Rahasia Suami Lumpuhku

Rahasia Suami Lumpuhku
Bosan punya banyak uang


Aozora berjalan dengan gontai, masuk ke dalam rumah. Wajah wanita berparas cantik itu juga terlihat kusut.


"Eh, Ra Arsen di mana? Kenapa kamu sendirian?" tanya Daren yang entah kapan datangnya. Tapi, bisa dipastikan pria itu datang setelah dirinya dan Arsen keluar dari rumah.


"Dia aku tinggal di taman," sahut Aozora, ketus


Daren mengernyitkan keningnya, merasa bingung dengan sikap Aozora yang sama sekali tidak bersahabat.


"Zor, kamu dan Arsen baik-baik saja kan? Kalian tidak berantem kan?" tanya Daren beruntun.


"Aku dan Mas Arsen baik-baik saja. Kamu jangan berpikir kejauhan,"sahut Aozora seraya melangkah menuju sofa.


"Jadi, kalau tidak berantem kenapa kamu meninggalkan Arsen di taman? kamu tega, dia pulang sembari mendorong kursi rodanya sendiri?"


"Dia sudah __"


"Lho, Zora dimana Arsen? Bukannya kalian berdua tadi pergi bersama?"belum sempat Aozora menjawab Daren, Amber muncul dan bertanya hal yang sama seperti yang ditanyakan Daren.


"Mas Arsen sepertinya masih betah di Taman, Ma. Soalnya ada mbak Hanum di sana," sahut Aozora, berusaha untuk tersenyum.


Daren dan Amber sontak saling silang pandang dengan mata yang membesar, mendengar informasi dari mulut Aozora.


"Kamu jangan bercanda, Zora!" seru Daren.


"Aku tidak bercanda. Mbak Hanum memang ada di taman dan Mas Arsen sedang berbicara dengannya," sahut Aozora, berusaha menyakinkan dua orang di depannya itu.


"Jadi, kenapa kamu membiarkan mereka berbicara berdua? Harusnya kamu paksa Arsen pulang!" Amber terlihat mulai kesal.


"Tadi Mas Arsen memang memintaku untuk menunggunya, tapi aku disuruh menjauh. Mas Arsen sepertinya tidak mau aku mendengar apa yang mereka bicarakan. Aku melihat, mereka sepertinya saling merindukan, jadi aku memutuskan untuk pulang sendiri saja, Ma," tutur Aozora, berusaha terlihat tegar.


"Ini tidak boleh dibiarkan, mama akan ke sana sekarang!" Amber terlihat marah.


"Eh, tidak perlu, Ma! Nanti Mas Arsen pasti akan pulang kok," Aozora berusaha untuk mencegah.


"Tidak bisa, Mama tidak mau nanti wanita itu menginjakkan kakinya di rumah ini. Kalian berikan di sini saja, biar aku yang ke sana!" Amber sama sekali tidak mengindahkan ucapan Aozora. Wanita paruh baya itu tetap beranjak pergi.


"Jadi, benar Arsen bersama dengan Hanum di taman?" lagi-lagi Daren bertanya. Sepertinya pria itu masih sulit untuk percaya.


"Kamu kira aku bohong? Ya benaran lah!" Aozora memutar bola matanya, merasa jengah dengan ketidakpercayaan pria itu padanya


"Dan kamu tidak merasakan apa-apa gitu?" Daren mengernyitkan keningnya.


"Merasakan yang seperti apa maksudmu?"


"Yaaa, semacam perasaan cemburu. Kamu tidak merasa cemburu?" Daren menatap Aozora dengan tatapan penasaran.


"Emangnya, aku ada hak untuk cemburu?" tanya Aozora, balik.


Daren berdecak, kesal. "Kamu ini bodoh atau pura-pura bodoh sih, Ra? Tentu saja kamu punya hak. Kamu itu kan istrinya Arsen. Jadi, wajar kalau kamu cemburu. Atau jangan-jangan kamu memang tidak cemburu karena belum cinta pada Arsen?" tanya Daren penuh selidik.


"Istri yang bagaimana dulu? Kamu tahu sendiri kan, kenapa kami bisa menikah? Yang jelas bukan karena saling mencintai," sahut Aozora, masih berusaha untuk tetap tersenyum.


Sementara itu, Amber yang masih berada di depan rumah dan siap keluar dari pagar, menghentikan langkahnya tiba-tiba. Mulut wanita itu juga terlihat terbuka, dan matanya membesar dengan sempurna. Bagaimana tidak, ia melihat Arsen berjalan dengan kedua kakinya yang dia tahu masih lumpuh ketika keluar dari rumah tadi.


"A-Arsen, ini kamu, Nak?" tanya Amber dengan suara bergetar, seraya memegang ke dua lengan putranya itu.


"Jadi, menurut mama siapa lagi?" tanya Arsen balik.


"Ya, ampun. Akhirnya kamu bisa berjalan, Nak!" seru Amber seraya memeluk putranya itu. Air mata wanita itu bahkan sampai keluar, sakit terharunya.


"Ma, udah ah peluk-peluknya! Aku sulit bernapas, Ma!" Arsen berusaha melonggarkan pelukan mamanya yang memang sangat kencang.


"Ada apa, Ma? Kenapa menatapku seperti itu?" Arsen mengernyitkan keningnya.


