
"Pa, Kenapa wajah Papa pucat?" tanya Aozora setelah pelukan antara ayah dan ketiga anaknya terlerai.
"Oh, Papa tadi lupa makan saja. Kamu tenang saja, Papa tidak apa-apa kok," sahut Aditya sembari tersenyum tulus.
"Papa kenapa masih berbohong? Sebaiknya Papa jelaskan saja yang sebenarnya," sambar Samudra, membuat Aozora mengernyitkan keningnya.
"Maksudnya, Kak?" tanya Aozora.
"Muka Papa pucat, itu karena darahnya baru diambil sebanyak dua kantong, demi menyelamatkanmu. Papa meminta agar tidak memberitahukan ke kamu, karena takut kamu menolak darahnya," jelas Samudra.
"Papa!" Aozora kembali menangis.
"Sudah, sudahlah! Kamu jangan menangis. Papa baik-baik saja kan? Lagian, memang sudah kewajiban Papa untuk menolong, selagi Papa masih sanggup," Aditya mengelus-elus puncak kepala Aozora.
"Terima kasih, Pa! Terima kasih!" ucap Aozora di sela-sela isak tangisnya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Kondisi ruangan Aozora kini sudah kembali seperti biasa. Kejadian yang membuat orang terharu sudah berlalu 30 menit yang lalu. Bahkan Aozora sudah melihat kondisi putranya dari pembatas kaca dan dia baru kembali 5 menit yang lalu. Putri pertama Tsania dan Dimas juga sudah dibawa ke ruangan Aozora, dan sekarang sedang berada di gendongan Meta.
Saat semua sedang asik bercengkrama, Daren yang dari tadi diam saja, mengayunkan kakinya melangkah menghampiri Aditya.
"Om, aku mengucapkan beribu terima kasih karena sudah menyelamatkan rumah sakitku," ucap Daren, membuat Aditya mengernyitkan kening, berusaha untuk memahami maksud ucapan pria yang berprofesi dokter itu.
"Apa maksud perkataanmu tadi Nak Daren? Kenapa kamu harus berterima kasih padaku? Emangnya hal baik apa yang sudah aku lakukan?" tanya Aditya masih dengan kondisi alis yang bertaut.
"Karena kesediaan Om untuk mendonorkan darah pada Aozora, Arsen tidak jadi menghangatkan rumah sakit ini," ucap Daren, bernada sindiran, seraya melirik ke arah sahabatnya itu.
Ucapan Daren barusan sontak saja membuat tawa di ruangan itu pecah.
"Maaf, Sob. Tadi aku berkata seperti itu saking paniknya. Aku sebenarnya tidak benar-benar bermaksud untuk menghancurkan rumah sakit ini," ucap Arsen
Daren tersenyum dan menganggukkan kepalanya. "Oh ya, Sen. Tadi aku belum sempat mengucapkan selamat atas kelahiran anakmu, karena situasi wajahmu tadi cukup genting. Jadi, sekarang aku mau mengucapkan selamat padamu. Selamat sudah jadi seorang Ayah ya!" ucap Daren.
Setelah Daren selesai mengucapkan selamat, Orang-orang yang berada di dalam ruangan itu pun ikut menyusul mengucapkan selamat pada Arsen dan Aozora.
"Oh, mumpung semuanya ada di sini. Aku dan Hanum sekalian mau mengundang kalian sudah ke acara pernikahan kami yang kebetulan acaranya dua minggu lagi," kondisi ruangan yang tadinya sedikit riuh, tiba-tiba hening, kaget mendengar yang baru saja terlontar dari mulut Daren.
"Kalian berdua mau menikah?" tanya Arsen memastikan.
Daren tersenyum dan menganggukkan kepalanya. Tangan pria yang berprofesi dokter itu bergerak meraih pinggang Hanun dan merangkulnya dengan posesif.
"Iya, emangnya cuma kamu dan Niko saja yang boleh menikah? Aku juga mau kali, menikah. Masa jomblo terus," ucap Daren, sembari menatap sinis ke arah Arsen.
"Emangnya siapa yang melarang kamu menikah? Cuma yang aku bingung sejak kapan kalian punya hubungan?" mata Arsen memicing, menyelidik.
"Baru dua bulan yang lalu sih dia menerimaku. Dan karena tidak mau berlama-lama lagi, sekalian aja aku lamar tanpa harus pacaran, iya kan, Sayang?" Daren semakin mengeratkan rangkulannya di pinggang Hanum.
Hanum tersenyum dan menganggukkan kepalanya.
"Wah, baru dua bulan sudah langsung menikah. Kamu sepertinya tidak mau kehilangan Hanum," Aozora buka suara menimpali ucapan Daren.
"Tentu saja. Walaupun baru dua bulan kami menjalani hubungan, tapi jujur saja aku sudah mencintai Hanum dari dulu. Tapi, aku pilih mundur dan mengalah karena saat itu Hanum mencintai Arsen. Aku hanya menginginkan Hanum bahagia dengan cintanya, itu saja," tutur Daren membuat mata Arsen dan Niko membesar sempurna. Karena jujur saja, sebagai sahabat mereka berdua sama sekali tidak tahu kalau Daren menyembunyikan perasaan cintanya selama ini pada Hanum.
"Aku kirain kamu dan Hanum dulu saling mencintai. Tenyata cinta Hanum hanya sebelah pihak. Seandainya aku tahu, sudah sejak dulu aku berusaha untuk memperjuangkan Hanum," lanjut Daren lagi.
"Jadi, kenapa saat aku masih baru menikah dengan Aozora, kamu selalu mengatakan kalau kamu akan mengambil Aozora dariku, kalau kami berpisah? Bukannya saat itu kami tertarik pada istriku,"
Daren tertawa lepas, membuat alis Arsenal bertaut. "Ya, itu karena aku sebenarnya ingin kamu benar-benar bisa jatuh cinta pada Aozora, jadi ketika Hanum muncul kembali, aku punya kesempatan untuk memperjuangkannya," sahut Daren, setelah tawanya reda.
"Sialan kamu! Kamu buat aku kesal seharian karena kamu bilang kalau Aozora melayanimu makan seperti seorang suami. Kamu puji-puji kecantikan istriku, sampai aku kira kamu benar-benar jatuh cinta padaku. Ternyata kekesalanku dulu tak berguna. I am jealous for nothing!" ucap Arsen membuat tawa yang ada di dalam ruangan itu pecah.
tbc