
Arsen dan Aozora baru saja selesai memperkenalkan Samudera, sebagai pimpinan perusahaan mewakili Aozora. Samudra adalah salah satu pria yang selama ini ditunjuk Arsen untuk melindungi istrinya itu. Semua karyawan di perusahaan itu, tentu saja menyambut baik, khususnya para kaum hawa yang matanya melotot melihat ketampanan pria yang memiliki paras tampan, dan bertubuh tinggi itu.
"Apa Tian, Arsen dan Nona Aozora benar-benar serius mempercayakan perusahaan ini di bawah kepemimpinanku?" Samudra kembali mengulangi pertanyaan yang memang sudah berulang kali dia tanya dari tadi.
"Mau sampai berapa kali kamu menanyakan hal itu, Sam? Aku benar-benar bosan mendengarnya," cetus Arsen kesal.
"Ya, aku hanya mau memastikan Saja. Takutnya Tuan dan Nona tiba-tiba berupa pikiran. Kan tidak akan ada yang tahu isi hati seseorang, Tuan," sahut Samudra dengan sopan.
"Kami benar-benar mempercayakan perusahaan ini padamu, Kak Sam. Aku harap Kakak tidak mengecewakan kepercayaan kami," kali ini Aozora yang buka suara, menjawab keraguan pria yang memang sudah dia anggap sebagai kakaknya itu.
"Baiklah! Sekarang aku sudah tenang. Tenang saja, aku akan mengelola perusahaan ini sampai maju dan bisa disejajarkan dengan perusahaan-perusahaan besar lainnya," Samudra berbicara dengan penuh keyakinan.
"Kalau begitu kami pamit dulu. Aku masih harus ke perusahaanku sendiri!" Arsen dan Aozora beranjak dari setelah Samudra menganggukkan kepala, mengiyakan.
"Baiklah, mari kita bertempur Samudra. Kamu harus benar-benar bisa memajukan perusahaan ini dan menjadikannya perusahaan yang besar juga," Ucap Samudra, lebih tepatnya dia berucap pada dirinya sendiri.
Tanpa dia sadari, ternyata dari arah yang tidak terlalu jauh ada dua pasang mata yang sudah memantau dari tadi. Pemilik dua pasang mata itu tidak lain adalah Aditya dan Dona istrinya.
"Sialan! Aku kira dia sendiri yang akan memimpin perusahaan. Ternyata dia mempercayakan pada orang lain, yang sama sekali tidak ada hubungannya dengan dia," umpat Aditya dengan mata memerah, marah. Siapa lagi yang dia maksud dengan 'dia' itu kalau bukan Aozora.
"Putrimu itu benar-benar brengsek dan tidak berguna sama sekali. Dia lebih memilih orang lain dibanding Papanya sendiri. Dia hanya bisa bersembunyi di balik ketiak Arsen. Benar-benar tidak berguna!" Dona ikut mengoceh, memprovokasi suaminya agar semakin marah.
"Tapi sepertinya aku pernah melihat pria itu?". Dona mengernyitkan keningnya.
Aditya sontak menoleh, menatap dengan tatapan penuh tanya. "Kamu pernah melihatnya?" Dona, menganggukkan kepala, mengiyakan.
"Dimana?" tanya Aditya.
"Kalau tidak salah, dia itu hanya seorang pengawal yang diminta Arsen untuk melindungi Aozora,"
Rahang Aditya sontak mengeras mendengar jawaban sang istri. Tangannya bahkan terkepal kencang, pertanda kalau kemarahan pria paruh baya itu sudah sampai di ubun-ubun.
"Jadi mereka mempercayakan perusahaan ke orang yang hanya seorang pengawal? Apa Aozora benar-benar mau perusahaan ini bangkrut? aku benar-benar tidak bisa terima ini!" napas Aditya memburu. Manik mata pria itu terlihat berkilat-kilat penuh amarah.
"Aku pun tidak terima, Pa. Tapi apa yang bisa kita lakukan? Aozora ada di bawah pengawasan Arsen!" ucap Dona, kesal.
"Tahu begini, aku menyesal sudah memaksa Aozora menikah dengan Arsen. Harusnya Tsania yang kita nikahkan. Setidaknya, Tsania itu penurut tidak seperti Aozora yang pembangkang. Ini benar-benar salah kamu!" Aditya mulai menyalahkan Dona.
"Hei, kenapa kamu menyalahkanku? emangnya aku tahu kalau Arsen akan bisa sembuh? ibu mana yang mau anaknya menikahi dengan seorang vegetatif coba? Saat itu aku tidak mau anakku menikahi laki-laki yang bisa dipastikan lumpuh. Kalau aku tahu dia bisa sembuh secepat ini, ya akupun pasti minta Tsania yang menikah dengan Arsen," Dona terlihat marah. Dia tidak mau disalahkan oleh suaminya itu.
