
"Hari Sabtu ini Perayaan ulang tahun Pak Arsenio Reymond. Selaku presdir dan pemilik perusahaan ini, dia memintaku untuk mengundang kalian semua untuk perayaan ulang tahunnya, di kediamannya sendiri. Diharapkan semuanya datang. Pak Arsen juga meminta untuk tidak membawa kado apapun. Kalian semua cukup hadir saja!" suara Niko terdengar lantang di lobby, di mana para karyawan sengaja dikumpulkan sebelum pulang.
Suara tepuk tangan dan sorak bahagia terdengar memenuhi lobby. Wajah-wajah yang tadinya terlihat lelah, kini terlihat berbinar bahagia. Karena baru kali ini pemilik perusahaan itu mengadakan pesta ulang tahunnya di rumahnya sendiri. Biasanya selalu di hotel. Kenapa mereka begitu antusias? Itu karena para karyawan sangat ingin bisa menginjak kediaman pengusaha muda, yang tampan dan sukses itu.
Di antara para karyawan yang terlihat bahagia itu, ada sudut bibir seseorang yang melengkung membentuk senyuman licik. Pemilik bibir itu adalah Dimas. Entah apa yang direncanakan oleh pria itu, hanya dialah yang tahu. Tapi bisa dipastikan, kalau pria itu pasti berencana sesuatu yang buruk.
Di lain sisi tampak Hanum juga ada di antara para karyawan-karyawati . Wanita itu terlihat tidak begitu bahagia, karena ulang tahun Arsen kali ini sangat berbeda dengan perayaan ulang tahun pria itu sebelumnya. Di mana ulang tahun kali ini dirinya tidak akan menjadi pendamping pria itu. Posisinya dulu akan digantikan oleh Aozora, wanita yang sekarang punya hak atas Arsen. Belum juga tiba harinya, hati wanita itu sudah terasa sakit, karena membayangkan bagaimana romantisnya nanti pasangan suami-istri itu. Hanya membayangkan saja sudah membuatnya sakit, apalagi nanti kalau menyaksikannya sendiri.
"Lebih baik nanti aku tidak usah datang ke acara itu, daripada aku merasakan sakit," batin Hanum, seraya menggigit bibirnya sendiri.
Di saat wanita itu hendak beranjak pergi, ponsel yang dari tadi Hanum pegang, tiba-tiba berbunyi, pertanda ada pesan yang masuk.
"Nanti kamu jangan langsung pulang. Temui aku di taman selepas ini! ingat jangan membantah, kalau tidak, kamu akan tahu akibatnya!" ternyata si pengirim pesan adalah Dimas.
"Mau apalagi sih dia? Pasti dia punya rencana buruk lagi. Aku harus bagaimana sekarang? Apa aku mengabaikannya saja ya?" Hanum terlihat dilema.
"Iya, benar! Aku abaikan saja! Aku sudah capek diperalat terus!" Hanum kembali melanjutkan langkahnya. Namun, tiba-tiba wanita itu kembali berhenti melangkah.
"Tapi, kalau aku abaikan, dia pasti tidak akan main-main dengan ancamannya. Arghhh, sial! Kapan sih aku bisa lepas dari jerat pria brengsek itu?" umpat Hanum, akhirnya memutuskan untuk menemui Dimas.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
"Ada apa lagi, Dimas?" tanya Hanum tanpa basa-basi begitu sudah berdiri tepat di depan pria itu. Nada suara wanita itu juga terdengar sangat ketus.
"Wis, santai dong! Jangan angkuh di depanku!" sudut bibir Dimas sedikit terangkat ke atas membentuk senyuman smirk.
Hanum, menarik napas dalam-dalam dan mengembuskan kembali ke udara, untuk meredam rasa kesalnya. "Maaf, aku hanya lelah saja. Sekarang, tolong katakan, ada maksud apa kamu mengajakku bertemu di sini," Hanum kini berusaha untuk berbicara dengan lembut.
"Nah gitu dong! Kamu tunggu dulu sebentar, karena kita juga menunggu papaku," ujar Dimas seraya mengedarkan tatapannya untuk melihat apakah Damian papanya sudah datang atau belum.
"Haish, nanti ada Pak Damian ternyata. Mereka lagi merencanakan hal busuk apa ya?" Hanum mulai gelisah.
Tidak menunggu lama, tampak seorang pria paruh baya yang tidak lain adalah Damian, berjalan mendekati mereka.
