
Sesuai dengan yang dikatakan Bella, Dimas memang lebih membela Wanita itu dibandingkan Tsania istrinya sendiri. Dimas bahkan, mengancam akan menceraikannya kalau masih mau membuat keributan di kantor dan kalau dia berani mengadu ke mamanya
"Sialan, brengsek!" Tsania, meluapkan kemarahannya dengan memukul-mukul alat kemudi dengan sangat keras.
"Tidak boleh dibiarkan ini. Aku harus mengadu ke mama Meta," ucap Tsania dengan rahang mengeras.
"Tapi, kalau aku mengadu, nanti dia benaran menceraikanku bagaimana? Masa aku secepat ini jadi janda? Aku nanti akan ditertawakan sama Aozora dong," Tsania mulai bimbang.
"Arghhh, aku harus apa sekarang!" Tsania kembali memukul keras kemudi mobilnya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Sementara itu, di Dirgantara Corporation atau tidak lain, perusahaan peninggalan almarhumah Sekar, yang tidak lain mamanya Aozora, tampak Aditya mendatangi bagian keuangan untuk menanyakan perihal uang jatah bulanan istri dan anaknya Tsania.
"Selamat pagi, Pak Aditya!" seorang pria yang belum terlalu tua langsung menyapa begitu melihat kehadiran Aditya, pria paruh baya yang masih menjadi pimpinan di Dirgantara corporation.
"Selamat pagi!" sahut Aditya dengan gaya angkuhnya.
"Tumben pagi-pagi, Pak Aditya datang ke sini. Apa ada sesuatu yang bisa aku bantu?" tanya pria yang merupakan kepala di devisi keuangan.
"Aku datang ke sini, pasti ada sesuatu yang penting. Aku ingin tahu, kenapa jatah bulanan istri dan putriku Tsania belum kalian transfer ke rekening mereka? Aku ingin kamu secepatnya urus masalah ini!" titah Aditya dengan nada tegas.
"Maaf, Pak Aditya, Bu Donna dan putri anda Mbak Tsania, mulai dari bulan ini sampai seterusnya memang sudah tidak akan mendapatkan jatah bulanan lagi. Dan ini sudah menjadi ketentuan yang tidak bisa diganggu gugat,"
Alis Aditya sontak bertaut tajam, merasa bingung dengan jawaban pria bernama Dito itu.
"Maksud kamu apa? sejak kapan ada perubahan peraturan? Aku sama sekali tidak pernah membuat peraturan seperti itu! Paham kamu! Sekarang aku tidak mau tahu ... Kamu transfer sekarang bagian istri dan anakku!" bentak Aditya seraya memasang wajah galaknya.
"Maaf, Pak Aditya. Memang Bapak tidak pernah merubah peraturan. Tapi, semua ini atas perintah Ibu Aozora, selaku pemilik perusahaan. Jadi kami tidak bisa membantah perintah beliau,"
Maya Aditya membola mendengar ucapan yang baru saja terlontar dari mulut Dito. Pria paruh baya itu berdecak dan menggeleng-gelengkan kepala, tidak percaya.
"Bilang apa kamu barusan? Perintah Zora selaku pemilik perusahaan ini? Kamu ngigau atau bagaimana sih? Jelas-jelas perusahaan ini tidak ada sangkut pautnya dengan Aozora. Perusahaan ini sudah dialihkan atas nama Tsania. Jadi, sebagai pemilik perusahaan, putri saya berhak dengan keuntungan yang di dapat oleh perusahaan," tegas Aditya dengan tatapan berkilat-kilat penuh amarah.
"Sekali lagi maaf, Pak. Aku tidak mungkin salah. Seminggu yang lalu, Ibu Aozora sendiri yang datang ke sini bersama Pak Danuar, menunjukkan bukti sah kalau perusahaan ini atas nama Ibu Aozora. Dan semua dokumen yang ditunjukkan oleh ibu itu, sah.
"Kamu jangan bicara sembarangan ya! Kalau tidak aku bisa merobek mulutmu!" Aditya mencengkram kerah kemeja Dito dengan mata yang berkilat-kilat penuh amarah.
"Pak Aditya, sekali lagi aku katakan, aku tidak bicara sembarangan. Kalau Bapak tidak percaya, Bapak bisa tanya sendiri kebenarannya pada Ibu Aozora!" Dito terlihat tetap tenang.
Melihat ketenangan Dito dan nada bicara pri itu sangat meyakinkan, perlahan-lahan Aditya menjauhkan tangannya dari cengkraman di kerah kemeja Dito.
Tanpa berpikir panjang, ia pun langsung merogoh sakunya kemudian meraih ponselnya keluar.
"Halo, Tuan Aditya! Sepertinya ada sesuatu yang membuat anda kaget hari ini, makanya anda menghubungi saya? Apa itu berarti sekarang Pak Dito ada bersama anda sekarang?" terdengar suara dingin Aozora dari ujung sana. Bisa dipastikan kalau bibir wanita itu sedang menyunggingkan senyum sinisnya.
