terdengar jawaban dari ujung sana. Dimas diam seribu bahasa.
"Dimas kenapa kamu diam hah? Jawab Mama!" bentak Dona. Jangan lupakan wajah Tsania yang cemas takut kalau rencana mamanya tidak berhasil dan justru membuat Dimas akan menceraikannya.
"Jadi, putri anda itu mengadu?" bisa dipastikan kalau ekspresi wajah Dimas sekarang tengah tersenyum sinis. "Sepertinya dia tidak mengindahkan ancamanku. Dia menginginkanku untuk menceraikannya," lanjut Dimas.
"Diam kamu! Berani kamu menceraikan Tsania, aku tidak akan tinggal diam. Aku akan memberitahukan pada mamamu tentang semua kebohonganmu. Mamamu pasti akan sangat marah. Dan satu lagi, aku tidak akan segan-segan mempermalukan selingkuhanmu itu ke publik, sampai dia tidak bisa mengangkat wajahnya lagi untuk menghadapi orang-orang. Dia akan dicap sebagai pelakor. Kamu tahu kan bagaimana nekadnya aku?" Dona menyeringai sinis, walaupun Dimas tidak bisa melihat seringainya.
"Brengsek! Mama mengancamku?" suara Dimas meninggi.
"Menurutmu?" Dona balik bertanya.
"Aku tekankan ke Mama, jangan pernah menyentuh kekasihku!" napas Dimas terdengar memburu.
"Sepertinya kamu sangat mencintai selingkuhanmu itu. Asal kamu tahu, dia lebih parah bejatnya dari Tsania. Dia tahu kalau kamu sudah beristri, tapi dia tetap mendekatimu. Sedangkan Tsania, mendekatimu saat kamu dan Aozora belum terikat dalam pernikahan,"
"Jangan menghina kekasihku. Dia jauh lebih baik dari putri anda yang sama sekali tidak tahu apa-apa itu. Bisanya hanya memanfaatkan tubuhnya. berbeda dengan Bella. Dia lembut, bisa mengerti aku dan membuat aku berharga sebagai seorang laki-laki. Asal mama tahu, Bella selalu menjaga harga dirinya dengan tidak mau disentuh, tidak seperti Tsania yang sama sekali tidak punya harga diri," Dimas berbicara dengan nada berapi-api. Pria itu benar-benar murka dan tidak terima mama mertuanya itu menghina Bella. Wanita yang sekarang dicintainya.
"Kurang ajar kamu! Berani sekali kamu menghina putriku. Aku tidak terima. Kamu bersiap saja, melihat apa yang akan aku lakukan pada wanita tidak tahu diri itu," Dona kali ini terlihat begitu marah.
"Maaf! tolong jangan melakukan apapun pada Bella. Sekarang apa yang mama mau? Aku akan kabulkan, asal jangan minta aku meninggalkan Bella," sepertinya nyali Dimas sudah ciut. Dia sekarang sepertinya benar-benar sudah mencintai Bella, sampai wanita itu menjadi kelemahannya.
Dona menyeringai sinis, merasa kalau rencananya berhasil.
"Mama hanya mau, kamu menepati janjimu secepatnya untuk mendapatkan perusahaan Arsen. Dan aku mau kamu kirimkan uang ke mama sekarang sebesar 200 juta. Dan setiap mama meminta uang, kamu harus kasih, kamu sanggup kan?"
"Mama mau memerasku? Dari mana aku harus menyiapkan uang,setiap mama meminta uang. Mama tahu sendiri kalau aku tidak pimpinan di perusahaan ini,
"Itu urusan kamu! Yang jelas kamu harus memenuhi permintaanku. Kalau tidak, aku juga tidak akan segan-segan mempermalukan kamu di perusahaan itu dan mendatangi Arsen untuk memberitahukan niat busukmu dan papamu yang ingin menguasai perusahaan," tegas Dona.
"Arghhh, anda benar-benar licik. Aku menyesal mau bekerjasama dengan anda dulu. Baiklah, aku akan berusaha untuk memenuhi permintaanmu. Walaupun untuk bisa menguasai perusahaan Arsen sangat sulit. Tapi, aku minta jangan sesekali kalian menyentuh Bella!" panggilan seketika terputus karena Dimas memutuskannya secara sepihak.
"Tuh kan berhasil. Apa Mama bilang? kita akan tetap bisa mendapatkan uang. Kita tinggal manfaatkan saja kelemahannya," Dona tersenyum puas.
Bulan tersenyum bahagia mendengar ucapan mamanya, Tsania justru terlihat semakin sedih.
"Kamu kenapa, Nia? Kamu tidak senang?" Dona mengernyitkan keningnya.
"Bagaimana mungkin aku bisa senang, Ma, kalau aku tahu, tenyata kak Dimas secinta itu pada wanita itu?sampai tidak mau terjadi apapun pada wanita itu." cairan bening kembali membasahi pipi Tsania.
"Makanya jangan bodoh! Mulai sekarang, kamu harus belajar jadi istri yang baik, agar Dimas kembali padamu. Jangan kalah dengan selingkuhannya! belajar menghargai suamimu dan layani dia dengan baik!" kali ini Aditya yang buka suara.
Sementara itu, di lain tempat Arsen tersenyum misterius saat menerima panggilan. Sepertinya ada informasi menyenangkan yang baru saja dia terima.
"
Tbc
Mohon di like, komen dan vote dong guys. 🙏