
Waktu berlalu begitu cepat. Tidak terasa kandungan Aozora sudah memasuki usia kandungan 7 bulan sementara Tsania sudah 9 bulan dan HPL-nya tinggal menunggu hari. Sementara pernikahan Samudra dan Dinda sudah terlaksana dengan baik dan lancar lima bulan yang lalu, dan bahkan kakak ipar dari Aozora dan Tsania itu, sedang hamil sekarang. Dan usia kehamilannya baru menginjak usia dua bulan.
Bagaimana dengan Niko dan Bella? Pasangan yang selalu adu mulut di setiap kesempatan bak Tom and Jerry itu pun sudah menikah dua bulan yang lalu, dan sekarang masih menikmati masa-masa pengantin baru.
"Tsania kamu baru dari mana?" tanya Aozora sembari memasukkan potongan buah ke dalam mulutnya, yang baru saja disajikan oleh Amber mertuanya.
"Aku baru dari penjara menemui mama, Kak," sahut Tsania yang terlihat sudah mulai kesusahan membawa perutnya yang sudah sangat besar bak balon yang siap untuk meletus.
Mendengar jawaban Tsania, Aozora sontak menghentikan kunyahannya dan menatap ke arah Tsania dengan mata memicing.
"Kamu ke sana untuk menemui mamamu atau Dimas?" tanya Aozora, menyelidik.
"Aku ke penjara wanita, tentu saja aku menemui mama," sahut Tsania santai seraya mendaratkan tubuhnya duduk di kursi dekat Aozora. Kemudian, wanita itu meraih garpu dan tanpa meminta ikut menyuapkan potongan buah ke dalam mulutnya.
"Untuk apa kamu ke sana? Dan apa kamu pergi sendiri tanpa tante Meta? Apa Tante Meta tahu kalau kamu pergi menemui mamamu?" tanya Aozora dengan beruntun, mengingat adiknya itu selama ini memang sudah tinggal dengan Meta mama mertuanya.
"Mama Meta tidak tahu aku pergi menemui mama. Aku hanya izin datang ke sini," sahut Tsania sembari menelan buah apel yang baru saja dia kunyah.
Aozora berdecak dan menggeleng-gelengkan kepalanya. "Kami sudah hamil tua, Nia. Kamu tinggal menunggu harinya saja. Harusnya kamu tidak boleh keluar sendiri. Bagaimana seandainya terjadi sesuatu padamu?" protes Aozora, membuat Tsania terkekeh.
"Buktinya aku baik-baik saja kan, Kak?" Tsania tersenyum kalem.
Aozora memilih untuk tidak menanggapi lagi. Wanita yang juga sedang hamil itu kembali memasukkan potongan buah pear ke dalam mulutnya.
"Oh ya, kamu belum jawab pertanyaanku tadi. Untuk apa kamu kamu ke Penjara?" Aozora mengulang pertanyaannya.
"Aku cuma mau minta maaf dan minta doa, agar persalinanku lancar Kak. Aku tahu, kalau mama banyak melakukan kesalahan. Tapi, bagaimanapun dia adalah wanita yang melahirkanku. Jadi, aku pikir tidak ada salahnya aku mendatangi Mama dan minta restunya. Aku tidak salah kan, Kak?" ucap Tsania.
Aozora terdiam untuk beberapa saat. Detik berikutnya istri Arsen itu tersenyum dan menggelengkan kepalanya.
"Kamu tidak salah sama sekali. Sebagai seorang anak, kamu memang pantas melakukannya. Ayo, sekarang makan lagi buahnya!" Aozora menunjuk piring berisi buah yang terletak di depan mereka
Setelah beberapa saat, wajah Tsania tiba-tiba muram, seperti ada sesuatu yang sedang dipikirkan oleh wanita itu. Perubahan wajah wanita itu tidak lepas dari pandangan Aozora.
"Kamu kenapa, Nia? Apa ada sesuatu yang sedang kamu pikirkan? Tanya Aozora dengan sudut alis yang sedikit terangkat ke atas.
"Emm, tidak apa-apa,Kak," Tsania berusaha untuk tersenyum, walaupun senyumannya itu lebih terlihat seperti ringisan.
