Rahasia Suami Lumpuhku

Rahasia Suami Lumpuhku
Penyesalan Meta


"Kenapa kamu jadi diam, Tsania? Kamu tidak berpikir kalau kamu merebut Dimas dari Aozora kan? Sekali lagi Mama tekankan, kamu itu tidak merebut siapapun!" tegas Meta.


"Tapi, Ma__"


"Tidak ada tapi-tapi. Yang jelas kamu jangan pernah mengira dirimu itu merebut Dimas darinya. Justru Mama sangat berterima kasih padamu karena kamu sudah menyelamatkan muka kami dari rasa malu saat itu dengan mau menggantikan kakakmu yang murahan dan gila harta itu. Kalau tidak ... Mama tidak bisa membayangkan akan mama letakkan di mana muka mama ini kalau sampai tidak ada pernikahan hari itu!" lanjut Meta lagi.


Tsania lagi -lagi.menggigit bibir bawahnya. Untuk sepersekian detik wanita itu diam. Namun detik berikutnya dia pun menggeleng-gelengkan kepalanya.


"Itu tidak benar, Ma. Kak Aozora sama sekali tidak membatalkan pernikahan itu. Tapi kamu lah yang membuat Kak Zora mundur. Kak Aozora tidak licik dan mata duitan seperti yang Mama katakan tadi. Dia itu sebenarnya adalah korban. Dia sangat menyayangi mama makanya dia tidak melakukan pembelaan diri saat itu. Dia membiarkan dirinya mama benci, tanpa mau menyangkal tuduhan Mama atasnya. Padahal sebenarnya, dia bisa dengan mudahnya bisa menghancurkan pesta pernikahanku dengan Kak Dimas saat itu," Tutur Tsania panjang lebar tanpa jeda. Tsania akhirnya tidak bisa lagi menahan dirinya untuk tidak mengungkapkan kebenarannya. Dia benar-benar tidak sanggup melihat kebencian di mata mama mertuanya itu pada Aozora. Padahal jelas-jelas Aozora tidak seperti yang disebutkan oleh mama mertuanya itu.


Mendengar ucapan yang baru saja terlontar dari mulut Tsania, membuat Meta mengernyitkan keningnya, bingung.


"Katakan yang jelas, Nia! Mama benar-benar tidak mengerti,"


"Sebenarnya aku dan Kak Dimas sudah lama selingkuh di belakang Kak Aozora, Ma," celetuk Tsania seraya menundukkan kepalanya.


"Jangan semakin tidak jelas, Nia. Mama masih gagal paham. Jangan mencoba-coba untuk berbohong!"


Tsania kembali mengangkat wajahnya dan akhirnya menceritakan apa yang sebenarnya terjadi dari awal sampai akhir tanpa mengurangi maupun menambahi sedikitpun. Dia juga menceritakan alasan Aozora menikah dengan Arsen karena ingin membayar hutang perusahaan mamanya yang sangat besar pada perusahaan Arsen. Padahal hutang itu dilakukan oleh papanya dan Dona mamanya.


"Seperti itu, Ma. Jadi Kak Aozora tidak salah sama sekali. Dia adalah korban di sini!" ucap Tsania mengakhiri ceritanya.


"Kenapa kalian bisa setega itu, Nia? Kenapa juga kalian bisa membohongi Mama. Mama saat itu sudah menuduh Aozora yang macam-macam dan bahkan sampai memakinya. Mama sangat membencinya sampai sekarang. Tapi ternyata, benci mama padanya tidak beralasan dan ini semua karena fitnah kalian! Seharusnya mama tidak semudah itu percaya pada kalian!" ucap Meta dengan suara lirih dan penuh rasa bersalah.


"Maafkan Nia, Ma. Itu semua karena Mamaku yang serakah. Dia sangat tidak suka melihat Kak Aozora karena Kak Aozora lahir dari wanita yang sangat dia benci. Wanita yang dia anggap pernah merebut papa darinya. Karena itu, Mama tidak ingin melihat Kak Aozora bahagia. Makanya dia memintaku untuk menggoda Kak Dimas. Sekarang Nia sudah menyadari kalau ternyata selama ini mamaku hanya memanfaatkanku demi balas dendamnya dan obsesinya menguasai kekayaan peninggalan almarhumah namanya Kak Zora. Mama beranggapan kalau kamu kaya, kamu akan dianggap. Kalau kamu tidak punya apa-apa kamu akan dipandang sebelah mata," terang Tsania lagi.


"Sekarang, semuanya terserah Mama. Aku benar-benar sudah capek hidup dalam kepalsuan. Aku sudah tidak mau dimanfaatkan mamaku lagi, Ma. Sekarang aku memilih untuk menyerah dengan pernikahan ini. Bukan karena aku tidak mencintai Kak Dimas, bukan! Tapi karena sekarang aku sudah menyadari, kalau apapun yang diawali dengan hal buruk, hasilnya akan buruk. Makanya Nia tidak mau menyalahkan Kak Dimas maupun keadaan. Cuma hanya satu yang aku minta dari Mama, tolong maafkan aku dan jangan membenciku. Karena sekarang aku hanya ada Mama yang bisa mengerti aku. Sementara mamaku sendiri tidak peduli denganku sama sekali. Yang dia pedulikan hanya bagaimana caranya rasa sakit hatinya terbalas dan bagaimana bisa mendapatkan kekayaan. Dia tidak peduli denganku dan dia tidak pernah puas, walaupun Tante Sekar sudah tiada," Tsania kini sudah menangis sesunggukan.


Sementara itu, Meta hanya diam saja. Tidak tahu mau mengatakan apa. Sekarang yang ada dipikirannya, itu rasa bersalah pada Aozora yang dulu sudah dia maki-maki dan dia katain wanita murahan.


"Ya Tuhan. Apa yang sudah aku lakukan? Aku membenci seseorang yang tidak layak untuk dibenci. Aku juga sudah memakinya dan menyebutnya murahan," batin Meta dengan raut wajah memelas. Wanita paruh baya itu juga tiba-tiba teringat dengan ucapan Amber yang mengatakan dia akan menyesal kalau tahu yang sebenarnya.


Sementara sekarang, kalau ditanyakan bagaimana perasaannya pada Tsania, jujur saja, wanita itu pun sudah mulai sayang dengan wanita itu. Apalagi mengingat kedekatan mereka belakangan ini di saat menantunya itu memilih untuk berubah dan mencoba belajar untuk menjadi istri yang baik.


Bagaimana tidak? Kedekatan mereka belakangan ini bukan terlihat seperti mama mertua dengan menantu, tapi lebih ke arah ibu dan anak.


"Ma, apa Mama membenciku?" tanya Tsania dengan lirih, karena tidak mendengar sedikitpun ucapan yang keluar dari mulut mama mertuanya itu.


Tbc