"Kenapa Papa lama sekali, sih?" Begitu jarak Damian sudah dekat, Dimas langsung melontarkan protesnya.
"Sudahlah, Pa. Aku malas membahas wanita sialan itu! Itu sama sekali tidak penting. Sekarang sebaiknya kita bahas tentang rencanaku dulu. Untuk urusan kemarahan mama, biar nanti aku yang menghadapinya. Mama tidak mungkin sampai membunuhku kan, gara-gara masalah ini. Jadi, Papa tenang saja. Aku juga nanti tidak akan melibatkan Papa yang tahu tentang perselingkuhanku dulu dengan Tsania dan sekarang sedang Bella," tutur Dimas lugas.
"Baiklah, Papa pegang ucapanmu. Papa tidak mau kalau mamamu itu kecewa sama papa. Paham kamu!" suara bariton milik Damian terdengar sangat tegas.
Dimas menganggukkan kepala, mengiyakan.
"Cih, Papa sama anak sama aja. Sama-sama tidak punya hati," Sementara Hanum terlihat diam saja. Namun, wanita itu membatin, merutuki dua pria berbeda usia di depannya itu.
"Sekarang, jelaskan apa rencanamu, yang katamu brilian itu!" Damian akhirnya mengalihkan pembicaraan ke topik utama.
Dimas, tidak langsung menjawab. Pria itu tersenyum smirk lebih dulu, lalu mendaratkan tubuhnya duduk di kursi besi yang ada di taman itu.
"Begini, Pa. Seperti yang kita dengar tadi, kalau hari Sabtu ini adalah hari di mana Arsen akan mengadakan pesta ulang tahunnya. Dan secara kebetulan atau memang keberuntungan lagi berpihak kepada kita, sepupuku yang bodoh itu, merayakannya di rumahnya sendiri. Jadi, hari itu adalah kesempatan kita bisa mendapatkan surat-surat berharga perusahaan dan aset-aset Arsen," Senyum licik Dimas terlihat tidak tanggal dari bibir pria itu selama menjelaskan.
"Maksud kamu apa? Kamu kira hal yang mudah mendapatkan surat -surat itu? mana briliannya rencanamu? Papa rasa biasa saja dan bahkan bisa dengan mudah menjerumuskan kita ke penjara," ucap Damian, kesal.
"Papa tunggu dulu! Aku belum selesai bicara. Papa kan punya anak buah yang diam-diam jadi anak buah Arsen juga. Sepertinya Arsen tidak curiga kalau ada anak buahnya yang berkhianat. Papa minta saja dia merusak CCTV mulai dari ruang tengah, sampai menuju kamar Arsen. Nah di saat semua sedang sibuk dalam perayaan, kamu Hanum, menyelinap langsung ke kamar Arsen. Karena jika ada asisten rumah tangga yang berpapasan denganmu, kamu bisa mengatakan kalau kamu disuruh oleh Arsen untuk mengambil sesuatu. Bagaimanapun mereka pasti percaya perkataanmu, karena setahu mereka kamu wanita yang sangat dicintai Arsen. Lalu kamu ambil semua surat-surat penting. Sementara kami akan tetap bersama dengan Arsen di tempat acara, agar ketika dia kehilangan surat-surat itu, dia tidak akan curiga pada kami, paham kamu kan? Setelah kamu berhasil, kamu kabari kami, dan aku akan meminta orang suruhanku untuk membakar salah satu pabrik. Tujuannya untuk mengalihkan perhatian Arsen, hingga dia tidak memiliki pikiran untuk memeriksa surat-surat itu, masih ada atau tidak, karena fokus pada masalah pabrik. Jadi kita bisa nyaman dan cepat selesai mengalihkan nama kepemilikan perusahaan dan aset-aset lain atas nama kita," terang Dimas panjang lebar dan detail seraya tersenyum mengembang.
"Wah, idemu sangat bagus! Papa sangat setuju!" wajah Damian terlihat berbinar bahagia.
"Aku tidak setuju!" celetuk Hanum dengan cepat dan tegas.
"Kami tidak butuh pendapatmu Setuju tidak setuju, kamu harus tetap melakukannya!" Dimas menatap sengit ke arah Hanum.
"Kalau aku tidak mau?" tantang Hanum.
"Kalau kamu tidak mau, kamu pasti tahu akibatnya, paham kamu!"
Hanum mendengkus kesal, namun sama sekali tidak bisa membantah.
Tbc