"Kamu jangan berbohong! Aku bisa lihat jelas kalau kamu terlihat seperti ada beban," kali ini mata Aozora memicing, tidak percaya dengan jawaban Tsania.
"Aku benar-benar tidak apa-apa, kak. Percaya deh!" Tsania tetap saja tidak mau jujur.
"Aku hanya merasa sedih, karena aku akan melahirkan tanpa didampingi seorang suami, Kak. Padahal, aku sangat ingin bisa melahirkan dengan sampingan suami, yang bisa memberikan aku semangat," ucap Tsania yang tentu saja hanya dia ucapkan dalam hatinya saja.
Cukup lama, dua kakak beradik itu bercengkrama, bercerita dan sesekali diselingi dengan tawa. Namun, sepanjang mereka bercerita, berkali-kali juga Tsania terlihat meringis sembari menyentuh bawah perutnya. Karena rasa sakitnya hilang timbul, Tsania memilih untuk tidak memberitahukannya pada Aozora.
"Aduh, sa-sakit!" pekik Tsania, yang sepertinya sudah tidak bisa lagi menahan rasa sakit di perutnya yang kebetulan semakin menjadi-jadi.
"Tsania, kamu kenapa?"
Tangan dua wanita itu saling menggapai, sama-sama ingin menolong.
"Ma-Mama! To-tolong!" Aozora berusaha untuk berteriak.
Sepertinya Dewi Fortuna masih berpihak pada dua wanita kakak beradik itu, karena Arsen yang memilih untuk pulang cepat, langsung menghambur lari ke arah ruang makan, begitu mendengar suara istrinya yang berteriak.
"Sayang! Kamu kenapa?" pekik Arsen sembari berlari menghampiri sang istri.
"M-Mas, perutku sakit! Tolong sakit sekali!" rintih Aozora, sembari mencengkram kuat lengan kemeja yang dipakai oleh suaminya itu.
"Kita ke rumah sakit sekarang!" ucap Arsen sembari mengangkat tubuh Aozora.
"M-Mas, Tsania sepertinya mau melahirkan. Tolong dia!" Di sela-sela rasa sakit di perutnya yang semakin menjadi, Aozora masih tetap memikirkan Tsania adiknya.
Di saat bersamaan, Samudra yang baru saja datang hendak mengantarkan makanan hasil masakan Dinda, sesuai seperti yang diminta oleh adiknya itu.
"Tsania!" pekik Samudra sembari menghambur ke arah adiknya itu.
"Kak, tolong bantu bawa Tsania ke rumah sakit. Aku akan bawa Aozora," ucap Arsen sembari berlari kembali menuju ke mobil.
"K-Kak, sakit!" rintih Tsania.
"Te-tenang saja ya! Kakak akan bawa kamu ke rumah sakit," Samudra mengangkat tubuh Tsania.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
"Bagaimana istriku, Dok?" tanya Arsen ketika dokter yang sedang memeriksa sang istri keluar dari ruangan pemeriksaan.
"Karena benturan yang dialami ibu Aozora dan rasa panik yang tiba-tiba membuat ibu Aozora mengeluarkan banyak darah. Jadi demi keselamatan keduanya, terpaksa harus segera dilakukan operasi untuk mengeluarkan bayinya, Pak Arsen," terang dokter itu.
"Ma-maksudnya, anak saya harus lahir sekarang juga, Dok? Tapi anak saya masih belum cukup umur. Apa berarti anak saya lahir prematur?"
Dokter itu menganggukkan kepala, mengiyakan.
Arsen tampak tersungkur lemas. Rasa takut yang dia rasakan sekarang lebih hebat dari rasa takut akan kehilangan perusahaannya.
"Apa istri dan anak saya, akan baik-baik saja, Dok?" desis Arsen.
"Doakan saja, Pak. Sekarang Bapak harus menandatangani surat persetujuan melakukan operasi, agar kita semua bisa langsung melakukan tindakan operasi,"
"Baiklah, Dok. Lakukan yang terbaik! Aku ingin istri dan anakku selamat!" titah Arsen dengan sangat tegas dan penuh penekanan.
"Ba-baik, Pak Arsen!" ucap Dokter itu. Lalu dengan buru-buru kembali masuk ke dalam ruangan.
Tbc