Rahasia Suami Lumpuhku

Rahasia Suami Lumpuhku
Bab 101


Sudah sebulan berlalu semenjak Arsen memenjarakan Damian dan Dimas. Kehidupan mereka kini sudah kembali normal seperti biasa.


Semenjak Arsen sudah mencurahkan isi hatinya dan semenjak Aozora tahu kalau dia adalah wanita yang dicintai dengan begitu besar oleh suaminya, pasangan suami istri itu terlihat semakin romantis. Bahkan seminggu lagi mereka akan mengadakan resepsi pernikahan mereka sekaligus untuk memperkenalkan Aozora sebagai nyonya Arsenio Reymond Pratama.


"Mas, aku boleh ikut ya hari ini untuk melihat persiapan resepsi kita?" rengek Aozora untuk kesekian kali. Mulai dari dia tidak sengaja mencuri dengar kalau ternyata Arsen sedang mempersiapkan acara resepsi mereka.


"Sayang, kamu tenang saja ya, kamu terima beres saja. Aku sudah gagal memberikan kejutan kalau aku merencanakan resepsi kita, please kali ini biarkan dekorasi dan persiapannya jadi kejutan untukmu," ucap Arsen, yang secara tidak langsung menolak permintaan istrinya.


Aozora mengerucutkan bibirnya. Lagi-lagi dia kesal karena tidak diizinkan oleh sang suami untuk ikut mempersiapkan acara resepsi. Bahkan, dirinya pun tidak tahu acara resepsi mereka nanti menggunakan konsep apa.


"Udah, jangan cemberut!" Arsen mengecup bibir Aozora dengan lembut.


"Aku pergi ke kantor dulu ya!" sambung Arsen lagi dan kali ini mengecup kening sang istri.


Arsen berjalan ke arah pintu dan diekori oleh Aozora dari belakang. Seperti biasa, dia akan selalu mengantarkan Arsen ke depan samping pria itu pergi dengan mobilnya.


"Mas, nanti aku akan ke perusahaan almarhum mamaku ya? Aku mau melihat kondisi perusahaan sekarang," ucap Aozora sebelum Arsen masuk ke dalam mobil.


"Emm, kamu nanti diantar supir ya!" Aozora menganggukkan kepalanya, mengiyakan. Karena ia tidak mau berdebat dengan suaminya itu kalau dia mengatakan akan berangkat sendiri.


"Ya udah, nanti kalau sudah mau berangkat dan sudah sampai di sana, kamu jangan lupa untuk mengabariku," lagi-lagi Arsen mengecup kening Aozora, lalu masuk ke dalam mobil.


ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ


Aozora kembali masuk ke dalam rumah setelah mobil yang dikemudikan Arsen sudah tidak terlihat.


Wanita itu masuk ke dalam kamarnya dan langsung bersiap-siap hendak pergi.


Saat mencium parfum yang biasa dia pakai, seperti biasa di kembali merasa pusing dan ingin muntah. Wanita itu pun buru-buru meletakkan kembali parfum itu dan memilih memakai parfum milik suaminya. Padahal jelas-jelas aroma parfum Arsen itu, maskulin khas pria.


"Kenapa sih parfum milikku tuh bikin aku pusing dan mual? Padahal kan aku sudah biasa memakainya. Apa udah expired ya?" Seraya menutup hidungnya, Aozora meraih botol parfumnya dan melihat tanggal expirednya.


"Masih lama kok. Tapi, kenapa baunya buat aku mual? dan anehnya sudah dua minggu ini aku merasakannya," ucap Aozora pelan. Tepatnya dia bicara pada dirinya sendiri.


"Ahh, sudahlah! Makin dipikirkan makin pusing. Mending aku pergi saja," Aozora berdiri dari kursi meja riasnya. Tiba-tiba kepala wanita itu kembali pusing. Penglihatan wanita itu tiba-tiba buram. Aozora mencoba memejamkan matanya, menggeleng-gelengkan, lalu memijat pelipisnya, untuk mengurangi rasa pusing.


