
"Pak Sam, di luar ada seorang wanita yang katanya ingin bertemu Bapak. Apa aku boleh mengizinkan dia untuk masuk?" lapor seorang wanita yang merupakan sekretaris Samudra sekarang.
"Siapa? Apa kamu tahu siapa dia?" Samudra mengernyitkan keningnya, karena merasa dia tidak memiliki janji dengan siapapun hari ini.
"Iya, Pak. Aku kenal dia. Dia Tsania, putri kedua dari Pak Aditya, pemimpin perusahaan ini yang dulu," sahut Dinda sang sekretaris.
"Tsania? Hmmm, buat apa dia datang ke sini? Sepertinya dia punya tujuan tertentu makanya datang. Aku harus waspada," ucap Samudra, pelan. Tepatnya dia berbicara pada dirinya sendiri.
"Baiklah, kamu suruh dia masuk!" pungkas Samudra akhirnya.
"Baik, Pak!" Dinda membungkukkan sedih badannya, kemudian berbalik, lalu mengayunkan kaki melangkah menuju pintu.
"Silakan masuk, Bu Tsania! Pak Samudra menunggu anda di dalam!" ucap Dinda dengan suara lembut, dan dengan bibir yang melengkung membentuk senyuman.
"Terima kasih, Mbak Dinda!" Tsania membalas senyuman Dinda, yang tentu saja membuat sekretaris itu sedikit surprise. Bagaimana tidak. Ini adalah pertama kalinya putri kedua dari Aditya itu mengucapkan terima kasih dan melempar senyuman.
"Kenapa dengan dia? Apa kepalanya terbentur sesuatu? kenapa dia bisa berubah ramah seperti itu?" bisik Dinda pada dirinya sendiri seraya memperhatikan punggung Tsania dari tempat di berdiri.
"Argh, apa urusanku coba? Kan bagus kalau dia memang benar berubah!" gumam Dinda seraya melangkah ke luar dan menutup pintu kembali.
"Selamat siang Pak Samudra!" sapa Tsania dengan suara yang dia buat selembut mungkin. Bahkan bibir wanita itu juga kini tidak pernah berhenti untuk tersenyum.
"Selamat siang! Ada apa kamu datang ke sini?" suara Samudra terdengar dingin.
"Emm, mau apa ya? Ya ... Aku hanya mau melihat, siapa sih orang yang menggantikan papaku jadi pemimpin perusahaan, itu saja. Ternyata, apa yang aku lihat ini? Tadinya aku mengira kalau kamu itu pasti hanya pemuda yang tampangnya biasa saja.Ternyata aku Salah ... Kamu ternyata sangat tampan, Pak Samudra!" Tsania mulai melancarkan rencananya.
"Jadi kamu sudah melihatku kan? Kalau begitu kamu bisa keluar sekarang!" tegas Samudra yang benar-benar merasa risih melihat penampilan Tsania yang begitu mencolok. Pakaian yang membalut tubuh wanita itu sangat ketat, bahkan dua gundukan daging yang menempel di dadanya terlihat seperti hendak melompat keluar.
"Ih, kamu mau mengusirku? Kamu kenapa sekejam itu sampai mengusirku?" Tsania mulai memasang wajah sedihnya.
Samudra menarik napas panjang dan mengembuskannya dengan sekali hentakan. Pria tampan itu terlihat mulai jengah. Apalagi ketika melihat Tsania yang terlihat jelas tidak nyaman dengan pakaian yang dia kenakan.
"Nona Tsania, kalau kamu tidak betah dekat dengan pakaian yang kamu pakai, ya jangan dipaksakan untuk tetap dipakai," cetus Samudra, dingin.
"Si-siapa yang tidak nyaman? Jangan sok tahu. Aku nyaman-nyaman aja kok," sangkal Tsania dengan cepat.
"Oh ya? sepertinya aku belum buta untuk bisa melihat seseorang yang dalam posisi nyaman dan yang dalamnya posisi gelisah," sudut bibir Samudra sedikit naik ke atas, tersenyum sinis.
"Itu hanya perasaanmu saja. Aku benar-benar merasa nyaman dengan apa yang aku kenakan. Atau jangan-jangan kamu yang tidak merasa nyaman karena ingin menyentuh tubuhku? Kalau kamu mau menyentuhnya, aku dengan suka rela memberikannya. Aku jamin kamu pasti puas dan ketagihan," Tsania semakin memperlihatkan belahan di dadanya pada Samudra. Wanita itu bahkan sengaja menggigit bibir bawahnya dengan memasang tatapan yang sendu.
Samudra sontak memalingkan wajahnya ke arah lain, karena dia tidak ingin tergoda dengan wanita di depannya itu. Bukan karena hanya memikirkan dosa tapi ada hal lain yang membuat dia berusaha untuk tidak tergoda.
"Emm, kenapa kamu melihat ke arah sana? Lihat ke sini dong, Sayang!" Tsania membuat suaranya selembut mungkin, berharap pria di depannya itu tergoda.
Samudra akhirnya kembali melihat ke arah Tsania, dan menatap dengan tatapan tajam.
"Nona Tsania yang terhormat, kalau tujuan kamu datang ke sini hanya untuk menggoda saya, maaf itu tidak akan berpengaruh padaku. Hanya saja aku heran, kenapa ya ada wanita yang tidak tahu malu seperti ini?" ucap Samudra dengan seringai tipis di bibirnya.