"Seandainya, dulu pun kita meminta Tsania menikah dengan Arsen, aku pun tidak yakin kalau pria itu bisa menerima Tsania setelah bangun dari komanya. Bisa saja begitu bangun dari komanya, Tsania akan langsung diusir. Kamu kan tahu sendiri bagaimana Tsania. Dia itu tidak seperti Zora yang __"
"Hei, kamu menyepelekan Tsania?" Dona dengan cepat memotong ucapan suaminya. Dia benar-benar terlihat kesal, karena ucapan suaminya yang secara tidak langsung sudah meremehkan putri mereka sendiri.
"Aku tidak menyepelekan, Tsania. Tapi yang aku katakan memang fakta. Dia terbiasa manja sampai tidak melakukan apapun. Kamu lihat sendiri kan bagaimana dia sekarang? Bahkan untuk membuat Dimas semakin mencintainya saja, tidak bisa. Sekarang dia diselingkuhi dan terancam diceraikan. Dia terlalu menyepelekan semuanya, dan ini semua gara-gara kamu!" Aditya berbicara dengan sangat berapi-api.
"Hei, stop menyalahkanku! Kamu lupa kalau kamu juga memanjakannya, hah?
Aditya dan Dona kini mulai kembali bersitegang. Mereka berdua saling menatap dengan tatapan sengit, sama-sama tidak mau disalahkan.
"Dia benar-benar seperti kamu yang tidak bisa melayani suaminya. Kamu sangat berbeda dengan Sekar yang walaupun memiliki harta kekayaan, tapi tetap mengingat kewajibannya sebagai istri. Sedangkan kamu, hanya tahu berfoya-foya saja! kamu dan Tsania sama-sama tidak berguna!" Aditya kembali melontarkan kata-kata pedasnya.
"Apa? Kamu bilang aku tidak berguna, hah? Sekarang saja kamu bilang aku tidak berguna dan memuji-muji istrimu yang sudah dimakan cacing itu. Kalau istrimu itu memang, istri idaman kenapa kamu malah lebih memilih selingkuh denganku, hah? Dulu saja kamu yang bilang, kalau aku tidak perlu melayanimu dalam segala hal, yang penting aku bisa tetap memuaskanmu di ranjang. Kenapa sekarang kamu malah mengungkit-ungkit kalau aku yang tidak becus jadi seorang istri?" mata Dona kini berkilat-kilat penuh amarah.
"Arghhhhhh, semuanya benar-benar hancur!" Aditya menggusak rambutnya dengan kasar
Raut wajah pasangan suami-istri paruh baya itu kini terlihat sangat kusut. Mereka benar-benar menyesali hal yang tidak mungkin bisa mereka perbaiki lagi.
Cukup lama mereka berdua berdiam, merutuki kebodohan mereka dan memikirkan bagaimana caranya perusahaan yang ada di depan mata mereka itu, bisa kembali ke tangan mereka.
"Hmm, sepertinya aku punya rencana!" celetuk Dona Tiba-tiba. Raut wajah wanita itu terlihat berbinar karena yakin kalau idenya sekarang sangat brilian.
"Rencana apa? Jangan macam-macam lagi!" Aditya terlihat pesimis walaupun dia belum tahu apa rencana istrinya itu, mengingat kegagalan rencana mereka selama ini.
"Kamu jangan khawatir, kali ini aku yakin akan berhasil," Dona tersenyum, misterius dan licik.
"Ya udah, stop berteka-teki! katakan apa rencanamu!"
"Hmm, kita manfaatkan saja lagi Tsania. Biarkan dia menggoda pengawal kepercayaan Arsen dan Aozora tadi, seperti saat dia menggoda Dimas dulu. Aku yakin kalau pria itu tidak akan bisa mengabaikan pesona tubuh Tsania. Semua laki-laki kalau disuguhkan hal seperti itu, pasti akan tergoda kan? Nah, setelah si pengawal itu tergoda, Tsania bisa membujuk pria itu untuk berkhianat pada Aozora, bagaimana?" Dona terlihat semringah, merasa kalau idenya kali ini tidak akan gagal.
"Kamu sudah gila ya! Tsania sudah menikah dengan Dimas sekarang. Bagaimana mungkin kamu meminta putrimu sendiri untuk menggoda laki-laki lain?" Aditya berdecak, seraya menggeleng-gelengkan kepalanya. Dia merasa kalau ide isterinya itu benar-benar gila.
"Alahhhh, Kamu tidak usah munafik deh, Pa. Dimas saja bisa selingkuh, kenapa Tsania tidak boleh? Perselingkuhan Dimas bisa dijadikan alasan kenapa Tsania selingkuh kan? Lagian, aku tidak yakin lagi, kalau Dimas akan berhasil menguasai perusahaan, Arsen. Karena Arsen pasti akan selalu maju beberapa langkah dari menatumu yang tidak berguna itu. Kita itu harus antisipasi, dengan membuat cadangan pria untuk Tsania, jaga-jaga kalau nanti Dimas dikeluarkan dari perusahaan Arsen." tutur Dona panjang lebar, tanpa jeda.
Tbc