"Kenapa aku sering pusing setiap aku dari duduk ke berdiri? Apa tekanan darahku tinggi atau rendah? sepertinya sebelum ke perusahaan, aku singgah di rumah sakit saja. Sekalian aku periksa juga di bawah penyebab bawah perutku yang suka keram," batin Aozora.


Setelah rasa pusingnya sedikit reda, Aozora pun meraih tasnya dan keluar dari kamar. Wanita.


Aozora merogoh tasnya, mengeluarkan ponsel hendak mengabari Arsen kalau dirinya akan berangkat. Namun, tiba-tiba wanita itu urungkan. "Ah, sebaiknya nanti setelah dari rumah sakit saja aku kabari. Kalau aku kasih tahu, aku ke rumah sakit dulu, dia pasti akan khawatir dan meninggalkan pekerjaannya. Kalau aku kasih tahu, aku akan berangkat ke perusahaan, dia akan curiga kalau aku lama nyampenya. Iya deh, seperti itu aja," Aozora kembali memasukkan ponselnya ke dalam tasnya.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Aozora masuk ke poly dokter kandungan setelah disarankan oleh dokter umum yang sebelumnya sudah melakukan pemeriksaan lebih dulu. Dirinya disinyalir sedang hamil, makanya untuk memastikan benar tidaknya, ia pun garis ke dokter kandungan.


"Silakan duduk, Nona Zora!" seorang dokter wanita mempersilakan Zora untuk duduk.


Setelah itu, Dokter itu menanyakan serangkaian pertanyaan, dan Aozora menjawab sesuai yang dia alami. Zora juga mengatakan hasil pemeriksaan yang dilakukan dokter umum tadi.


"Baiklah, silahkan anda berbaring dulu! Kita akan melihat melalui USG," Aozora berdiri dari tempat dia duduk dan melangkah ke arah brankar. Kemudian, wanita itu pun berbaring dengan detak jantung yang berdetak lebih kencang dari detak normal. Sungguh dia benar-benar deg-degan dengan hasilnya nanti. Dia takut kecewa kalau hasilnya nanti dirinya ternyata tidak hamil.


"Tenang ya, Nona. Jangan gugup! aku mulai ya, pemeriksaannya," Dokter itu meletakkan probe di bawah perutnya yang sebelumnya sudah diolesi cream.


Aozora menarik napas dalam-dalam dan mengembuskannya untuk mengurangi rasa groginya.


Dokter kandungan itupun tersenyum dan mulai menggeser probe yang ada di tangannya.


"Wah, benar Nona. Selamat ya, anda memang sedang hamil dan usia kandungan anda sudah 6 Minggu. Posisi kandungannya juga benar di tempatnya, dan baik-baik saja," terang dokter tanpa menanggalkan senyum di bibirnya.


"Se-serius, Dok?" tanya Aozora memastikan.


Dokter itu lagi-lagi tersenyum seraya menganggukkan kepala, mengiyakan. Senyum Aozora seketika mengembang dan matanya berkaca-kaca, bahagia mendengar ucapan sang dokter.


"Jadi, semua keluhan yang anda alami saat ini, ya karena pengaruh perubahan hormon anda. Janin anda masih muda, jadi masih rentan untuk keguguran. Jadi, aku harap anda bisa menjaganya dengan baik, dan jangan terlalu capek!" tutur dokter itu.


"Baik, Dok! Terima kasih banyak, Dok!" wajah Aozora berbinar bahagia. Bayangan kebahagiaan Arsen saat mendengar kalau dia akan jadi seorang ayah, sudah bisa Aozora bayangkan.