Sementara itu, Tsania terlihat terdiam seribu bahasa, tidak membantah ucapan pria di depannya itu. Sepertinya ucapan yang terlontar dari mulut pria itu benar-benar menusuk perasaannya, hingga akhirnya membuat wanita itu mulai menangis.
"Kenapa kamu jadi menangis? kening Samudra berkerut, merasa bingung.
"Ti-tidak kenapa-napa! Aku pergi dulu!"
Samudra sontak berdiri dan dengan sedikit berlari menuju pintu sebelum Tsania yang lebih dulu sampai ke pintu.
Kemudian pria itu mengunci pintu dan berbalik, menoleh ke arah Tsania dengan raut wajah yang menyeringai sinis.
"Ke-kenapa kamu mengunci pintunya? Apa kamu berubah pikiran dan merasa menyesal berpura-pura tidak tergoda denganku?" tukas Tsania.
Samudra berdecak seraya menggeleng-gelengkan kepalanya, disertai dengan melemparkan senyum tipis.
"Jangan terlalu percaya diri, Nona Tsania. Aku hanya penasaran kenapa anda bisa berniat menggodaku, padahal aku sangat yakin kalau sebenarnya kamu sangat tidak ingin melakukannya. Entah kenapa, aku merasa kalau anda melakukan hal memalukan seperti tadi, karena adanya paksaan seseorang, apa dugaanku benar?" Sudut alis Samudra sedikit tertarik ke atas, menatap Tsania dengan tatapan menyelidik
"Ti-tidak sama sekali. I-itu hanya dugaan anda Saja," Tsania berusaha menyangkal, dengan suara yang bergetar. "Tolong kasih aku jalan, Tuan Samudra. Aku mau keluar!" imbuhnya.
Lagi-lagi Samudra tersenyum sinis dan menggelengkan kepalanya. "Tidak semudah itu, Tsania! Karena aku yakin dengan apa yang aku pikirkan. Kamu tidak usah mengelak. Kamu berusaha menggodaku karena paksaan seseorang kan? Dan aku yakin kalau seseorang itu adalah mama kamu sendiri. Benar kan?"
Mata Tsania membesar sempurna, terkesiap kaget, karena tidak menyangka kalau pria di depannya itu bisa menebak dengan benar. Namun, Tsania berusaha untuk tetap terlihat biasa saja, agar tidak terlalu kentara kalau dirinya sekarang sedang gugup.
"Jangan asal bicara! apa yang kamu tuduhkan itu sama sekali tidak benar. Please buka pintunya, Tuan Samudra! Aku mau pulang!"kembali Tsania memohon.
"Aku tidak akan membukanya sebelum kamu berterus terang. Kalau kamu tetap memilih untuk menutupinya, jangan salahkan kalau aku tidak akan mengizinkan kamu keluar dari ruangan ini. Bahkan aku akan menghubungi Dimas suamimu, untuk memberitahukan hal kotor yang hampir saja kamu lakukan padaku," ancam Samudra, masih dengan sudut bibir yang menyeringai licik.
"Ja-jangan! tolong jangan kasih tahu pada suamiku. Baiklah, aku akan memberitahukan anda apa yang terjadi sebenarnya," Tsania menarik napas dalam-dalam, lalu mengembuskannya kembali ke udara. Kemudian, wanita itu pun mulai menceritakan yang sebenarnya. Tentang dirinya yang mendapatkan ancaman dari mamanya sendiri, kau dia tidak mau melakukan perintah wanita paruh baya itu.
"Mama kamu benar-benar tidak pantas disebut seorang ibu. Aku benar-benar tidak menyangka, ada ibu sekejam itu. Demi harta, sanggup mengorbankan kehormatan Putrinya sendiri," Samudra terlihat begitu kesal sekarang.
"Sekarang, apa yang harus aku lakukan, Tuan Samudra? Mamaku pasti sangat marah kalau tahu aku gagal menggoda kamu. Aku pasti dikatain anak yang tidak berguna," Tsania mulai menangis, membuat Samudra merasa tersentuh.
"Baiklah, aku punya ide. Untuk sekarang kamu bilang saja ke mamamu kalau kamu sudah berhasil menggodaku,"
"Ta-tapi ...." ucapan Tsania tergantung di udara.
"Tidak ada tapi-tapi! Kamu katakan saja seperti itu. Pokoknya pintar-pintar kamu mengarang cerita," pungkas Samudra, tegas.
"Oh ya, satu lagi ... Aku hanya mau mengingatkan kamu. Kita boleh mencintai seseorang itu, tapi Jangan sampai terlalu buta hingga akhirnya membuat kita menjadi orang bodoh. Kalau boleh, kita harus tetap bisa berpikir rasional!" Samudra berhenti sejenak untuk mengambil jeda.
"Aku bukannya memintamu untuk meninggalkan Suamimu, tapi aku hanya mau mengingatkan kamu, untuk tidak jadi bodoh karena cinta. Kalau kamu merasa Dimas masih layak untuk kamu pertahankan, ya pertahankan. Tapi, kalau memang sudah tidak pantas lagi, let it go!" pungkas Samudra, dengan bijak.
Tbc