"Apa karena kamu sudah bertemu Hanum makanya kamu bisa sembuh? Apa segitu bahagianya kamu bertemu dengan wanita itu, sampai kamu lupa dengan istrimu? Bukannya kamu tahu jelas kalau Aozora itu wanita yang kamu__"


"Ma, kesembuhanku tidak ada hubungannya dengan Hanum. Sebelum Hanum muncul tadi aku sudah bisa berdiri dan bahkan memberikan pelajaran pada 3 pria yang hendak melecehkan Aozora. Waktu kami pulang, Hanum muncul tiba-tiba," Arsen dengan cepat memotong sebelum mamanya itu selesai dengan ucapannya.


"Apa? Jadi tadi Aozora hampir dilecehkan!" pekik Amber dengan rahang mengeras.


"Sudahlah, Ma. Tidak perlu semarah itu lagi. Yang jelas semuanya sudah bisa aku atasi," sahut Arsen.


"Syukurlah!" Amber mengembuskan napas lega.


"Tapi, kenapa bisa Aozora sampai hampir dilecehkan? Bukannya kamu meminta Samudra untuk melindunginya? Kemana dia dan rekannya?" tanya Amber menanyakan bodyguard yang selama ini menjaga Aozora.


"Oh, tadi aku yang meminta mereka untuk tidak perlu ikut, karena aku bilang kalau aku ada, aku bisa melindungi istriku sendiri," jelas Arsenio yang tanpa sadar sudah menimbulkan raut curiga dari sang mama.


"Emm, kamu bilang, kamu sudah bisa melindungi Aozora? Apa itu berarti sebelumnya kamu sebenarnya sudah sembuh?" mata Amber memicing, curiga.


Raut wajah Arsen sontak berubah pucat. "Ti-tidak kok, Ma. Entah kenapa, aku hanya yakin saja tadi, kalau aku bisa melindungi Aozora," sahut Arsen dengan gugup.


"Ah, Mama tidak percaya. Kamu bohong kan? Bilang saja kalau kamu berpura-pura masih lumpuh, supaya Aozora tetap mengurusmu dan tidak pergi ke Kantor agar bisa berlama-lama bersama Aozora di rumah, iya kan?" ledek Amber seraya mengerlingkan matanya, menggoda sang putra.


"Aozora mana, Ma? Tadi dia pulang sendiri. Padahal tadi aku memintanya untuk menunggu," Arsen dengan sengaja mengalihkan pembicaraan.


"Cih, pintar sekali kamu mengalihkan pembicaraan," Amber memasang wajah kesal. "Bagaimana mungkin dia tidak pulang? Tidak mungkin dia lama-lama menunggu kamu yang melepaskan rindu dengan Hanum," imbuhnya.


"Aku tidak melepaskan rindu dengan Hanum. Aku hanya berbicara sebentar, untuk meminta dia agar jangan menggangguku lagi, karena aku sudah punya istri. Itu saja, Ma," jelas Arsen.


"Kamu yakin?" mata Amber memicing, masih belum sepenuhnya percaya dengan ucapan Arsen.


"Yakin, Ma. Sekarang di mana Aozora. Dia di dalam kan?" Arsen mulai jengah dengan ledekan mamanya.


"Iya, dia di dalam dengan Daren. Tadi Daren__"


"Sh*it! Beraninya dia!" belum sempat Amber menyelesaikan ucapannya, Arsen sudah berlari ke dalam meninggalkan mamanya.


"Hmm, pasti dia cemburu!" gumam Amber, seraya tersenyum melihat kepergian putranya.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Arsen mengepalkan tangannya dengan kencang. Wajahnya juga memerah saat melihat Daren sedang berusaha membuat sang istri tertawa dengan guyonannya. Dan Aozora tersenyum menanggapi guyonan sahabatnya itu. Walaupun Aozora tidak sampai tertawa, tapi pemandangan itu tetap saja mampu membuatnya jengkel.


"Hmm, seru ya ngobrolnya?" celetuk Arsen membuat dua orang yang duduk di sofa tersentak kaget dan bersamaan menoleh ke arah Arsen.


"Mas Arsen!" gumam Aozora.


"Wow, akhirnya kamu mau berjalan sendiri juga. Sudah mulai terasa capek ya duduk di kursi roda?" bukannya takut melihat wajah marah Arsen, Daren malah meledek sahabatnya itu.


"Maksudnya? apa itu berarti Mas Arsen sudah lama sembuh, tapi dia __"


"Kamu masuk ke kamar, Zora! aku mau bicara dengan Daren!" Dengan cepat Arsen memotong ucapan Aozora.


"Tapi, Mas aku belum mendengar jawaban dari Daren. Kamu sebenarnya sudah lama bisa jalan kan? Kalau iya, berarti dugaanku tadi benar dong. Karena tidak mungkin orang yang baru bisa berjalan, langsung bisa berjalan selancar itu. Pasti awal-awal akan kaku dan butuh penyesuaian. Benar kan?" ucap Aozora, tidak mengindahkan perintah Arsen yang memintanya untuk masuk ke kamar.


"Kalau iya, kenapa kamu harus berpura-pura tetap lumpuh? Kenapa kamu harus merahasiakannya? Kenapa harus simpan banyak rahasia sih?" Aozora mulai bersungut-sungut.


"Karena Arsen sudah bosan banyak uang, Ra. Jadi, sekarang dia mau banyakin Rahasia saja," celetuk Daren, disertai dengan tawa.


tbc