"Baiklah, anda bisa tunggu di luar. Aku akan kasih vitamin dan asam folat untuk kandungan anda. Anda juga nanti bisa membeli susu hamil, sebagai pendamping vitamin yang saya kasih,"


Aozora menganggukkan kepalanya, lalu keluar dari ruangan dokter itu setelah sebelumnya pamit. Senyum di bibir wanita berambut hitam panjang itu, tidak pernah tanggal dari bibirnya sekalipun sekarang dia sudah di luar ruangan dokter kandungan itu.


Sementara itu di tempat yang sama, yaitu rumah sakit tempat Aozora diperiksa, tampak seorang wanita muda sedang membersihkan teras lantai rumah sakit. Wanita itu tidak lain adalah Hanum, yang akhirnya memutuskan menjadi cleaning service di rumah sakit besar itu.


Di saat dirinya sedang asik mengepel lantai, tiba-tiba seorang wanita berdiri tepat di depannya.


Hanum sontak mengangkat wajahnya untuk melihat siapa pemilik kaki itu. Wanita cantik itu pun mengernyitkan keningnya, menatap wanita paruh baya di depannya itu.


"Kamu Hanum kan?" tanya wanita itu tanpa basa-basi.


"Iya, aku Hanum. Anda siapa ya? Apa kita pernah kenal?" tanya Hanum, dengan alis yang semakin bertaut.


"Kita memang tidak kenal. Tapi hari ini kamu akan mengenalku. Kenalkan aku Dona. Aku mamanya Tsania dan aku juga mama tirinya Aozora," wanita paruh baya itu ternyata Dona. Entah apa tujuan wanita itu, untuk menemui Hanum.


"Oh," sahut Hanum singkat.


"Cih, sombong sekali gadis ini. Kalau bukan karena aku ingin mengajaknya kerja sama, sudah aku amuk kamu," batin Dona, mengumpat dalam hati.


"Apa tujuan Tante menemuiku?" Hanum kembali buka suara.


Dona tersenyum smirk dan berjalan ke arah sebuah kursi yang memang disediakan di teras rumah sakit itu. Sementara Hanum masih tetap berdiri di tempatnya, mengawasi pergerakan wanita paruh baya itu.


"Kamu kenapa masih berdiri di sana? Sini, ada sesuatu yang mau aku bicarakan denganmu,"


Hanum menghela napasnya. Wanita itu memang sedikit curiga dengan wanita bernama Dona itu, tapi karena penasaran, wanita itu pun melangkah menghampiri Dona.


"Ada apa? cepat katakan Tante. Ini Jam kerja, jadi aku harus bekerja,"


" Baiklah ... Begini, aku tahu kalau kamu itu mantan kekasih Arsen. Iya kan?" Hanum menganggukkan kepalanya. "Emangnya kenapa?" tanyanya.


"Kamu pasti dendam pada Aozora kan? Dan kamu pasti ingin melenyapkannya, agar kamu bisa kembali bersama dengan Arsen. Tadi, aku mengikutinya dan ternyata di ada rumah sakit ini. Jadi, Aku mau mengajakmu kerja sama untuk menyingkirkan Aozora, karena aku juga ingin dia lenyap. Bagaimana?" mata Dona terlihat berapi-api dan senyumnya juga telinga sinis saat menyebut nama Zora.


Hanum menghela napas dan berdecak. Dugaannya kalau ada yang salah dengan wanita di depannya itu ternyata benar.


"Tante Dona yang terhormat. Maaf, seribu maaf. Aku memang mencintai Arsen, dan menyesali kehadiran Aozora di antara kami. Tapi, maaf! Aku sama sekali tidak pernah berniat untuk menyingkirkannya, karena aku menyadari kalau cinta Arsen hanya untuk Zora bukan untuk wanita lain manapun. Jadi, aku hanya ingin dia bahagia walaupun bahagianya bukan denganku. Jadi, anda salah mendatangi saya. Bagaimanapun aku tidak mau! Permisi!" pungkas Hanum, seraya beranjak pergi.


Tbv