" Bagaimana kamu tahu kalau aku bersama dengan Dito sekarang? apa itu berarti yang dikatakan Dito benar kalau kamu yang meminta bagian keuangan untuk tidak memberikan jatah bulanan untuk mama dan adikmu?"
Terdengar kekehan kecil dari Aozora. "Menurut anda bagaimana?" Aozora bertanya balik.
"Berarti benar. Aku tahu Zora kalau perusahaan Arsen memiliki saham di perusahaan ini, tapi bukan berarti kamu harus melewati batasanmu. Kamu tidak punya hak sama sekali untuk membuat peraturan di perusahaan ini!" Aditya mulai meninggikan suaranya.
Tawa Aozora sontak pecah. "Apa anda yakin kalau aku tidak punya hak? Apa Pak Dito tidak mengatakan sesuatu pada anda?"
"Dia memang mengatakan kalau perusahaan ini sekarang milikmu. Kamu kira aku akan percaya? Tidak sama sekali! Karena jelas-jelas perusahaan ini sudah dialihkan atas nama Tsania," Aditya berbicara dengan sangat yakin.
Suara tawa Aozora semakin pecah, membuat kening Aditya berkerut.
"Please deh Tuan Aditya yang terhormat. Jangan terlalu naif. Dari dua bulan yang lalu semenjak anda dan Tsania putri anda menandatangani berkas-berkas yang aku kasih, perusahaan itu sudah kembali ke pemilik aslinya," ucap Aozora di sela-sela tawanya.
"Apa!" pekik Aditya dengan mata membesar dan tangan yang bergetar, hingga membuat handphone di tangannya hampir terjatuh.
"Jangan kaget begitu dong, ah! Please bersikap biasa saja!" ledek Aozora.
"Ja-jadi yang kami tanda tangani bukan surat perjanjian, tapi ...." Aditya menggantung ucapannya karena tenggorokannya terasa tercekat, sulit untuk mengeluarkan kalimat yang hendak dia ucapkan.
"Emm, bagaimana ya? Ingin aku mengatakan tidak, tapi kenyataannya yang anda katakan tadi memang benar. Itu surat persetujuan pengalihan hak milik," nada bicara Aozora masih terdengar seperti sedang mengejek.
"Zo-Zora, kenapa kamu tega berbuat seperti ini pada papamu sendiri?" suara Aditya terdengar lirih.
"Stop menyebut anda papaku! Berkali-kali sudah aku katakan kalau kita sudah tidak punya hubungan lagi!" suara Aozora yang tadinya masih terkontrol kini sudah tidak bisa lagi. Suara wanita itu terdengar sudah meninggi.
"Oh ya, apa tadi? Anda masih bisa berbicara masalah tega? Apa anda punya kaca? Kalau punya silakan ngaca! karena anda, yang katanya seorang papa justru bisa lebih tega. Mau aku baberkan apa saja hal paling tega yang pernah anda lakukan?" Aozora berhenti sesaat untuk mengatur napasnya. Sementara Aditya hanya bisa diam seribu bahasa.
"Ketika Anda menyelingkuhi mamaku, apa kamu kira hanya mama saja yang terluka? Tidak sama sekali Tuan Aditya. Karena aku juga terluka di sini. Mentalku hancur. Kalau orang lain mungkin aku tidak akan sehancur itu, tapi ini anda ... pria yang mengaku sebagai seorang ayah. Mentalku sudah anda hancurkan dengan perselingkuhan anda, tapi anda dengan beraninya masih membawa selingkuhan anda ke rumah serta anak hasil Zinah itu. Dan apa perlu aku ingatkan lagi bagaimana sikap tega anda selama wanita itu ada di rumah? biar aku jejerkan satu-persatu. Mulai dari anda yang tidak pernah membelaku, sampai anda tega menjualku untuk membayar utang-utang yang anda dan istri anda buat," Aozora benar-benar sudah tidak bisa menahan diri untuk meluapkan amarah yang berusaha dia pendam selama ini. Bahkan dari suara wanita itu yang bergetar, bisa dipastikan kalau dia sedang menangis sekarang.
"Maafkan Papa, Nak! Papa memang __"
"Stop! Aku muak mendengar kata maaf yang keluar dari mulut anda! Selama dua bulan ini, aku masih baik memberikan anda dan keluarga anda yang tidak tahu diri itu, kesempatan untuk menikmati hasil perusahaan. Tapi, kesempatan kalian sudah selesai. Tapi, anda tenang saja, aku tidak sejahat kalian, kalau anda mau, anda masih bisa tetap bekerja di perusahaan, tapi bukan sebagai pimpinan lagi, tapi staf biasa. Karena aku tahu, kalau anda tidak memiliki penghasilan, istri anda tidak akan bisa bertahan hidup. Tapi, aku minta dalam minggu ini aku mau rumah peninggalan almarhum mamaku, kalian kosongkan!" Aozora berbicara dengan sangat tegas, lantang dan tidak terbantahkan.
"Zo__" Aditya masih ingin berbicara, tapi Aozora sudah lebih dulu memutuskan panggilan dari ujung sana.
tbc
Maaf, kalau kemarin tidak up. Itu karena aku sedang tidak enak badan 🙏🙏